Affair With CEO

Affair With CEO
Jasad



“Jika Kendrick membunuhku, aku akan menuntut balas padamu. Aku akan mencekikmu sampai mati,” balas Sean ikut berbisik juga.


Sean hanya ingin membantu Kirana tanpa ada maksud lain. Dia tentu tidak ingin mengusik apa pun milik sahabatnya, tetapi sebatas menganggumi tidak ada yang melarang, kan?


“Kalian bisik-bisik apa?” tanya Indra penasaran.


Jika sudah berkumpul ada saja ulah mereka. Kesan dingin dan cuek yang melekat pada para pria itu akan sirna jika sudah berkumpul bersama. Mereka tidak perlu mengenakan topeng pura-pura dan bisa menjadi diri sendiri.


“Mau tahu saja!” balas Sean sambil memutar bola matanya.


Tak lama Kirana mulai mengerjapkan mata, lalu air mata kembali membasahi pipi ketika teringat dengan sang suami.


“Ken,” gumamnya pelan.


“Kiran, jangan terlalu banyak berpikir. Mama yakin Kendrick pasti baik-baik saja, dia anak mama yang kuat,” bisik Diah, mengulurkan segelas air putih ke arah menantunya.


“Inginku memang seperti itu, Ma. Aku mau Kendrick baik-baik saja, tapi di mana dia saat ini. Tim SAR dan polisi yang mencari sudah meminta kita tidak berharap banyak.”


Diah hanya menggeleng dan memeluk Kirana lembut, diusapnya punggung rapuh itu penuh kasih. Semenjak mengetahui kecelakaan yang menimpa suaminya, Kirana lebih banyak diam dan tak banyak bicara. Dia lebih suka mengurung diri dan menangisi keberadaan suaminya yang belum ditemukan. Sebagai seorang wanita Diah paham perasaan menantunya dan tidak akan menghakimi.


“Bagaimana jika Kendrick ....” Kirana tak mampu meneruskan kalimatnya.


“Mama yakin Kendrick akan menepati janjinya padamu.” Diah meyakinkan meskipun tidak yakin dengan ucapannya sendiri.


Di satu sisi kesedihan melingkupi keluarga Diah dan Hanin. Di sisi lain ada kebahagiaan yang tengah dirasakan orang-orang kejam yang rakus akan harta. Bisa melakukan apa pun untuk memuluskan rencananya.


Termasuk menghilangkan nyawa orang lain.


Rajendra selaku ayah kandung Kendrick benar-benar merasa abai dengan keadaan putranya.


Dia tetap diam, tenang dan bersikap tak peduli.


Sisil yang merasa rencananya berhasil, semakin ingin meyakinkan diri bahwa Rajendra benar-benar tak menurunkan orang-orangnya untuk membantu mencari Kendrick.


Sudah delapan hari pencarian Kendrick dilakukan tanpa membuahkan hasil, polisi dan tim SAR sudah menyusuri jurang dan sepanjang aliran sungai, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Beberapa polisi bahkan terjun langsung ke desa-desa sekitar untuk mencari barangkali ada warga yang menyelamatkannya. Namun, hasilnya tetap nihil.


Sisil punya mata dan telinga yang melaporkan perkembangan pencarian Kendrick.


Setelah menemui Rajendra, Sisil tersenyum semakin lebar. Dia segera menghubungi beberapa orang untuk menyiapkan sesuatu.


“Jika kau bertemu dengan ibumu, sampaikan salamku. Katakan padanya tidak perlu berterima kasih karena telah mempertemukan kalian. Aku sangat baik, kan?” gumamnya diakhiri tawa sinis.


...✿✿✿...


Sejak semalam baby Ricky mengalami demam tinggi. Semalam dia telah memanggil dokter dan mendapatkan suntikan obat pereda demam. Namun, saat waktu menjelang pagi bayi menggemaskan itu kembali demam tinggi.


Tanpa pikir panjang Kirana membawanya ke rumah sakit dengan pengawalan tiga pria tampan sekaligus.


Siapa lagi jika bukan Sean, Alfred dan Indra.


Untuk sementara baby Ricky harus dirawat sampai kondisinya stabil. Demam pada anak-anak memang hal yang wajar mengingat pertumbuhan pada fisiknya. Namun, demam yang terlalu tinggi juga bisa membahayakan keselamatan.


