
Pantas jika pria itu dijuluki sebagai pria terpanas. Itu memang benar, pria itu memang benar-benar panas dan kuat, penuh gairah.
Pria itu berhasil menuntunnya untuk meneguk kenikmatan berkali-kali. Tanpa membiarkannya untuk meredakan tubuh walau hanya sejenak.
Sepanjang malam pria itu terus membuatnya kewalahan. Menarik dan membuatnya melayang berkali-kali seolah tak membiarkan malam berlalu begitu cepat.
Lutut Kirana masih terasa goyah saat dia berguling di samping tubuh sang suami. Rasa nikmat pergulatan panas mereka masih menyisakan getar kehangatan di seluruh tubuh. Walau rasa lelah itu melingkupi, tetapi jujur dia menginginkannya lagi dan lagi. Dia yang justru berpikir agar malam bergulir dengan lambat.
Jantungnya berdebar keras tiap kali matanya menatap wajah sang suami. Rahang tegas, mata tajam, tubuh yang sempurna dengan bulu-bulu halus di dada, apalagi sesuatu di bawah sana yang begitu kokoh, membuatnya menelan saliva susah payah.
“Kiran!” panggil Kendrick, membuat wanita itu mengerjap beberapa kali.
“Apa?”
“Kenapa kau terlihat gugup? Aneh banget, sih.” Kendrick menarik tubuh sang istri mendekat, mencium bahu telanjangnya yang putih bersih.
Bukan gugup, lebih tepatnya Kirana merasa terus terbang tanpa mau turun menjejak kenyataan. Memikirkan tentang pria seperti Kendrick menjadi suaminya, bagaikan mimpi di siang bolong yang tak pernah dibayangkan.
“Aku ngantuk banget, boleh tidur sebentar nggak? Capek tahu.”
“Tidur aja. Kita masih memiliki banyak waktu untuk melakukannya.”
Kirana tersedak ludahnya sendiri. Membuatnya cepat-cepat bangun dan menyahut segelas air yang ada di samping meja.
“Jangan bicara sembarangan kalau di depan anak-anak.”
“Iya.”
“Diam, Ken. Ini udah jam lima.”
“Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia, Kiran. Sekarang kamu adalah nyonya Kendrick, jangan takut selama ada aku.”
Kirana sudah tak menanggapi, dia yang sudah benar-benar kelelahan dengan cepat jatuh ke alam mimpi. Tangannya melingkar di pinggang keras milik sang suami yang terlihat begitu berotot.
Kendrick tersenyum dan semakin membawa sang istri ke dalam dekapan hangat tubuhnya. Dicium kening dan bibir wanita itu singkat sebelum menjauh dan memberikan jarak.
Mata tajamnya menatap wajah cantik itu dalam diam. Teringat lagi perkataan wanita paruh baya yang sudah dianggap sebagai orang tua.
“Jatuh cintalah pada wanita yang kuat dan hidup tanpa rasa takut. Carilah wanita yang membuatmu ingin menjadi pria yang lebih baik.”
Itu perkataan Diah yang selalu diingat. Saat dia bertanya mengapa harus mencari wanita yang seperti itu. Wanita paruh baya itu menjelaskan dengan gamblang dan tanpa menutupi sesuatu.
“Hanya wanita-wanita seperti itu yang bisa menemanimu. Keluargamu bukan keluarga biasa, jika kamu mendapatkan wanita lemah, dia hanya akan menjadi kelemahan. Wanitamu haruslah seseorang yang memiliki keteguhan hati dan kuat. Karena darinya pula suatu saat nanti kamu akan mendapatkan kekuatan.”
Dan kini, dia paham apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu. Karena tanpa membutuhkan waktu lama, dia telah terbius oleh pesona seorang janda beranak dua yang memiliki pribadi kuat. Seseorang yang telah diklaim menjadi miliknya, bahkan saat wanita itu masih berstatus wanita terlarang.
Istrinya, sekretaris kesayangan, tetangga cantik, Aiza Kirana Mirabelle. Wanita yang telah dikhianati oleh suaminya.
Semenjak mengenal wanita itu, dia selalu ingin menjadi pria baik. Mengakhiri semua hal buruk yang telah dilakoni di masa lalu. Termasuk mengakhiri dunia penuh wanita yang selama ini mengelilingi.
Karena dia hanya ingin satu wanita saja, untuk menemaninya.
Sang istri. Kirana ....
...✿✿✿...
Pukul enam pagi tadi, Kendrick meminta sopir mengantar kedua anaknya dan Nina kembali ke rumah karena mereka harus sekolah. Sementara Kirana, wanita itu terlelap dengan begitu nyaman dalam pelukan tanpa terganggu sedikitpun.
