
Alur maju mundur, ya.
Harap cermat supaya gak bingung :D
Makasih yang sudah like, komen dan kasih gift ... Aku akan up 3 bab sehari jika banyak yang nunggu cerita ini.
Komentar kalian penyemangat diriku 🤗❤️
...âśżâśżâśż...
Sisil sudah duduk di sofa di sebuah kamar hotel presiden suite. Wanita itu bergegas datang setelah mendapatkan panggilan untuk bertemu.
Dia menunggu sambil sesekali menatap ke arah ponselnya. Tak lama pintu ruangan terbuka dan sosok pria yang ditunggu datang dengan wajah yang murung.
Sisil menghampiri dan memeluk pria itu sambil mendongakkan kepalanya. Mengamati setiap jengkal wajah pria yang masih terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda.
Pria yang berhasil membuatnya tergila-gila di masa muda. Namun, sayangnya ketamakan orang-orang untuk hidup terjamin membuat mereka terpisah karena keadaan yang memaksa.
“Apa yang terjadi?”
Sisil masih merangkul pinggang pria itu dan mengajaknya duduk di sofa. Wanita itu mengulurkan sebotol air dan kembali berkata, “Minumlah dulu.”
“Semuanya rumit. Kita harus mempercepat rencana,” kata pria itu setelah merasa cukup tenang.
“Itu terlalu berisiko,” jawab Sisil sambil menghela napas kasar.
“Kita tidak bisa menunggu lagi atau semuanya akan sia-sia.” Pria itu masih belum menceritakan apa yang dialami.
“Banyak hal yang harus kita lakukan untuk itu. Kita juga harus hati-hati dan tidak berlaku sembarangan.”
“Aku tahu, aku paham, tapi jika itu tidak dilakukan maka kita berdua yang akan hancur.”
Sisil menatap pria itu dengan tajam. Masih belum mengerti dengan apa yang dimaksudkan.
Jelas ini bukan hal yang sederhana.
“Apa yang kau katakan Axel Putra! Kau jangan sembarangan,” bentak Sisil marah. Bagaimana bisa mereka hancur sementara waktu ini adalah sesuatu yang telah lama mereka tunggu.
“Anak tirimu itu sudah tahu semuanya!”
“Apa!” pekik Sisil terkejut, dia mematung dengan tatapan mata yang membulat sempurna.
Bagaimana mungkin Kendrick bisa tahu. Selama ini dia sudah memerankan peran ibu tiri baik hati yang selalu membelanya. Tidak pernah ada kecurigaan yang mengarah padanya. Mustahil Kendrick akan percaya begitu saja karena yang diketahui pria itu adalah semua yang telah terjadi adalah ulah ayahnya sendiri.
“Bagaimana mungkin,” gumam Sisil dengan wajah serius.
“Aku tidak tahu! Mereka menjebak diriku menggunakan teman-temannya. Anak pelacur itu bahkan mengancam akan mengatakannya pada Hera.”
Kala itu Axel mendapatkan laporan dari sekretarisnya bahwa ada klien yang ingin menanamkan modal besar pada perusahaannya.
Itu awal pertemuannya dengan Alfred dan Sean. Mereka berdua berperan dengan sangat meyakinkan dan membuatnya tertarik dengan iming-iming yang diberikan.
Siang itu Axel mendatangi kantor Alfred atas undangan pria itu. Katanya mereka ingin membicarakan sesuatu yang penting. Saat itu dia telah menolak karena kebetulan sekretarisnya sedang keluar untuk bertemu dengan salah satu klien untuk memberikan berkas kesepakatan.
Namun, dia tidak kuasa menolak saat Alfred mengatakan bahwa ini adalah satu kesempatan yang dimiliki. Axel yang memang pada dasarnya adalah seseorang yang tamak dan gila kekuasaan memilih datang sendiri ke sana dan masih belum menyadari bahwa itu adalah sebuah jebakan.
“Apa yang dilakukan anak sialan itu padamu? Kau tidak terluka, kan?” tanya Sisil mulai mengendurkan ketegangan yang beberapa menit lalu dirasakan.
“Mereka tidak melakukan apa pun.” Tentu saja mereka tidak sebodoh itu untuk melakukan kekerasan padanya. Sebab jika memang itu terjadi maka dia akan dengan mudah menuntut tiga pria gila itu.
“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”
...âśżâśżâśż...
