Affair With CEO

Affair With CEO
Terbongkar



“Mereka hanya orang tua yang membesarkanku. Orang tua kandungku ada di Jerman,” ucap Kendrick dengan napas memberat.


Kirana terdiam beberapa saat, mencoba memahami perkataan pria di depannya.


“Papa Hanin dan Mama Diah sebenarnya adik dari ibu kandungku. Aku diasingkan bersama mereka karena dianggap aib karena lahir dari kesalahan. Aku hanya anak haram.” Kendrick mendongak untuk melihat reaksi wanita yang ada di depannya.


“Hidupku nggak sempurna, seperti yang kamu bayangkan.” Tersenyum tipis, tetapi terlihat guratan luka saat mengatakannya.


“Jangan diteruskan jika itu hanya akan menyakiti,” potong Kirana cepat, menggenggam tangan pria itu yang kali ini sedingin es.


“Ibuku, Denisha. Entah cerita awalnya bagaimana, yang pasti ibuku hamil dengan pria yang masih berstatus istri orang. Tapi ternyata pria itu tidak mau bertanggung jawab, karena pada saat itu istrinya juga sedang hamil. Tapi beberapa bulan kemudian, ayahku maksa buat ngerawat ibu sampai melahirkan, karena ternyata istrinya mengalami kecelakaan dan rahimnya diangkat. Karena butuh pewaris, mereka akhirnya menjadikanku anak. Akan tetapi, semuanya tidak semudah yang kubayangkan.”


Kirana mengusap bahu Kendrick pelan, tak tahu harus menanggapi apa. Ini terlalu mengejutkan.


“Aku tak kekurangan materi, tapi aku kehilangan banyak waktu masa kecil hanya untuk belajar.”


“Udah, nggak perlu dibahas lagi, Ken.”


“Tapi kamu juga harus tahu.”


“Sama sepertimu, aku menerimamu apa adanya. Di dunia ini tak ada yang sempurna.”


“Aku hanya takut, kamu akan terkejut.”


Segera Kirana mengajak Kendrick kembali ke kantor. Waktu istirahat sudah usai setengah jam yang lalu.


...✿✿✿...


Kirana sama sekali tak memikirkan darimana Kendrick berasal. Di dunia ini, tidak ada anak yang lahir haram, semua anak yang dilahirkan itu suci. Yang terlarang adalah kedua orang tuanya yang melakukan, sementara anak adalah anugerah.


Jadi sebutan anak haram itu sebenarnya tidak ada.


Sabtu pagi, rumahnya kedatangan Zidan beserta antek-anteknya. Namun sayang, kebetulan tepat di hari itu, mereka semua pergi bersama dengan Kendrick yang mengajaknya jalan-jalan.


Sepertinya Zidan mengetahui sesuatu, terbukti dari kepalan kertas yang menunjukkan potretnya bersama dengan Kendrick.


Jadi selama ini pria itu memata-matai dan mencari bukti sesuatu. Bibir Kirana tersungging sinis, telat ... mereka sudah bercerai, jadi foto-foto tersebut tak akan berpengaruh apa pun.


Minggu pagi, waktunya bersantai. Anak-anak sudah pergi bersama dengan Wina ikut CFD di taman kota.


Setelah membereskan rumah, menyiram tanaman dan mandi, dia duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.


Pria itu datang dengan emosi yang memuncak, rahang mengeras dan mata yang berkilat penuh. Tanpa aba-aba langsung mencengkeram bahunya erat dan menatapnya dalam.


“Semua ini rencanamu. Dasar brengsek!” ucapnya dengan suara berat dan dingin.


Kirana memberontak, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu, tetapi ternyata kekuatan yang dimiliki tak sebanding dengan Zidan yang saat ini dilanda amarah.


“Kamu yang merencanakan semua ini. Kehancuran yang kualami adalah ulahmu.”


Kirana mengangguk, dia tak mengelak. Bahkan bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Ya, itu aku. Kenapa? Terkejut? Sayang sekali semuanya sudah terjadi.”


“Wanita sialan!”


Plak!


Zidan melayangkan tangan hingga tubuh Kirana yang belum sempat berdiri dengan tegak terhuyung dan jatuh ke lantai dengan keras.


“Argh,” erang Kirana saat kepalanya terbentur tembok.


“Kamu berselingkuh dariku!”


“Itu juga benar, aku melakukannya,” akunya tanpa ragu.


“Dasar wanita sundal. Brengsek kamu. Setelah menghancurkan hidupku, kamu mau bahagia sendirian? Jangan mimpi! Benar kata ibu, kamu memang wanita sial.”


Zidan menarik rambut panjang itu keras, membenturkan kepalanya ke tembok, hingga suara rintihan dari bibir Kirana lolos beberapa kali, akibat menahan sakit yang luar biasa.


Kirana sama sekali tak melawan dengan apa pun yang diperbuat Zidan padanya. Justru bibir itu menyeringai penuh arti.


“Semua yang kamu tuduhkan adalah benar. Tapi kamu harus tahu bahwa, ibumu bahkan lebih kejam karena telah membunuh calon anak kita. Ibumu itu iblis berwujud manusia,” teriak Kirana keras.


“Jangan menghina ibuku. Kau sendiri tak lebih baik daripadanya,” sahut Zidan geram.


Dengan cepat Zidan menarik Kirana bangun, tangan pria itu bersarang di leher dan mencengkeramnya dengan keras. Menyudutkan ke dinding dan mencekiknya hingga napas Kirana mulai memberat.


“Kamu akan hancur bersamaku!”


To Be Continue ....