Affair With CEO

Affair With CEO
Belajar menerima



Sore harinya saat Kendrick pulang dan masuk kamar, Kirana langsung menubruk tubuh pria itu. Memeluknya erat dan terisak pelan.


“Maafkan aku, Ken,” ucap Kirana lirih disela isak tangisnya.


Kendrick mengusap punggung wanita hamil itu dengan lembut untuk menenangkan.


“Maafkan aku juga, Kiran.”


Kirana menggeleng lemah. Mereka berdua tidak bersalah, keadaan dan tekanan yang terjadi membuat mereka berdua sedikit emosional. Namun, sebisa mungkin Kirana ingin mengalah dan lebih dulu minta maaf untuk memperbaiki keadaan.


“Maaf membuatmu harus berada di posisi seperti sekarang. Andai kamu nggak memilihku, semuanya pasti akan baik-baik saja.”


Apalagi saat tahu bahwa perusahaan peninggalan mendiang mertuanya harus dijual, perasaan bersalah semakin dirasakan oleh Kirana.


“Jangan ngomong kayak gitu, Kiran. Apa pun keadaannya, anggap saja ini ujian. Ujian untuk membuat kita berproses menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa.”


“Maafkan aku.”


“Sudah jangan menangis lagi. Aku janji semuanya akan baik-baik saja.”


Kirana melepas pelukan dan membiarkan suaminya membersihkan diri lebih dulu.


Dalam sebuah hubungan memang harus ada salah satu yang mengalah dan menurunkan ego. Tidak semuanya bisa diselesaikan dengan pertengkaran dan gengsi tinggi.


Belajar memahami, belajar mengerti dan belajar untuk saling menghargai satu sama lain.


Rumah tangga itu memang tidak selalu bisa berjalan mulus. Akan ada pasang surut dan masalah yang menghampiri.


Belajar untuk saling meredam emosi dan membicarakan semuanya dengan kepala dingin.


Kendrick keluar dari kamar mandi dan segera mengambil pakaian yang telah disediakan sang istri.


“Gimana progresnya?”


Kendrick menoleh dan tersenyum tipis sebelum menjawab, “Lancar untuk saat ini. Doakan saja semoga tidak ada kendala.”


Namun, berbeda dengan bibirnya yang mengatakan baik-baik saja. Hatinya berkata lain. Kendrick tahu bahwa selama sang ayah belum mendapatkan yang diinginkan, dia tidak akan menyerah begitu saja.


Pria tua yang memiliki sifat arogan dan memiliki harga diri yang tinggi. Menerima kekalahan dengan tenang sama sekali bukan sikapnya. Kendrick yakin, ada rencana yang lebih besar lagi yang akan menghampiri.


“Tuan Rajendra pasti akan melakukan apa pun cara untuk membuatmu kembali, Ken.”


“Biarkan mereka melakukan apa yang diinginkan. Aku hanya akan kembali bila mereka telah nerima kamu,” ujar Kendrick tanpa keraguan.


Kirana tersenyum dan mengangguk. Mengajak sang suami turun ke meja makan dan menemaninya makan malam yang terlewat.


Pria itu selalu berangkat pagi, pulang malam. Tak pernah memiliki waktu luang seperti dulu. Namun, Kirana mengerti. Sang suami tengah berjuang saat ini.


Setelah memanaskan makanan, Kirana melayani sang suami.


Sambil menatap sang suami makan, air mata membasahi pipi putihnya. Tangannya segera mengusap buliran bening itu sebelum sang suami melihatnya.


“Mau nambah nggak?” tanya Kirana pelan.


“Nggak usah. Aku kenyang,” ujar Kendrick.


Setelah makan mereka kembali ke kamar dan naik ke atas ranjang.


Kendrick menarik sang istri ke dalam pelukan. Menciumi puncak kepalanya, lalu mengingat sesuatu. Dia menanyakan tentang pertemuannya dengan Zidan dan apa yang tengah mereka bahas.


Kirana menceritakan semua yang dikatakan Zidan padanya. Tentang siapa yang membebaskannya, apa tujuan mereka dan tak lupa memberitahu tentang pertemuan tak sengajanya dengan Andrean dan Sisil.


Kendrick hanya diam, tak membalas apa pun. Matanya menatap kosong seperti memikirkan sesuatu.


“Sudah malam, ayo tidur,” ucap Kendrick tak membahas masalah yang baru saja diceritakan.


“Kamu tahu tentang Andrean?” tanya Kirana hati-hati.


“Tahu, hubunganku dengannya tak begitu baik. Sudah, jangan bahas mereka. Ayo tidur.”


Kendrick merapatkan tubuh dan mendekap sang istri dengan erat, tetapi tetap memberikan ruang gerak untuk perutnya yang kian membesar.


Setelah cukup lama terdengar suara dengkuran halus yang membuat mata hitam Kendrick terbuka. Kepalanya menunduk dan mendapati sang istri telah lelap dalam pelukannya.


Dia memindahkan kepala sang istri yang menggunakan tangannya sebagai bantal. Kemudian turun dari ranjang dengan hati-hati dan pergi ke ruang kerja.


Kendrick yang tadinya menunjukkan raut wajah lembut ketika bersama sang istri, berubah dengan cepat. Wajahnya datar dengan rahang yang mengeras, tatapan matanya tajam bagaikan anak panah yang siap menghunus mangsa. Kedua tangannya mengepal dengan erat, ada kilat kemarahan yang terpancar dari manik hitam kelam tersebut.


Dia segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Entah siapa yang ada di ujung panggilan, yang pasti pembicaraan mereka tampak begitu serius.


✿✿✿


Kendrick mendapati informasi dari Indra bahwa sang ayah membeli mansion dan kini menetap di sana untuk mengurus perusahaan.