Setelah disuntik dengan obat tidur, bayi itu tidur dengan tenang. Barulah Kirana bisa bernapas dengan lega. Dia tatap intens wajah putranya yang pucat, lalu mencium keningnya dengan mata berkaca-kaca. Kirana menyadari kesalahannya yang telah mengabaikan anak-anaknya dan hanya fokus meratapi keadaan Kendrick.


Brak!


Suara pintu yang keras menarik Kirana dari lamunan, dia menoleh ke arah pintu dan menemukan Sean tengah tersenyum tipis ke arahnya.


“Maaf mengejutkan. Aku sudah mengurus semua administrasinya,” ucap Sean, duduk didekat Alfred yang fokus bermain ponsel.


“Terima kasih banyak.”


“Kiran, sabar ya. Aku yakin Kendrick akan baik-baik saja.”


Kirana melihat tiga teman suaminya itu dengan senyum tulus. Sejak suaminya menghilang mereka bertiga selalu ada di sekitarnya, membantunya tiap kali dibutuhkan.


Mungkin jika itu Indra, Kirana bisa maklum karena dia bekerja untuk suaminya, tetapi dua pemilik perusahaan itu bukanlah pengangguran yang punya banyak waktu luang untuk menemaninya.


“Sean, Alfred,” panggil Kirana membuat kedua pria itu mendongak.


“Apa?” Alfred bertanya, “kamu butuh sesuatu?”


Kirana menggeleng lantas tersenyum tulus. “Aku tahu kalian bukan pengangguran. Pulanglah dan urus pekerjaan kalian yang sempat tertunda beberapa waktu. Aku sudah cukup baik-baik saja saat ini, ada Indra yang menemaniku. Jangan repotkan diri karena masalah ini, aku sudah banyak menyita waktu kalian,” katanya sungguh-sungguh.


Alfred dan Sean saling tatap dalam diam.


“Kamu nggak suka dengan kehadiran kami?” tanya Sean agak was-was.


“Bukan nggak suka, hanya saja aku menghargai waktu kalian. Aku nggak mau jadi beban siapa pun,” kata Kirana.


“Kamu bukan beban, jangan ngomong seperti itu. Kami tulus melakukannya,” ujar Alfred.


“Terima kasih banyak, tapi jika kalian ingin tetap tinggal silakan saja. Aku hanya nggak mau bikin repot siapa pun, apalagi para CEO seperti kalian.” Kirana terkekeh pelan. Dirinya terlalu meratapi kesedihan hingga tak menyadari banyak orang di sekitarnya yang peduli. Dia terlalu peduli tentang perasaannya sendiri tanpa tahu bahwa orang-orang di sekitarnya juga merasakan hal yang sama.


“Gampang lah, kamu nggak perlu khawatir,” sahut Sean.


Mereka berdua adalah pimpinan, bisa melakukan apa pun yang diinginkan. Ada orang kepercayaan yang bisa mengurus segalanya. Meskipun mereka tampak diam, setiap hari mereka tetap melakukan pekerjaan.


Lagipula sekarang semuanya bisa dilakukan secara online.


Beruntunglah dua pria pewaris yang menikmati hidup dengan limpahan harta sejak mereka dilahirkan.


Tiba-tiba Indra kembali masuk ke dalam ruang rawat dan menatap Kirana dengan intens. Pria itu tadinya izin keluar untuk menerima panggilan.


“Tim SAR sudah menemukan dua korban. Satu pria dan wanita. Mereka ditemukan di aliran sungai yang ada didekat air terjun.”


Harapan yang sempat pupus kembali menyala di mata Kirana. Dia tampak begitu antusias, tidak sabar mendengar kabar baik tersebut.


“Mereka selamat, kan? Apa itu Kendrick?” tanyanya dengan binar mata yang menyala.


“Nggak tahu, kedua jasad itu masih di autopsi karena keadaannya yang tak dapat dikenali.”


Kirana yang tadinya sudah tampak bahagia, kembali muram. Bola matanya bergerak tak beraturan, tubuhnya gemetar dan sedikit lemas. Dia bertanya dengan bibir yang kelu, “Jasad ... mereka mati?”


To Be Continue ....