
“Tidak ada. Aku tak melakukan apa pun, Ken. Istri dan nenek sihir itu saja yang terlalu berdrama dan cengeng tentunya,” jawab Rajendra tak ingin kalah.
“Dad!” protes Kendrick.
“Dasar tua bangka. Jika aku nenek sihir, mungkin kau adalah jelmaan lucifer yang diturunkan ke bumi,” balas Diah tak ingin mengalah.
“Mama, ada apa ini?” tanya Kendrick dengan tatapan bingung. Dia masih melihat sang istri terisak hingga tubuhnya terguncang. “Apa lagi yang kau lakukan, Dad? Bukankah semuanya sudah selesai, kenapa kau masih mengganggu istriku,” lanjutnya sambil mendekat sang istri dan merangkul bahunya, mengusapnya pelan.
“Kamu salah paham, Ken. Ayahmu nggak melakukan apa pun pada kami. Dia datang untuk minta maaf,” jelas Kirana dengan suara serak. Memilih mengambil alih karena dua paruh baya itu sama-sama tak ada yang ingin mengatakan kebenaran.
Diah dan Rajendra masih saja perang dingin. Saling menghina dan mencibir satu sama lain, seolah menemukan lawan yang sepadan.
Kendrick menautkan kedua alisnya. Minta maaf, benarkah? Sungguh hal yang sama sekali tak terpikirkan. Bahkan membayangkan pria arogan dan sombong itu mendatangi rumah ini saja tak pernah ada dalam angannya.
Namun, melihat sang anak di pangkuan ayahnya. Bibirnya tertarik membentuk senyum samar yang tak diketahui siapa pun.
“Benarkah itu, Dad?”
Tanpa repot-repot mau menjawab, Rajendra hanya berdehem sebagai pembenaran.
“Terima kasih untuk semua bantuanmu, Dad. Jika kau tak mengatakan rencana mommy, mungkin aku sudah tiada ketika rencananya berhasil.”
Rajendra menatap Kendrick dengan bibir tersenyum sinis. “Seburuk itukah penilaianmu padaku, Ken?”
“Kau yang mendorongku membenarkan semuanya,” bantahnya.
Wajah Rajendra tampak sendu. Tidak ada lagi raut angkuh yang beberapa waktu lalu ditunjukkan. Keriput di beberapa bagian wajahnya menunjukkan usia yang sebenarnya meskipun tubuh itu tampak bugar. Dengan bibir sedikit bergetar, pria itu menjawab, “Seburuk-buruknya orang tua, dia tak akan memakan anaknya sendiri, Ken. Meskipun di pandanganmu aku adalah seseorang yang licik dan kejam, tak ada sedikitpun niatan melukai dirimu. Kau anakku, putra kebangganku.”
Selama ini diamnya Rajendra membuat Kendrick salah paham. Semuanya ulah Sisil, tetapi Rajendra yang harus menanggung akibatnya.
Kesalahan Rajendra memang telah memelihara ular di dalam rumahnya. Sejinak apa pun ular yang dipelihara, dia bisa menggigit kapan saja. Tak peduli seberapa banyak pengorbanan yang telah dilakukan sang empunya, ular memang tidak tahu yang namanya balas budi. Seperti itulah Sisil.
“Maafkan aku, Dad.”
“Maafkan daddy juga. Untuk semua kesakitan yang telah kau terima selama ini. Maaf telah merenggut hidup dan kebahagiaanmu.”
Ayah dan anak itu saling berpelukan. Saling mengakui kesalahan dan memaafkan. Menanggalkan ego dan keangkuhan demi mencapai kerukunan dalam keluarga.
Momen yang sangat mengharukan. Akhirnya perang dingin antara ayah dan anak itu berakhir dengan damai. Air mata Kirana masih saja tak bisa berhenti menyaksikan pemandangan indah di depan mata. Diah yang tadinya masih tak bisa menerima Rajendra akhirnya tetap saja luluh melihat kesungguhannya.
Di setiap kejadian buruk selalu terselip hal baik di dalamnya.
...✿✿✿...
Kirana meregangkan tubuhnya setelah mandi. Tersenyum saat mendengar suara Kendrick dan ketiga anaknya tertawa lepas.
Keluar dari kamar mandi Kirana memasuki ruang ganti dan mengambil pakaian santai. Saat keluar kamar dia hanya mendapati Kendrick sendirian sambil bertelanjang dada duduk di sofa dengan segelas wine menemani.
“Kamu nggak mandi?” tanya Kiran mengambil tempat di sebelah suaminya.
“Aku bisa melakukannya nanti,” balas Kendrick menoleh dengan senyum penuh arti.
“Aku bahagia, Ken. Akhirnya restu dari ayahmu membersamai langkah kita.”
“Daddy itu angkuh sekali. Kedatangannya ke mari tentu membuatku terkejut. Apalagi dengan permintaan maafnya yang ditunjukkan untukmu dan mama. Sedikit membuatku nggak percaya jika dia benar-benar Rajendra Rusady yang angkuh.”
Kirana terkekeh pelan. “Ternyata dia masih memiliki hati dan belas kasih. Buktinya dia rela merendah hanya untuk meminta maaf, aku justru terharu sekali.”
Kendrick tersenyum, luar biasa bahagia. Pada akhirnya semua yang diinginkan tercapai satu persatu meski jalan yang dilalui tak mudah.
...✿✿✿...
Dua bulan kemudian kabar dari kepolisian turun jika pengadilan telah menetapkan hukuman bagi Sisil dan Axel. Mereka dijatuhi hukuman seumur hidup karena kejahatan yang dilakukan cukup banyak. Termasuk pembunuhan berencana pada dua orang yaitu, Hera dan Denisa.
Semua borok mereka akhirnya terbongkar begitu jatuh ke tangan wartawan. Tentu saja berita itu menjadi bahan perbincangan panas yang sangat rugi jika dilewatkan.
Kendrick tersenyum puas.
“Bagaimana dengan Luna?” tanya Kirana.
“Sepuluh tahun penjara.”
“Pada akhirnya mereka yang jahat harus menerima hukum atas apa yang telah mereka perbuat.”
“Tapi aku belum puas sebelum Andrian juga mendekam di balik jeruji besi.”
“Polisi sedang mencarinya, kan?”
“Jelas, tapi keberadaannya masih jadi ancaman. Dia pria gila yang nekat,” ujar Kendrick dengan helaan napas berat.
Polisi telah bekerja sama dengan FBI untuk mencari Andrian beserta komplotan yang terlibat. Mereka adalah salah satu mafia berbahaya pengedar narkoba dan penjualan organ tubuh. FBI telah mengetahui jaringan mereka dan saat ini semuanya tengah dalam pengejaran. Namun, sampai kabar ini diterima belum ada informasi terkait keberadaan Andrian.
Stasiun, pelabuhan, bandara sudah menandainya. Namun, sepertinya pria itu menggunakan identitas palsu dan penyamaran untuk melarikan diri.
Suara dering ponsel milik Kendrick membuat perhatian pria itu teralihkan. Alisnya menukik tajam, juga heran saat melihat nomor yang menelponnya.
Roy—asisten Rajendra.
Kendrick segera mengambil ponselnya dan menjawab. Tiba-tiba suaranya terdengar memekik terkejut, “Apa! Oke, aku segera ke sana.”
To Be Continue ....