
“Zidan, kenapa kamu jual aset tanpa ngomong dulu! Gila kamu, ya,” bentak Ajeng murka.
“Aku juga terpaksa demi melakukan itu untuk memenuhi semua kebutuhan kalian yang nggak kira-kira itu, Bu!”
“Apa!”
“Aku jual semuanya juga karena ibu, Luna dan Nina yang nggak terima dengan uang yang kuberikan.”
Tidak semuanya benar, karena sebagian uang tersebut digunakan untuk melunasi uang perusahaan. Sebab jika dia tak mengembalikan uang tersebut maka penjara menanti.
“Alasan aja! Bahkan penghasilan bisnismu lebih banyak dari yang kamu berikan pada kami.”
“Itu emang benar, tapi semuanya sekarang di bawah kendali, Kirana. Dia yang pegang seluruh hasilnya dan aku cuma diberikan tiga perempat dari pendapatan,” jelas Zidan dengan muka memerah.
“Dasar bodoh! Bagaimana bisa kamu berikan semuanya pada wanita nggak tahu diri itu.”
“Wajar dia ambil apa yang jadi haknya, Bu. Modal awal itu miliknya. Ibu bahkan nggak membantu apa pun, tapi selalu menikmati hasil.”
Plak!
Ajeng menampar pipi Zidan dengan kasar. Amarahnya meluap mendengar sang anak berani melawan.
“Lancang kamu bicara kayak gitu sama orang yang melahirkan. Ibu cuma nggak mau kamu dimanfaatkan sama istrimu.”
“Tapi akhirnya ibu yang memanfaatkan Kirana.”
Karena emosi yang meledak-ledak, Ajeng akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Sementara Luna tengah menenangkan Nina yang sedari tadi lepas kendali dan ingin menyakiti diri sendiri karena mendapatkan surat dari pengadilan tentang perceraian mereka.
Belum lagi Luna yang didatangi keluarga Diana dan mendapatkan teror terus menerus.
Zidan sebagai salah satu kepala keluarga rasanya ingin tenggelam di lautan, mendapati semua masalah menimpa dalam waktu bersama.
...✿✿✿...
Setelah Ajeng keluar dari rumah sakit, dia harus mendapati Nina harus masuk rumah sakit jiwa akibat goncangan kuat yang dialami membuat mentalnya terganggu.
“Ibu nggak mau tahu, kamu nggak boleh pisah dari Kirana!”
“Lho mana bisa gitu. Dulu ibu yang nyuruh, sekarang udah dikabulkan malah kayak gini.”
“Dulu kan kamu bilang mencintainya, ya pertahankan dong,” seru Ajeng dengan kesal.
“Diem kamu. Kamu di sini cuma numpang, jangan banyak ngomong.”
“Mas, kamu nggak boleh balik sama Kirana. Lihat! Anakmu laki-laki, aku bisa kasih yang kamu mau,” ucap Luna dengan mata berkaca-kaca.
“Diam!” seru Zidan keras, lama-lama pria itu bisa gila menyusul Nina jika harus menghadapi dua wanita yang sama-sama berkepala batu.
“Kalau gitu kamu harus bisa dapatkan semua bisnis itu!”
Tak peduli apa pun, Zidan pergi dari rumah dengan wajah tertekan. Kedatangannya ke rumah Kirana ternyata tak membuahkan hasil karena wanita itu tak ada di rumah.
Mencoba menghubungi wanita itu, tetapi tak pernah dijawab, membuatnya kesal dan marah. Saat mencoba sekali lagi, akhirnya panggilan dijawab, tetapi justru membuatnya naik pitam mendapati wanita penurut yang menjadi istrinya semakin berani.
Hingga tiga hari kemudian, dia kembali lagi saat Kirana sudah ada di rumah. Namun pemandangan di depan mata membuat darahnya mendidih. Saat wanita itu justru tertawa lepas dengan pria lain yang diketahui adalah tetangga mereka.
Dia masih mengawasi, hingga rasa curiga tiba-tiba timbul melihat kedekatan keduanya. Demi untuk mencari bukti kecurigaannya, dia harus rela menjadi penguntit untuk wanita yang mungkin sebentar lagi menjadi mantan istrinya.
...✿✿✿...
“Mas, pokoknya kamu harus ceraikan Kirana.” Baru saja masuk ke dalam kamar, Zidan sudah disambut wajah masam Luna yang menuntut.
“Apa sih, berisik banget,” sahutnya malas.
“Kamu yang apa-apaan, bukannya nyari kerja malah keluyuran.”
Zidan tak menanggapi. Dia hanya diam dan memikirkan sesuatu di kepalanya.
“Ibu kamu juga cerewet banget, pusing aku lama-lama.”
“Diem bisa nggak sih!” bentak Zidan kasar.
Pria itu memilih memejamkan mata dibandingkan harus mendengar omelan Luna yang itu-itu saja.
Luna dan ibunya sama-sama wanita yang keras dan tak pernah ada yang mau mengalah. Sangat berbeda dengan Kirana.
Entah mengapa dia jadi rindu wanita itu. Sosok wanita yang telah menemaninya bertahun-tahun itu bukan hanya pendukung terhebat, tetapi juga pendengar yang baik.
To Be Continue ....