
Tiga hari kemudian Kendrick mendapatkan kabar dari dua sahabatnya bahwa dia telah menemukan seseorang yang telah menjebaknya.
Sean memintanya segera datang ke perusahaan Alfred, karena pria itu sekarang berada di sana atas jebakan yang dilakukan untuk memancing pria itu datang sendiri.
Tentu saja semua itu atas perintah dari Kendrick yang menjadi penyusun rencana.
Segera Kendrick bergegas menuju perusahaan sahabatnya ditemani oleh Indra yang menyetir mobil.
“Apa Anda berpikir bahwa orang itu berada di bawah tekanan Nyonya Sisil?” tanya Indra membuat Kendrick menoleh.
“Seperti yang telah dikatakan oleh Yemima, semua ini rencana mommy. Aku hanya ingin buktinya ....”
“Jika pun itu terbukti benar, apa yang akan Anda lakukan?”
“Membalasnya dengan hal yang sama,” kata Kendrick datar. Dia telah memikirkan rencana apa yang akan diambil untuk membalas perbuatan ibu tirinya.
“Maksud Anda?” Indra tampak menoleh sekilas dengan bingung. Tidak paham dengan ucapan sang bos yang penuh makna.
“Diam!”
Kendrick malas menjelaskan, dia menatap lurus jalanan yang lumayan padat. Tentu saja padat karena ini jam makan siang.
Mom, aku menganggap kau adalah orang baik. Wanita yang mengerti diriku karena selalu membelaku saat daddy menentang keinginanku. Selama ini aku tidak pernah berpikir bahwa kau tetap memberikan batas dan jarak tentang hubungan kita.
Aku lupa kau tetaplah seorang ibu tiri dan ibu tiri selalu dengan peran antagonisnya.
Kendrick melamun sampai tidak sadar bahwa mobil yang dikendarai Indra telah tiba di lobby perusahaan.
“Bos!” Indra terpaksa menepuk bahu Kendrick dengan keras. Sebab mereka sudah tiba sejak sepuluh menit yang lalu, tetapi pikiran pria itu seperti tidak berada di dunia ini.
Kendrick mengerjap beberapa kali dan menoleh dengan tajam. “Apa?”
Indra menggaruk tengkuknya pelan. “Kita sudah sampai.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi.” Kendrick mendengus pelan dan segera turun dari mobil.
Tanpa bertanya di mana ruangan CEO, Kendrick langsung menuju lift dan segera menuju ruangan sahabatnya. Dia sudah seringkali datang ke gedung ini dan sudah hapal setiap sudut tempat ini. Pertemanan mereka bukan terjalin satu atau dua bulan, tetapi sudah hampir setengah dari umur mereka saat ini.
Brak!
“Tidak bisakah kau punya sopan santun saat datang bertamu, Aska Kendrick Rusady!” bentak Alfred marah melihat sahabatnya datang dan membanting pintu ruangannya dengan keras. Di hadapan sekretaris dan asistennya dia seperti kehilangan kharismanya yang biasanya tampak galak.
Dalam hati Alfred mengutuk sikap tidak sabaran sahabatnya.
Untung sahabat. Jika tidak aku sudah pasti mendorongmu dari lantai ini.
Kendrick menatap Alfred datar. “Sorry, memang sengaja!” katanya dengan wajah menyebalkan.
“Dasar sialan!” desis Alfred sinis.
Tatapan Kendrick beralih ke arah sofa di mana Sean dan pria paruh baya yang menjalin kerjasama dengannya ada di sana. Tengah duduk dengan wajah yang cemas dan tidak nyaman.
Kendrick berjalan mendekat ke arah sofa dan duduk di hadapan pria itu sambil berkata, “Kita bertemu lagi, Tuan Axel. Anda memang pengusaha yang sangat sibuk, bahkan setelah bertemu dengan saya Anda menghilang begitu saja dan tak bisa ditemui.”
Ya, pria paruh baya itu adalah orang yang sama yang terjepret kamera bersama dengan Sisil.
Axel Mananta Putra. Pemilik Anta’s Company yang memesan beberapa unit kendaraan dari tempatnya. Pria yang ternyata mengenal ibu tirinya dengan baik. Bahkan mungkin mengenal luar dan dalamnya dengan sangat detail.
