Affair With CEO

Affair With CEO
Janda sehari



Kirana membenamkan wajah di leher pria itu dan menjelajahinya lebih dalam. Bahkan, terdengar suara erangan pelan dari bibir pria itu.


Saat Kendrick mengecup bibirnya dia menyadari betapa mendambakan pria itu. Lidah pria itu meluncur perlahan dan berhati-hati, mengabsen seluruh rongga mulutnya dengan begitu panas.


Tanpa memutus ciuman, pria itu mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di atas meja makan yang masih berantakan. Dia melepaskan ciuman saat napasnya memburu, hampir kehabisan oksigen dalam dada. Mata pria itu tampak gelap dengan percikan gairah yang sudah menyelimuti.


Kirana menyentuh tubuh pria itu. Menikmati bagaimana kuat dan dahsyat pria itu ketika mencumbunya. Jemarinya menyusuri area dada dan bermain-main di sana dengan pola abstrak, yang membuat tubuh pria itu menegang dengan sempurna.


“Damn it! Kau benar-benar nakal, Baby. Seharusnya aku yang akan menggodamu,” erang Kendrick dengan suara berat.


Bukannya berhenti justru Kirana semakin tertarik. Dia menarik pria itu mendekat kemudian menggigit lembut dan meninggalkan bekas kemerahan di dada.


“Kau tetap harus memberikan hadiah istimewaku, Ken.” Dengan nakal, dia membasahi bibir dan memainkan lidahnya di sana.


“Oh, damn!” umpat Kirana saat pria itu justru meremas payudara yang masih bersembunyi dibalik kemeja yang dipakai.


“Jangan mengumpat, Baby. Itu tidak baik.” Dengan sensual, dia mengecup telinga wanita itu hingga membuatnya menggeliat pelan.


Kendrick membuka kedua kaki wanita itu lebar dan menyelipkan tubuhnya di sana. Terkunci di antara kedua paha yang terlihat begitu menggoda dengan warna putih bersih.


Dengan sekali tarikan, pria itu berhasil merobek kemeja yang dipakai hingga terlihat benda bulat menggiurkan yang sudah mengeras.


“Ini yang disebut keindahan,” ucap Kendrick, menunduk dan segera melahap benda bulat tersebut.


Dengan liar lidah pria itu menyusuri seluruh tubuhnya, menimbulkan sensasi aneh yang dirasa, membuat bibirnya tak henti melenguh merasakan sesuatu yang nikmat.


Tangan pria itu bahkan tak segan bermain di area inti dengan gerakan maju mundur yang membuat tubuh itu melengkung akibat gairah yang luar biasa.


Keduanya saling menyentuh, saling menuntun dan terbakar bersama gairah yang menyatu.


Kendrick bergerak, mendorong, menarik kembali, mendorong, berulang kali hingga membuat tubuh wanita itu bergetar.


Keduanya larut dalam penyatuan luar biasa, yang memabukkan dan membuat kecanduan. Gairah yang membuncah, membuat Kirana terhanyut dalam pancaran panas akan kenikmatan yang diberikan.


Hingga suara lenguhan panjang mengakhiri kegiatan erotis mereka. Suara deru napas memburu, saling bersahutan antara mereka.


Kirana bergumam pelan merasakan tubuhnya kaku. “Tidak etis sekali, kita bercinta di atas meja makan.”


“Ini baru permulaan, Baby. Waktu kita masih sangat panjang,” sahut Kendrick, membenamkan kepalanya di perut wanita itu dan memberikannya banyak tanda kemerahan.


...✿✿✿...


Keduanya seolah tak peduli akan hal itu, karena ini hanya tentang mereka. Hanya


tentang Kirana dan Kendrick yang sama-sama menyuarakan perasaan, tentang mereka yang sama-sama saling menginginkan.


Tanpa peduli bahwa yang baca udah pada traveling adegan iya-iya 🤣😜


Pukul sembilan malam, kegiatan mereka baru saja usai. Entah untuk pelepasan yang berapa kali, mereka tak menghitungnya. Namun dari pancaran wajah, keduanya menunjukkan kepuasan tersendiri.


Setelah membersihkan diri, Kirana memakai pakaian baru yang disediakan, sebelum akhirnya terperangah ketika keluar dari kamar, matanya dimanjakan dengan pemandangan romantis di depan mata.


Kendrick, pria itu berdiri dengan gagah di antara taburan bunga yang entah sejak kapan sudah memenuhi ruang tamu luas apartemen tersebut.


“Will you marry me, Kirana?”


Mata wanita itu berkaca-kaca, ingin menangis rasanya. Membayangkan pria sedingin Kendrick bersikap romantis sama sekali tak pernah ada dalam bayangan, tetapi yang ada di depan mata benar-benar pria itu. Saat langkah kakinya mendekat, pria itu berjongkok dan mengulurkan sebuket uang yang disusun seperti rangkaian bunga.


“Ini mungkin terlalu tiba-tiba mengingat kau baru saja bercerai, tapi, aku tidak ingin memberikan kesempatan pada pria manapun untuk mendekatimu. You're mine,” ucap Kendrick masih dalam posisi yang sama.


Kirana mengulurkan tangan agar pria itu memasangkan cincin berlian di jari tangannya, sambil bergumam, “Kamu bahkan belum melamar pada orang tuaku, tapi jangan cemas masih ada waktu untuk itu.”


Membuat Kendrick mendengkus keras. “Jadi mau menikah denganku atau tidak? Tinggal jawab aja repot,” gerutunya pelan.


“Kok maksa,” sahut Kirana ikut kesal.


“Aiza Kirana Mirabelle, jika kamu tidak mau menikah denganku, aku akan menculik dan mengurungmu.” Pria itu bangun setelah memasangkan cincin, wajahnya tampak dingin dengan mata yang berkilat penuh.


“Aska Kendrick Rusady, bersediakah kamu menerimaku dan kedua anakku menjadi anakmu juga?” ucap Kirana tiba-tiba.


“Tentu saja, aku menerimamu apa adanya. Bahkan status dan semua kehidupan masa lalu.”


Kirana mengangguk. “Aku bukan wanita sempurna—”


“Di dunia ini tak ada yang sempurna!” potongnya dengan cepat. “Semua sudah sesuai porsi masing-masing, tak perlu membandingkan hidupmu dengan orang lain.”


“Jadi?”


“Tidak peduli kau mau atau tidak, aku akan memaksamu!” Tanpa aba-aba dia langsung mencium, menutup mulut Kirana yang sedari tadi mengganggu fokusnya.


To Be Continue ....