Affair With CEO

Affair With CEO
Berakhir



Pukul empat sore, mereka sudah berada di pantai Kuta setelah mengunjungi beberapa destinasi wisata.


Wajah mereka semua nampak bahagia, bahkan senyum di wajah Kirana tak pernah luntur menghiasi bibir. Celotehan Rina dan Lina yang lucu selalu bisa mencairkan suasana. Dan Wina yang selalu diam tanpa banyak bicara.


Sambil menunggu matahari terbenam di penghujung senja, mereka menikmati suara debur ombak dan cuitan riang dari para turis yang berlalu lalang hanya dengan memakai bikini. Suasana masih tampak begitu ramai apalagi hari ini akhir minggu.


Duduk di atas pasir, Kirana hanya diam mengamati Wina yang menemani Rina dan Lina bermain di bibir pantai. Wajahnya tampak sangat bersinar dan manis.


“Kamu pulang kapan?” tanya Kirana tanpa menoleh.


“Memangnya kenapa?”


“Aku pulang nanti malam. Penerbangan pukul sembilan. Besok udah kembali ke kantor.”


“Kita bisa kembali hari Senin atau Selasa,” ucap Kendrick.


“Lalu kantor?”


“Aku bosnya, Kirana.” Kendrick menoleh sejenak. “Kita kembali besok siang saja.”


“Terserah padamu.”


Kendrick menggeser duduknya semakin dekat, satu tangan terulur memeluk bahu Kirana dengan erat.


“Aku menikmati setiap momen yang kuhabiskan bersamamu, Ken. Makasih,” ucap Kirana, menyandarkan tubuhnya di bahu pria itu.


“Jadi kamu bersedia menikah denganku?”


Wajah Kirana merona malu, ia mengangguk samar.


“Katakan, Kirana.”


“Tentu, aku mau menikah denganmu, Ken.”


Kendrick bahagia. Ia menghujani wanita itu dengan banyak kecupan yang penuh cinta. Tiada lagi keindahan yang nampak di pelupuk mata kecuali ditemani orang-orang terkasih.


Setelah menikmati sunset, mereka makan lebih dulu sebelum memutuskan kembali ke hotel.


...✿✿✿...


Pukul sebelas malam ketika Kirana baru saja mengaktifkan ponsel, serbuan notifikasi muncul bergantian. Nomor Zidan dan Ajeng yang paling banyak menyerbu.


Setelah beberapa menit tiba-tiba ponselnya kembali berdering dengan nama pemanggil Zidan. Sebelum menjawab, dia menghembuskan napas panjang lebih dulu.


“Kamu di mana, Kirana?” pekik suara tersebut nyaring.


“Keluarga kesusahan, justru kamu menghilang gitu aja. Apa sebenarnya yang ada dalam otakmu itu, hah?”


“Lho ... tunggu dulu. Yang kamu maksud keluarga itu siapa? Jangan ngaco kamu!”


“Kita bahkan masih belum bercerai! Aku masih suamimu.”


“Aku muak sekali mendengarnya. Kamu dan keluargamu itu emang nggak punya malu, ya. Bahkan terakhir kali kalian masih menghinaku, giliran susah baru dicari.”


“Aku tidak akan menceraikanmu!”


“Lakukan sesukamu. Keputusanku sudah bulat bahkan kamu nggak akan bisa menghalanginya.” