
Follow IG _mhemeyyy_
“Bu, mobil itu nabrak!” pekik Wina terkejut.
Kirana tahu, dia juga tengah memperhatikan mobil itu. Aneh, pikirnya. Sudah tahu di depan banyak rambu-rambu persimpangan, kenapa tidak mengurangi kecepatan. Untung saja dirinya tadi masih bisa menghindar, jika tidak mungkin mobilnya sudah tertabrak.
“Kalau tadi dia nabrak kita, sudah pasti kita akan terseret sampai ke sana,” kata Kirana memprediksi.
Keduanya bersyukur karena masih dilindungi Tuhan. Mobil kembali melaju memasuki perumahan mewah, tak sampai sepuluh menit mereka telah sampai di rumah.
“Kamu kenapa?” tanya Kirana melihat Wina bersandar di mobil dengan tangan yang menyentuh dadanya.
“Masih kaget, Bu.”
Kirana mengangguk dan memerintahkan Wina untuk masuk mengambil minum. Biar pelayan lain saja yang menurunkan belanjaan di mobil.
Berpapasan dengan Massayu, wanita itu bertanya heran melihat tingkah pembantu adik iparnya.
“Dia kenapa? Aneh sekali,” komentar Massayu.
“Ada kecelakaan di depan, persimpangan jalan. Mobil Alphard yang hampir menyenggol mobilku juga kalau tadi aku nggak menghindar. Kayaknya pengemudi itu mabuk atau apalah, soalnya bawa mobilnya ugal-ugalan.”
“Pantas, tapi kalian oke, kan? Nggak ada yang terluka, kan?”
“Enggak, mungkin sedikit syok saja lihat kejadian di depan mata.”
Setelah bicara dengan Massayu, dia pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Lalu menemui baby Ricky yang tengah bermain dengan Diah di ruang keluarga.
Sore harinya ada paket yang datang atas nama suaminya. Kirana pikir itu adalah pesanan wine yang dikatakan sebelumnya, ternyata bukan.
Kirana mengernyit heran, dia bawa kotak itu ke arah ruang keluarga tanpa membukanya.
“Nggak tahu dari siapa. Nggak ada nama pengirimnya,” katanya saat Diah bertanya. “Kupikir ini pesanan wine, soalnya tadi Kendrick bilang itu sih.”
“Sepuluh botol wine tadi sudah diantar. Mama bayar juga,” jawab Diah.
“Oh, sudah ya? Aku nggak tahu, Ma.” Kirana tersenyum, dia izin kembali ke kamar dan mengambil uang yang diberikan Kendrick.
Kembali lagi ke ruang keluarga, Kirana memberikan tiga gepok uang ke arah mertuanya. Awalnya Diah tidak mau mengambil uang itu, nanti dipikir perhitungan atau minta ganti rugi pada anak dan menantu, tetapi Kirana memaksa dan mengatakan sebenarnya Kendrick sudah menitipkan uang itu untuk membayarnya.
Pukul setengah lima Kendrick pulang, Kirana menyerahkan paket untuk suaminya. Saat pria itu bertanya, dia hanya mengangkat bahunya tak tahu. Hanya ada nama penerima tanpa ada nama pengirimnya.
“Siapa yang antar?”
“Ojek online.”
Kendrick keluar ke balkon dan mengernyit menatap kotak segi empat di depannya. Penasaran dengan isinya, dia buka dan terkejut melihat apa yang ada di dalam sana.
Umpatan lolos dari bibirnya membuat sang istri yang ada di dalam kamar bertanya, apa yang terjadi. Namun, dia tidak mengatakan apa pun karena khawatir istrinya akan histeris.
Kendrick menutup kembali paket itu dan turun ke bawah untuk membuangnya. Dia meminta penjaga untuk memutar rekaman saat ada ojek online yang mengantar paket kedua. Dia memotret pengantar paket itu, dia yakin itu bukanlah ojek online seperti yang dikatakan sang istri.
“Sialan!”
...✿✿✿...
Pukul tujuh, semua keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga. Termasuk Kirana yang malam ini tampil dengan riasan natural untuk menyambut sahabat suaminya. Baby Ricky mengenakan pakaian warna senada dengan ayahnya.
Tak lama Wina memberitahu bahwa tamu sudah ada di ruang tamu. Kirana, Kendrick datang menghampiri dengan baby Ricky dalam gendongan sang ayah.
Ke-empat pria tampan itu datang dengan pakaian kasual, menambah kesan terlihat muda dalam pandangan.
Pesona para pria bastard itu memang tidak terelakkan. Sungguh menggoda untuk dilewatkan!
Termasuk oleh mata Kirana yang dimanjakan melihat kumpulan pria tampan rupawan itu.
Bahkan penampilan Indra saja tampak sangat berbeda ketika pria itu mendampingi Kendrick sehari-hari.
Sean, Alfred, Indra, Willy memberikan selamat kepada Kirana. Namun, Kendrick melarang saat sang istri akan menerima uluran tangan para sahabatnya.
“Tidak perlu bersalaman,” kata Kendrick dengan posesif.
“Kalau begitu biarkan kami berpelukan saja!” jawab Sean.
“Lakukan, maka kau akan pulang dari sini langsung ke rumah sakit.”
Jawaban Kendrick membuat tawa ke-empat pria itu meledak. Akhirnya pria itu menemukan pawangnya juga.
“Oh, menyeramkan!” ledek Alfred.
“Lihatlah! Dia benar-benar menyebalkan. Kami sudah bawa hadiah, sebentar lagi pasti datang.”
“Memang apa yang kalian bawa?” tanya Kendrick datar.
