Affair With CEO

Affair With CEO
Calon ayah



Setelah ketegangan yang terjadi beberapa saat yang lalu, tiba-tiba Kirana jatuh tak sadarkan diri. Membuat Kendrick dibuat panik dan terkejut.


“Dasar penyakitan!” ucap Rajendra dengan nada yang tak sama sekali enak didengar.


“Tutup mulutmu, Dad. Jika tak bisa berkata baik setidaknya lebih baik kau diam,” sahut Kendrick, membawa tubuh sang istri menuju kamar.


“Mom, tolong hubungi dokter.”


Setelah merebahkan tubuh sang istri di ranjang, Kendrick mengusap wajahnya kasar. Dia menggenggam tangan wanita itu dengan erat, mencium punggung tangannya dengan lembut.


“Kiran, bangun, Sayang.”


Tak lama dokter datang segera memeriksa kondisi Kirana. Tak lama wanita itu terlihat mengerjapkan mata sebelum akhirnya terbuka lebar dan menyadari keberadaannya.


“Apa yang Anda rasakan, Nona?” tanya dokter itu dengan bahasa Inggris.


“Hanya sedikit pusing, sepertinya aku masuk angin beberapa hari ini,” jawab Kirana pelan.


“Kapan Anda terakhir kali datang bulan?”


Deg!


Kirana menegang mendengar pertanyaan itu. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali kedatangan tamu. Coba mengingat-ingat sampai akhirnya dia menjawab dengan yakin.


“Aku sudah lama tak mendapatkan datang bulan. Mungkin dua atau tiga bulan.” Seingatnya, sebelum dia liburan bersama dengan Kendrick, dia mendapatkan tamu bulanan dan tak pernah mendapatkannya lagi hingga detik ini.


“Anda bisa coba memeriksanya. Cukup sediakan urine Anda di sini.” Dokter tersebut menyerahkan sebuah tabung kecil.


Setelah Kirana keluar dari kamar mandi, dia disambut pelukan erat sang suami.


“Kita akan mendapatkan adik untuk Rina dan Lina,” ucap Kendrick mencium seluruh wajahnya.


“Aku hamil?”


Kendrick mengangguk dengan mata berbinar.


“Jika dihitung dari waktu terakhir kali Anda datang bulan, kemungkinan kehamilan Anda sudah berusia 12 minggu. Untuk lebih jelasnya, bisa langsung konsultasi dengan dokter kandungan,” jelas dokter dengan senyum ramah.


“Terima kasih.”


Setelah kepergian dokter, Kirana terduduk lesu di ujung ranjang. Mengapa tak pernah terpikir bahwa selama ini dia tengah mengandung. Bahkan jika diingat, dia pernah menjadi korban kekerasan dari mantan suami. Selama ini dia tak pernah merasakan tanda-tanda kehamilan seperti mengandung Rina dan Lina dulu.


“Aku senang sekali, Kiran. Semoga dengan hadirnya calon anak kita, daddy bisa luluh.”


Kirana mengangguk, ragu. “Semoga saja.”


“Nggak usah berlebihan, Ken.”


“Nanti sore kita periksa ke rumah sakit, ya.”


Kirana mengangguk patuh. Dia kembali berbaring dengan mata terpejam.


...✿✿✿...


Ditemani dua pengawal, Kendrick mengantar sang istri dan membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini.


Dia membawa pengawal untuk melindungi mereka dari paparazi pencari berita. Keluarga Rusady memang bukan keluarga biasa, setiap apa yang mereka lakukan bisa saja menjadi sorotan. Jika di Indonesia, mereka bisa melakukan semuanya dengan aman, berbeda dengan di sini. Semua orang tahu dan mengenal siapa Rajendra Rusady, pemilik RD Group yang memegang kendali penuh.


“Selamat sore, Tuan dan Nyonya. Apa yang bisa saya bantu?” sapa dokter di sana ramah menggunakan bahasa Jerman.


“Aku ingin memeriksakan kondisi istriku, dia tengah hamil. Tapi kami tak tahu pasti berapa usia kehamilannya.”


Tampak keterkejutan di wajah dokter tersebut. Dokter wanita itu jelas tahu siapa pria tampan di hadapannya saat ini, pewaris utama RD Group yang santer dibicarakan memiliki hubungan dengan pebisnis wanita bernama Yemima Sandrez.


“Silakan minta istri Anda berbaring di atas ranjang. Kami akan memeriksanya.”


Kendrick mengintruksikan sang istri sesuai permintaan dokter. Setelah itu terlihat sebuah alat menyentuh perut sang istri dan sebuah gambar muncul di layar.


Dokter menjelaskan, disimak dengan baik oleh pria yang akan menjadi ayah tersebut. Sesuai perkiraan dokter sebelumnya, usia kehamilan Kirana memasuki 12 minggu atau sekitar tiga bulan.


Sebuah vitamin penguat kandungan dan mual diberikan sebelum mereka pergi. Tak lupa dua pengawal segera meminta dokter tersebut untuk tutup mulut tentang siapa dan apa yang terjadi baru saja.


Mereka sampai di rumah di saat makan malam. Keduanya langsung menuju ruang makan, tetapi suara manja seseorang membuat Kirana mematung.


Wanita itu ... wanita itu adalah seseorang pernah datang dan memarahinya di kantor. Jadi, apakah dia wanita yang dimaksud sebagai calon istri dari suaminya?


Yemima mendekati Kendrick, ingin memeluk pria itu tetapi yang pria itu justru menghindar dan memberikan jarak, membuat wajah wanita itu langsung memerah malu.


Ketika pandangannya beralih ke sebelah Kendrick, dia langsung menatap sinis sambil berdecak, “Jadi kamu lebih memilih wanita rendahan ini dibandingkan denganku, Ken?” ucapnya dengan bahasa Jerman.


“Jaga bicaramu! Dia istriku,” sentak Kendrick kasar.


“Duduk dan makan. Meja makan tak patut digunakan sebagai medan pertempuran.” Sisil melerai.


Mereka semua duduk dengan tenang. Rajendra sama sekali tak menatap ke arah anak dan menantunya. Pria paruh baya itu hanya bicara dengan Yemima, bahkan sikapnya seolah menunjukkan seberapa dekat hubungan mereka.


“Nggak udah diambil hati, biarkan saja tua bangka itu bersikap sesukanya,” bisik Kendrick di telinga sang istri dengan bahasa Indonesia yang jelas tak akan dimengerti oleh mereka.


To Be Continue ....