“Kamu harus memberikan kompensasi padaku, Ken!” kata Sean mengeluarkan bukti pembelian tas branded limited edition untuk menyogok wanita resepsionis yang membantunya naik ke unit milik Yemima.
Kendrick menatap sahabatnya datar. “Kamu terlalu perhitungan, Sean. Anggap saja itu bayaran karena kamu telah menidurinya,” katanya mengingatkan.
Meskipun itu kata-kata yang serius, Kendrick tidak akan menanggapi ucapan Sean. Dia sudah kaya, membeli satu tas tidak akan membuatnya bangkrut.
“Darimana kamu tahu aku sudah menidurinya?”
“Sudah kelihatan dari wajahmu yang mesum itu,” sahut Alfred menimpali.
Kendrick terkekeh pelan. Sebenarnya dia hanya menebak mengingat pria itu suka menebar pesona pada para wanita. Hal yang sangat sulit dihindari Sean adalah melihat wanita cantik yang menginginkannya.
Katanya, dia tidak ingin melihat para wanita itu sakit hati karena diabaikan. Itu sebabnya Sean akan dengan senang hati merespons mereka. Urusan ranjang adalah hal kedua, jika mereka sama-sama ingin maka pergumulan panas akan terjadi.
Namun, brengseknya seorang Sean adalah pria itu akan menghilang dan tidak mau lagi pada para wanita yang telah ditiduri. Saat bertemu tanpa sengaja pun, dia akan selalu salah mengenali nama mereka, karena memang dia tidak menganggap mereka penting dalam hidupnya.
Menurutnya cukup sekali saja. Dia tidak meniduri wanita yang sama dua kali.
“Kamu juga sama denganku. Jadi jangan berebut untuk mendapatkan predikat mesum,” balas Sean menatap ke arah Alfred dengan penuh permusuhan.
“Brengsek,” umpat Alfred menendang kaki Sean dengan keras hingga membuatnya mengadu kesakitan.
Dua pria brengsek itu bertengkar seperti seorang anak kecil yang memperebutkan permen.
“Diam kalian!” kesal Kendrick karena malu melihat mereka menjadi pusat perhatian.
Suasana di meja mereka kembali hening. Tiga pria dengan paras tampan mempesona itu menjadi buah bibir pelanggan cafe yang didominasi seorang wanita muda. Kebetulan cafe ini ada di dekat universitas, kebanyakan yang datang adalah para mahasiswa. Melihat ciptaan indah di depan mata siapa yang akan menolaknya.
Dari mata turun ke hati. Jika rupa tak menarik maka jangankan turun ke hati, mata saja enggan menatap.
“Yemima sudah kembali ke Jerman,” kata Kendrick. “Indra sudah memastikan namanya terdaftar di salah satu penerbangan.”
“Mustahil dia menyerah begitu saja.” Alfred tidak percaya.
“Aku justru curiga dia punya niat terselubung lain.” Komentar Sean.
Wanita itu sudah tidak ada dalam daftar orang yang terlalu penting. Kendrick punya hal lain yang perlu bantuan dua sahabatnya. Pembahasan tentang Yemima mereka hentikan dan berganti serius saat dia mengatakan rencananya.
“Aku percaya kalian berdua bisa diandalkan,” kata Kendrick yakin.
“Tentu saja kami akan melakukannya, Ken. Jangan khawatir, serahkan pada kami,” jawab Alfred sama yakinnya.
“Aku nggak mau istriku terlibat lebih jauh lagi. Ini bisa membahayakan nyawa anak-anakku.”
Sejak mengetahui istrinya menyelidiki hal ini dan tahu siapa saja yang tengah bermain dengan keluarga mereka, dia meminta Kirana untuk menghentikan segalanya.
Ini bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Kirana mungkin tidak tahu bagaimana kejamnya persaingan para konglomerat jika ingin mendapatkan sesuatu. Mereka tidak segan melakukan apa pun demi mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Termasuk menyingkirkan nyawa orang yang menjadi batu sandungan.
Kendrick dan kedua sahabatnya menyusun rencana. Orang yang licik harus dibalas dengan yang lebih licik juga. Orang-orang yang mampu berpikir seperti itu sebenarnya adalah seseorang yang cerdas, buktinya mereka bisa merencanakan banyak hal dengan begitu cermat dan penuh perhitungan. Kepintaran mereka disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak baik.
“The devil come back,” bisik Alfred menatap ke arah Kendrick.
To Be Continue ....