“Rahasia!” jawab ke-empat pria itu kompak membuat Kendrick mendengus pelan.
Para pria tampan itu terpesona dengan baby Ricky yang tampak menggemaskan. Mereka ingin mengendong bayi gembul itu, tetapi Kendrick menolaknya dengan alasan pria itu tidak berpengalaman.
Namun, dengan hati-hati Kirana mengulurkan baby Ricky ke arah Indra yang langsung disambut dengan gembira. Para pria itu lebih tertarik menggoda sang bayi dibandingkan harus berurusan dengan ayahnya yang menyeramkan.
Mereka bergantian mengendong baby Ricky hingga tiba pada Sean yang belum melakukannya. Pria itu menolaknya dengan alasan dia tidak suka dengan bayi.
“Aku hanya suka membuatnya, tapi aku tidak suka dengan bayi yang merepotkan,” kata Sean dengan wajah datar, seperti ada yang disembunyikan.
Baik Kendrick ataupun yang lain tidak memaksa, mereka seperti memahami sesuatu.
Tak lama Diah dan Hanin datang menyapa. Para pria itu tampak sudah tidak asing dan cukup akrab dengan orang tua itu. Lalu disusul Massayu dan suaminya beserta Lina dan Rina.
“Anak tiri Kendrick cantik dan menggemaskan,” bisik Alfred di telinga Willy.
Pria itu menatap sahabatnya dengan intens sebelum berkata, “Kau jangan jadi pedofil!”
Alfred menggeleng dan menatap tajam mendengar ucapan sahabatnya. “Aku hanya bilang dia cantik dan menggemaskan, bukan berarti aku pedofil. Sialan!”
“Kalian bisik-bisik apa?” tanya Sean melihat dua sahabatnya tampak aneh.
“Alfred menyukai anak tiri Kendrick,” kata Willy membaut Sean hampir mengumpat keras kalau saja mulutnya tak langsung dibekap oleh Alfred.
“Gila! Jangan didengarkan. Kita bisa dibunuh Kendrick kalau ketahuan,” kata Alfred dengan tatapan memperingati.
Tiga pria itu memfokuskan pada sosok Rina yang kini mulai tumbuh remaja. Sangat cantik dan terlihat imut.
“Kalian belum ada yang menikah?” tanya Massayu. “Ah, aku lupa, kalian kan memang kumpulan para bastard yang hanya suka bermain-main,” lanjutnya dengan sarkas.
“Jangan menuduh sembarangan! Aku pria baik-baik,” jawab Indra tidak terima. Dia memang tidak suka bermain dengan wanita seperti Sean dan Alfred. Namun, karena dia berada di circle mereka maka sedikit banyak pikiran bahwa dia sama brengseknya pasti ada.
“Aku juga! Hanya mereka berdua yang brengsek. Itu sudah jangan ditanya, mereka memang bajingan sejati,” ujar Willy menunjuk ke arah Sean dan Alfred.
Sean dan Alfred yang ditunjuk tampak memelototi Willy. Dua pria itu bahkan mengepalkan tinjunya, siap menghajar sahabatnya yang kurang ajar.
“Hei, hei, jangan lupa. Kendrick juga pria yang termasuk dalam kategori brengsek,” kata Sean membela diri.
“Tapi aku sudah tobat, jadi jangan lagi membawa namaku! Aku pria brengsek yang sudah memiliki istri dan anak,” bela Kendrick.
Hasilnya para pria itu saling menyerang dan menunjukkan seberapa brengseknya mereka di masa lalu.
Gelak tawa dari semua orang membuat suasana semakin riuh.
“Mama, brengsek itu apa?” tanya Lina membuat suasana seketika hening.
Gadis cantik itu mendapati tatapan semua orang yang mengarah padanya. Mereka lupa bahwa ada anak di bawah umur yang ada di antara mereka. Pembicara mereka terlalu frontal untuk anak seusia Rina dan Lina yang akan merekam dan bertanya.
“Sudah jangan didengarkan. Kalian makan saja dulu minta ditemani Mbak Wina. Nanti habis makan terus tidur, mengerti?”
Rina mengangguk dan membawa adiknya mencari Wina. Lalu Diah membuka suara, “Jika ada anak, baik pertengkaran atau kata-kata kasar setidaknya tahan dulu. Lihat, karena kalian cucu polosku harus mengucapkan kata-kata buruk itu.”
Para pria itu menunduk seperti seekor kucing yang takluk pada induknya. Mereka mengucapkan kata maaf berulang kali sambil melemparkan candaan.
“Jangan marah-marah, Tante. Itu akan mengurangi kecantikan yang tante miliki.”
“Benar itu. Tante memang yang tercantik dan terbaik!”
“Dasar perayu ulung, jangan menggoda wanita tua ini! Tidak sopan!” ujar Hanin tidaka terima. Dia seperti kembali pada usia muda dulu yang posesif dan pencemburu.
“Astaga!” Diah menepuk bahu suaminya.
Canda tawa kembali memenuhi ruang tamu. Mereka sudah seperti keluarga besar yang tengah berkumpul. Tidak ada batasan karena selama ini mereka sudah saling mengenal lama.
Sikap Diah dan Hanin yang baik membuat para pria itu seperti memiliki orang tua kedua.
Saat mereka tengah tertawa dengan guyonan yang dilemparkan, terdengar suara bel berbunyi. Mereka menatap ke arah pintu, lalu Kirana mengambil alih dan menitipkan baby Ricky pada suaminya.
Kirana berjalan membuka pintu, saat pintu terbuka dia terkejut.
“Kamu ....”
To Be Continue ....