“Saya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini, Tuan Kendrick,” kata pria itu mengulurkan tangan. Namun, Kendrick hanya menatapnya datar tanpa berniat menyambut.
Pria itu segera menarik tangannya saat tak mendapatkan respons baik. Dia menatap cemas ke arah tiga pria itu bergantian, perasaannya tiba-tiba was-was.
“Apa maksud Anda, Tuan Kendrick?” tanya Axel dengan wajah bingung.
Namun, Sean si brengsek itu segera menimpali. “Sudahi pura-pura yang Anda lakukan, Tuan Axel. Kami sudah tahu semuanya,” katanya dingin.
“Saya benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Anda.”
Kendrick menggebrak meja dengan keras hingga meja kaca itu retak. Dia menatap Axel dengan tatapan yang begitu dalam. Andai saja mata itu adalah laser, sudah pasti tatapan itu mampu menembus dan melubangi dada pria paruh baya itu.
“Kau memilih mengatakan yang sebenarnya atau haruskah kuberitahu hal ini pada Nyonya Hera.”
Axel tampak tersentak kaget, napasnya memburu dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Wajahnya nampak memerah dengan bola mata yang melotot penuh ancaman.
Hera adalah istrinya sekarang. Putri tunggal pemilik perusahaan yang saat ini dikelola. Wanita yang telah menjadi istri dan ibu dari satu putrinya.
Tidak boleh ada siapa pun yang tahu tentang apa yang dilakukan di masa lalu atau yang sekarang dilakukan.
Itu akan menghancurkan rencana yang telah disusun bertahun lamanya.
“Anda mencoba mengancam, Tuan Kendrick?”
Kendrick terkekeh dan menggeleng pelan. “Bisakah itu disebut ancaman, sementara yang ingin saya katakan adalah suatu fakta.”
Axel tampak menarik napas panjang. Dia berada di persimpangan jurang, jika satu langkah saja salah mengambil keputusan maka jatuh adalah hasil yang akan diterima.
Pria paruh baya itu tampak terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya dia mendongak untuk menatap Kendrick. Tatapannya tampak tak berdaya.
“Ya, aku memang mengenal ibu tirimu. Kami satu angkatan di universitas yang sama, hanya beda jurusan saja.” Axel menjawab, tetapi bukan sesuatu yang diinginkan oleh Kendrick. Jawaban itu sama sekali tak memuaskan.
“Aku tahu hubungan kalian lebih dari sekadar kenalan. Kalian pernah tidur bersama hingga membuahkan bayi,” sahut Alfred kesal. Terlalu basa-basi.
Axel menatap ke arah Alfred dengan tatapan terkejut. Dia tidak menyangka tiga tuan muda ini benar-benar bisa menggalih informasi lama yang telah ditutup rapat.
“Benar begitu kan, Tuan Axel?” sambung Sean menimpali.
Axel benar-benar seperti berdiri di tepi jurang dalam yang bisa menghempasnya kapan saja. Dia berada di antara dua pilihan sulit karena apa yang dikatakan bisa menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
“Cepat katakan!” kata Kendrick tegas.
Axel hanya mengangguk pelan, bibirnya tak mampu mengeluarkan sepatah kata.
“Jawab!” Kendrick membentak dengan aura hitam yang begitu kuat. Sampai dua sahabatnya ikut terkejut dengan bentakan yang tiba-tiba itu.
“Ya, benar. Semua yang kalian tahu mungkin benar adanya,” kata Axel menyerah.
Kendrick menyeringai, pada akhirnya setiap lawannya akan menyerah dengan sendirinya.
“Jadi kau mengakuinya?”
“Ya.”
“Berarti kau juga mengakui Andrean adalah putramu?”
Kendrick menatap lurus manik mata Axel yang tak berdaya.
Axel tampak benar-benar tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sesungguhnya. Karena jika berbohong pun, mungkin tiga pria ini sudah mengetahuinya dan ini hanya untuk memancing kejujurannya.
“Mungkin ....”
To Be Continue .....