
“Dia benar-benar gila.”
Sedari tadi Alfred tak berhenti mengumpat atas aksi Kirana yang sangat nekad.
“Itulah istri Kendrick. Mungkin itu alasan kenapa mereka berjodoh, karena tingkah mereka saat marah sama-sama mengerikan,” sahut Sean sambil membuang napas kasar. Dia dan Indra bergegas menyusul setelah mendapat kabar dari Alfred. Namun, sayang sekali mereka tak berkesempatan melihat tontonan yang mendebarkan.
“Kendrick benar-benar menyusahkan.”
“Kau benar. Kali ini aku setuju denganmu.”
“Dia gila.”
“Sejak dulu.”
Kedua pria itu tengah membicarakan Kendrick dengan leluasa. Entah itu bisa disebut pujian atau cibiran, sungguh mereka sendiri tidak paham dengan jalan pikiran pria bermarga Rusady tersebut.
“Apa yang dilakukan terlalu ekstrem dan hampir membuatku menghadap pada Tuhan,” komentar Indra yang baru datang dan duduk di sebelah Sean.
Ketiga pria bujang itu menjadi pusat perhatian karena visual mereka yang cukup menarik mata kaum hawa.
Obrolan mereka tak jauh-jauh membahas tentang Kendrick, seolah ada sesuatu yang disembunyikan para bujangan itu.
...✿✿✿...
Seharian Sisil diliputi amarah yang membuncah karena kedatangan Kirana mengacaukan semua rencana yang telah disusun. Sementara Rajendra hanya bersikap dingin dan datar seperti biasanya.
Amarah Sisil kembali naik ketika mendengar bahwa kedatangan Kirana ada campur tangan putranya yang tak sengaja memberikan informasi tersebut.
Bahkan Sisil tak segan mengumpat atas kebodohan Andrean yang bermulut besar.
Seandainya Kirana tidak datang mungkin semua orang akan mengetahui tentang kematian Kendrick dan nama Andrean bisa naik ke permukaan.
Namun, semuanya gagal dan itu gara-gara Andrean yang bodoh.
“Mom, ini Andrean.” Terdengar suara dari pintu yang membuat Sisil segera beranjak dan membuka pintunya lebar, memerintahkan putranya untuk masuk.
“Maafkan aku, Mom. Aku tidak tahu jika istri Kendrick dengan berani datang ke mari. Sungguh, ini di luar perkiraanku.”
“Aku tidak sengaja, Mom,” balas Andrean dengan tajam.
“Kau harusnya paham, aku melakukan semua ini demi dirimu. Demi agar kehadiranmu dilihat, diakui meski terlambat. Tapi dengan tingkah ceroboh yang kau lakukan, semuanya jadi berantakan.”
“Cukup, Mom. Aku datang bukan karena ingin bertengkar denganmu,” desis Andrean muak. Dia menyerahkan ponsel dan menunjukkan sesuatu ke hadapan wanita itu. “Sudah, kan? Oke, aku akan pergi.”
Andrean segera menghilang setelah menyampaikan maksud kedatangannya.
Sisil segera mengganti pakaian dan mengambil tas kemudian menghampiri Rajendra yang ada di ruang kerja. Sebelum masuk dia mengetuk pintu lebih dulu.
“Aku akan pergi sebentar, ada urusan dengan teman.”
“Pergilah,” jawab Rajendra acuh tak acuh.
“Aku juga akan ke gereja menemui Pastor Gilbert, ada yang ingin kau sampaikan?”
“Tidak.” Satu kata singkat, padat dan jelas yang dikeluarkan Rajendra membuat Sisil cukup mengerti untuk tidak banyak bicara.
...✿✿✿...
“Sudah ada kabar dari Tim SAR dan kepolisian terkait pencarian Kendrick?”
“Belum.”
“Kenapa kamu tenang sekali?” tanya Diah dengan mata memicing curiga.
“Lalu aku harus apa? Kamu mau aku sendiri yang turun tangan untuk mencarinya? Jangan ngaco kamu. Doakan saja apa pun dan di manapun Kendrick berada dia selalu dalam lindungan Tuhan.” Hanin menggeleng gemas menatap istrinya yang tampak gusar.
“Tanpa kamu beritahu sekalipun aku selalu mendoakan putraku,” ujar Diah sinis.
Hanin menatap punggung Diah yang menjauh. Bibirnya tersungging senyum samar, “Semakin sedikit yang tahu akan semakin baik. Maafkan aku.”
To Be Continue ....