Mereka seolah tak ada lelahnya untuk saling memuaskan.
Pukul empat sore mereka kembali ke rumah. Nanti malam akan ada makan malam di rumah barunya, asisten rumah tangganya sudah berada di sana untuk mengurus keperluan.
Mereka akan pulang dan langsung pergi ke rumah baru.
...✿✿✿...
Hanin, Diah, Sean, Alfred, Willy, semua orang tersebut diundang untuk merayakan pesta pernikahan mereka.
Tiga sahabat brengseknya datang dengan kotak hadiah yang diberikan langsung kepada Kirana. Membuatnya menatap curiga pada isi di dalamnya, karena yang pasti itu bukan hal yang sederhana jika yang memberikannya adalah para pria-pria brengsek di depannya.
“Wow, tenang bro, itu hanya hadiah. Bukan peledak yang bisa meruntuhkan rumah barumu,” ucap Alfred yang jengah dengan tatapan tajam sahabatnya.
“Sialan! Jangan aneh-aneh, ya kalian.”
“Curiga banget sih. Eh, by the way, selamat atas pernikahanmu.” Ketiga pria tampan itu memberikan tos ala pria dewasa.
Sahabatnya memang brengsek, bajingan dan pemain wanita. Namun mereka semua setia kawan dan saling menyayangi karena tumbuh bersama.
“Thanks.”
“Oh, ya, Ken ... uncle Rajendra dan aunty Sisil tidak tahu tentang pernikahanmu?”
Kendrick menggeleng pelan. “Tapi aku yakin mereka tahu dari mata-mata yang dikirimkan. It's easy for them.”
Tahu jelas jika orang tuanya pasti mengirim mata-mata untuk melaporkan apa saja yang dilakukan. Bahkan terbukti tentang kedua orang tuanya yang tahu tentang Kirana, bahkan sebelum dia mengatakan sesuatu.
“Mereka sudah setuju?” Tampak ketiga pria itu menatap dengan wajah heran.
“Aku tidak tahu. Minggu depan aku akan terbang ke Berlin bersama Kiran.”
Ketiga pria tampan itu tahu dengan jelas bagaimana sikap dan kepribadian orang tua Kendrick. Mereka adalah orang kaya yang menjunjung tinggi status sosial di atas segalanya. Jadi, menerima dengan mudah perihal pernikahan adalah hal yang mustahil.
Kirana bukan hanya tidak masuk di dalam kriteria calon istri pilihan keluarga dari segi keluarga, tetapi juga status janda yang tersemat.
Namun, lagi-lagi Kendrick menyangkal hal tersebut. Jika untuk kebahagiaan anak, bisa saja orang tua akan luluh. Itu pemikiran yang naif, tetapi lebih baik untuk menjaga semuanya tetap baik-baik saja, sampai dia tahu apa yang diinginkan kedua orang tuanya.
Setelah makan malam, Kirana bersama dengan Diah duduk di ruang tamu di teman secangkir teh hangat. Sementara para pria sedang menerima wejangan dari Hanin yang sudah seperti ayah dari keempat pria-pria dewasa itu.
“Kiran, aku tahu kamu adalah wanita yang tegar. Tetaplah kuat untuk mengukuhkan cinta kalian, apa pun yang terjadi.”
“Aku tahu kekhawatiran yang kamu alami, Tante. Ini tentang orang tua Kendrick, kan?” sahut Kirana yang tepat sasaran.
Wanita paruh baya itu justru tersenyum tipis. “Kamu bukan hanya sosok yang istimewa yang telah merenggut cinta Kendrick sepenuhnya. Kamu juga pintar untuk memahami keadaan.”
“Justru aku yang beruntung telah mendapatkan Kendrick, Tante.”
“Kalian sama beruntungnya. Dalam hubungan pondasi yang paling kuat adalah kepercayaan, kejujuran dan saling mengerti. Kalian harus bisa saling mendukung dan menguatkan. Orang tua Kendrick bukan hanya tegas, tetapi juga kejam.” Diah berkata dengan lirih di akhir kalimat.
Namun sorot mata Kirana yang datar, wajah yang tetap memasang ekspresi senyum tipis, seolah tak sama sekali takut untuk menghadapi apa yang akan terjadi nanti.
“Cinta memang butuh perjuangan, Tante. Jika Kendrick mau berjuang untukku dan mengambil semua risikonya, maka aku adalah wanita beruntung yang harus mendukungnya.”
To Be Continue ....