
Sesuai janjinya, keesokan pagi setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah. Mereka datang ke hotel milik Kendrick dan memperkenalkan sebagai istri.
Kendrick mengumpulkan semua karyawan di sebuah ruangan rapat, jika dilihat dari ukuran ruangan yang luas.
“Dia Kirana, istriku. Sekarang sudah jadi nyonya Kendrick, pernikahan kami masih belum dirayakan karena istriku tengah mengandung. Jadi, mulai sekarang lihat wajahnya baik-baik dan turuti semua perintahnya seperti aku yang mengatakannya,” ujar Kendrick, tegas dan penuh wibawa.
“Kami mengerti, Pak,” sahut mereka serempak dengan sopan. Namun masih terdengar bisik-bisik penuh keheranan.
Kirana tersanjung, status mereka yang masih tersembunyi membuat beberapa orang terkejut dengan pengakuan tiba-tiba tersebut. Namun sambutan baik dan ucapan selamat banyak diterima dari karyawan yang bekerja di sana.
Hotel ini memang cukup terkenal, bintang lima dan berada di lokasi yang memang sangat strategis. Entah dua atau tiga tahun yang lalu, dia pernah menginap di hotel ini sewaktu menemani Zidan datang di pesta yang diadakan kantor.
“Selamat, Tuan Ken, akhirnya Anda memiliki Nyonya Kirana.” Indra, asisten sekaligus kepercayaan yang mengurus hotel ini. Pria serba bisa yang selalu dapat diandalkan dalam hal apa pun.
“Makasih, Indra,” sahut Kirana dengan senyum merekah.
“Jangan suka tersenyum di depan pria lain, Kiran.” Kendrick menarik pinggang sang istri dan menunjukkan kepemilikannya.
“Ah, bos memang posesif sekali,” gerutu Indra dengan berani.
“Diam kamu!”
Setelah sambutan baik yang diberikan, Kendrick mengajak Kirana masuk ke dalam ruangan. Pria itu mengabaikan para wanita yang terkagum dengan sikapnya.
Pria petualang yang suka berganti wanita akhirnya takluk oleh seorang wanita biasa. Bukan selebriti, model atau bahkan pebisnis sukses. Hanya wanita sederhana dengan sikap ramah dan senyum yang begitu manis juga meneduhkan.
Sangat jelas berbeda dengan wanita-wanita yang pernah dikencani oleh pria itu, yang kebanyakan memiliki sikap sombong dan arogan karena merasa istimewa.
Kendrick menyodorkan sebotol air yang sudah dibuka ke arah sang istri. Sikap yang sederhana tetapi terlihat sangat manis, bahkan untuk hal kecil seperti itu.
Ah, atau karena mereka masih pengantin baru. Kirana tak mau berpikir yang belum terjadi, dia memilih menikmatinya. Jika mungkin, suatu saat pria itu berubah, setidaknya ada kenangan manis yang terekam di kepala.
“Pasti udah mikir yang enggak-enggak,” ujar Kendrick melihat gelagat aneh istrinya.
“Mana ada! Jangan ngarang kamu,” elak Kirana, entah mengapa dia merasa pria itu seolah bisa membaca pikiran dan apa yang ada di kepalanya.
“Nggak perlu berpikir banyak hal tentang apa pun yang akan terjadi di masa depan. Cukup jalani dan mari terus bergandengan tangan.”
Kirana mendesis pelan. Sikap pria itu benar-benar sangat jauh berbeda saat baru mengenal. Bahkan dia tak percaya, bahwa yang selalu merayu adalah pria minim ekspresi, selalu membuat hatinya berbunga-bunga semenjak mereka menjadi pasangan.
“Kamu duduk aja dulu, aku mau periksa laporan ini dulu, ya. Bentar aja, atau kamu mau istirahat di kamar? Biar kamu bisa rebahan di ranjang.” Ini adalah bentuk perhatian, mungkin orang bilang pria itu terlalu posesif, tetapi bagi Kirana, pria itu terlalu mencintai dan memujanya.
“Kalau kamu butuh apa-apa, minta aja.”
“Mau jalan-jalan di sekitar sini aja, boleh nggak?”
“Oke, tapi hati-hati dan jangan lama-lama.”
“Belum juga pergi udah dibilang jangan lama,” gerutu Kirana kesal.
“Nggak lihat kamu semenit rasanya rinduku menggunung, apalagi kalau sampai lama. Bisa mati karena merindukanmu.”
Kendrick memegang dadanya pelan dan bereaksi seperti orang yang kesakitan, membuat Kirana terkekeh. Ada-ada saja, pikirnya. Justru saat ini, dia semakin heran. Sejak kapan pria itu bisa bertingkah konyol.
“Jika rindumu di hati membuat mati, maka jangan merindu, karena aku nggak mau kamu pergi. Aku mau kamu nemenin aku besarin anak-anak kita. Cukup cintai aja, karena dengan cintamu, hidupku terasa bahagia. ”
Kirana melenggang pergi. Sudah cukup, gombalan sampai di sini saja, kalau tidak, dia yakin pembaca bakal pada baper dan mengidamkan suaminya.
Kakinya melangkah, menyusuri satu persatu ruangan kantor, sapaan hangat diterima dengan sopan.
Dua lantai ini dipakai untuk kantor, sementara hotel, hanya sampai di lantai dua puluh. Tiga lantai lainnya, dipakai untuk ballroom, restoran dan rooftop dengan kolam renang yang menyajikan pemandangan kota.
Melelahkan, Kirana mengeluh dalam hati sebelum akhirnya memutuskan kembali ke kantor suaminya.
Bruk!
“Ahh!” Kirana hampir saja terjungkal ke belakang jika lengan seorang pria tak menahan tubuhnya.
“I'm sorry, Miss,” ucap pria itu dengan bahasa Inggris.
Namun Kirana segera melepaskan diri dari pelukan pria itu dan mundur ke belakang.
“Sekali lagi maafkan saya yang terburu-buru dan menabrak Anda.”
“Tidak apa-apa, Tuan. Lain kali, hati-hati,” balas Kirana dengan senyum sopan yang begitu manis, kemudian melenggang pergi tanpa menatap wajah pria itu.
Pria itu sampai terdiam, entah mengapa senyum wanita itu tiba-tiba membuat jantungnya berdebar keras. Dia menatap punggung wanita itu sampai benar-benar hilang dari pandangan.
“Damn, what's this!” Pria itu mengumpat dengan kepala menggeleng pelan.
To Be Continue ....