Andrean masih di Jakarta. Namun, pria itu tidak tinggal bersama dengan Sisil. Pria itu tinggal di sebuah penthouse mewah sendirian.


Kendrick memang diam, tetapi dia tak benar-benar melepaskan orang-orang yang ingin menghancurkan rumah tangganya. Untuk saat ini dia hanya mengirimkan orang untuk memantau apa yang dilakukan mereka.


“Sudah siap?” tanya Kendrick menghampiri sang istri yang masih berhias.


“Aku kelihatan gendut ya pakai ini.” Menunjuk dress yang dipakai.


“Kamu justru terlihat semakin seksi, Kiran,” bisik Kendrick mengecup pelipis sang istri.


Mood dan suasana hati ibu hamil itu sering berubah-ubah. Jadi Kendrick sebisa mungkin selalu mengalah dan tak memancing keributan perihal hal-hal sepele.


“Ya sudah, ayo. Mama dan papa sudah berangkat?”


“Sudah, bareng sama Indra dan Massayu.”


Kiran yang sudah siap berangkat harus kembali mengurungkan niat karena pria tampan di sampingnya menatap tajam. Tatapan itu tertuju pada kakinya yang dibalut high heels setinggi lima senti.


“Ganti,” ucap Kendrick dingin.


“Nanti aku pendek,” jawab Kirana dengan bibir mengerucut.


“Nggak masalah, kamu tetap paling cantik.”


Sedikit terpaksa dan kesal Kirana segera berganti memakai sepatu flat yang senada dengan dress yang dipakai.


Sekali lagi dia bercermin. Memastikan penampilannya tidak akan berbanding terbalik dengan sang suami yang tampak tampan dan mempesona.


Mobil melesat menuju tujuan. Hari ini adalah pembukaan resmi showroom mobil Kendrick. Lumayan besar karena pria itu menggelontorkan uang yang tidak main-main, menjual beberapa koleksi mobil demi membuka bisnis tersebut.


Memulai usaha dari nol lagi. Memang selalu ada yang harus dikorbankan.


Sesampainya di sana suasana telah ramai. Ternyata Kendrick mengundang kenalannya dan beberapa rekan bisnisnya terdahulu.


Kendrick pandai memanfaatkan peluang. Mengundang jajaran pengusaha untuk membuat branding dan mendongkrak popularitas.


Kirana diperkenalkan sebagai istri. Membuat wanita itu merasa benar-benar berharga. Sang suami tidak menyembunyikan pernikahan mereka lagi. Senyum terbit di bibirnya.


Kirana yang memang mengenal beberapa dari mereka tersenyum sopan. Pembawaan wanita itu tenang, elegan dan tampak menawan dengan perut besarnya.


Acara potong pita dan syukuran usai. Kendrick memberikan sedikit sambutan dan berterima kasih pada semuanya yang telah hadir.


Keluarga, sahabat dan kenalannya.


Acara usai pukul dua siang. Kendrick segera mengajak sang istri pulang, dia tidak mau istrinya kelelahan.


“Mau mampir ke mana?” tanya Kendrick.


“Langsung pulang saja.”


Namun, belum sampai mereka masuk mobil. Keduanya dikejutkan dengan sosok Rajendra dan Sisil yang ternyata sedari tadi menjadi penonton di dalam mobil.


Pria tua itu tersenyum sinis sambil berkata, “Hanya ini yang bisa kau lakukan? Meninggalkan perusahaan hanya demi bisnis rendahan ini. Memalukan!”


“Kendrick, perusahaan membutuhkanmu,” ucap Sisil dengan pelan.


“Tapi aku tidak butuh semua itu, Mom. Aku seorang suami, tanggung jawabku sekarang adalah memastikan istri dan anak-anakku mendapatkan kenyamanan. Untuk apa harta dan segalanya jika mereka tak bahagia? Aku seorang pria terhormat yang tidak akan menelantarkan anak istri demi kepentingan pribadi,” sindir Kendrick membalas tatapan sang ayah. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis.


“Pria terhormat tidak akan memilih wanita rendahan, Kendrick.” Sisil tengah membela suaminya.


“Lebih rendah mana istriku yang memang berstatus janda, daripada seorang istri yang mengandung benih pria lain. Itu melukai harga diri seorang suami, Mom.”


Telak.


Kata-kata Kendrick membungkam Sisil. Wanita yang biasanya selalu menampakkan senyum palsu itu mengepalkan tangan marah. Urat-urat di lehernya tampak menegang dengan wajah yang sudah merah padam.


Rajendra merasa terhina dengan ucapan putranya. Selama ini dia selalu mengubur aib itu, tetapi diingatkan lagi dan justru menjadi boomerang untuk mereka berdua.


“Kendrick!” teriak Rajendra marah.


“Tolong jaga emosi Anda, Tuan Rajendra. Anda sudah tua, tekanan darah tinggi tidak baik untuk kesehatan,” ucap Kirana dengan senyum yang tampak menyebalkan di mata pria tua itu.


“Benar kata istriku, Dad. Tolong tetaplah sehat dan panjang umur agar hartamu semakin banyak dan bisa mengubur dirimu saat kau tiada.”


Kendrick segera membawa Kirana pergi. Meninggalkan sepasang suami istri yang kini menatap mereka dengan tatapan membunuh.


Kendrick sadar ucapannya kasar dan keterlaluan. Namun, dia tidak bisa diam saja saat istrinya dihina seperti itu.


Menghina istrinya sama dengan menghina dirinya.


“Are you okay, Kiran?”


Kirana mengangguk dengan senyum tipis. Dia sama sekali tidak terganggu dengan ucapan mereka.


Biarlah seluruh dunia menghina dan membencinya, asalkan suaminya akan selalu membela dan melindunginya.


To Be Continue ....