Affair With CEO

Affair With CEO
Satu persatu



Bugh!


“Argh! Hentikan!”


“Ampuni aku ....”


Suara hantaman keras dan jeritan penuh kesakitan menggema di sebuah ruangan yang hanya diterangi sedikit cahaya remang.


Seorang pria dengan wajah yang tertutup oleh topi duduk di sebuah kursi, menatap datar pada sosok yang kini terkulai tak berdaya.


Pria itu menikmati pemandangan yang ada di hadapannya, menikmati setiap jerit kesakitan dari musuh-musuhnya, seolah itu adalah sebuah lagu cinta yang sangat indah. Bibirnya melengkung membentuk sebuah seringai mematikan. Wajah yang biasanya nampak datar dan dingin, kini tampak begitu menyeramkan karena aura yang membunuh di sekitarnya begitu kuat.


“Tidak ada kata ampun untuk para pengkhianat sepertimu,” desis pria itu dengan kejam.


“Ampuni aku, Tuan. Aku tidak tahu apa-apa, ini perintah juga ancaman untuk keluargaku.”


“Siapa yang mengancammu?” tanya pria itu dengan seringai sinis di wajah.


Pria yang sudah babak belur itu hanya diam, bibirnya terkatup rapat ingin mengatakan sesuatu.


“Teruskan!” Pria itu memberi kode pada dua pria berbadan sangar yang siap memberi pelajaran pada pria itu.


Kembali suara hantaman dan teriakan kesakitan menggema di seluruh ruangan. Namun, tidak sedikitpun dari para pria di sana yang berbelas kasih menghentikan.


“Tutup mulutmu dan aku akan mengabulkannya. Aku akan menutup mulutmu itu untuk selamanya.”


Pria bertopi maju dan memakai kakinya untuk menendang dengan kuat.


Brak!


...✿✿✿...


Seorang wanita dengan wajah yang tertutup masker langsung membius seorang suster dan menariknya menuju sebuah ruangan kosong. Melepas pakaiannya dan menukar pakaian tersebut dengan sang suster, tak lupa dia juga mengambil sebuah tanda pengenal yang tergantung di leher.


Setelah merapikan pakaiannya, wanita itu berjalan dengan santai ke arah sebuah ruang rawat VVIP yang di dalamnya ada beberapa orang yang menjaga.


Dia mengeluarkan sebuah suntikan yang diambil dari saku jas dan menyuntikkannya ke dalam infus. Bibirnya menyunggingkan


senyum saat rencananya berhasil.


Tidak akan ada yang curiga karena dia memakai pakaian suster, lengkap dengan id card.


Wanita itu segera pamit dan melangkah pergi dengan tergesa karena dalam waktu satu jam, obat itu akan bekerja dan tubuh itu akan menghembuskan napas terakhir.


Sesaat setelah keluar dari rumah sakit, wanita itu mendekati sebuah mobil mewah dan masuk ke dalam.


“Semuanya sudah beres, Tuan. Rencana Anda berhasil,” kata sang wanita begitu bangga.


“Tidak ada yang curiga denganmu, kan?” tanya pria itu dengan seringai di wajahnya.


“Tidak, Tuan. Semuanya aman.”


“Bagus! Kau memang bisa diandalkan, Luna.”


Pria dan wanita itu sama-sama melemparkan senyum penuh kelicikan.


...✿✿✿...


“Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan?”


Sebuah suara mengejutkan Andrean yang tengah fokus mencari sesuatu di dalam ruangan arsip dokumen penting perusahaan.


“Tidak ada. Kenapa kau di sini?” tanya balik Andrean dengan sedikit gugup. Matanya melirik ke arah tangan pria itu yang membawa sebuah berkas.


“Saya ingin menyimpan dokumen penting ini. Silakan Anda lanjutkan saja dulu,” kata Willy berbalik badan. Namun, dia ditahan oleh Andrean yang memintanya masuk karena dia akan pergi.


“Anda yakin?” tanya Willy meyakinkan.


“Ya, silakan lanjutkan tugasmu saja.” Andrean melangkah pergi dan menutup pintu dengan perlahan.


Willy mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dia mulai membuka dokumen yang dibawa dan menyusunnya.


Setelah hampir tiga puluh menit lamanya berada di sana Willy sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia keluar sambil bernapas lega dan melangkah menuju lift.


Namun, sesekali matanya menoleh ke arah tangga darurat yang pintunya tak tertutup rapat. Dia tersenyum.


Tepat saat lift tertutup, Willy mengeluarkan ponsel dan terlihat menghubungi seseorang.


“Dia sudah masuk ke dalam jebakan, Tuan.”


...✿✿✿...


Berita tentang kematian istri pebisnis ternama Axel Putra Mananta memenuhi laman berita media. Kematian mendadak itu bukan hanya mengejutkan media, tetapi juga dokter yang bertugas di sana.


Pasalnya keadaan wanita itu sudah stabil dan telah melewati masa kritis. Namun, bagaimana bisa tiba-tiba saja keadaannya menurun dengan cepat.


Sean dan Alfred yang tengah ngobrol seketika menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah televisi yang menampilkan berita tersebut.


Keduanya mematung dengan jantung yang berdebar keras.


“Ternyata dia bergerak dengan cepat,” gumam Alfred pelan.


Sean mengangguk. “Kau jangan biarkan Kirana pergi keluar sendirian. Kita harus waspada,” katanya.


“Aku paham.”


Kedua sahabat dari Kendrick itu benar-benar kompak dan selalu setia menemani Kirana. Lebih tepatnya lebih mirip sebagai bodyguard pribadi.


“Beritahu dia kabar ini.”


Keduanya yang tengah fokus bicara tidak menyadari jika Kirana sudah berdiri di belakang mereka. Dia menaikkan alisnya dan bertanya, “Dia siapa?”


To Be Continue ....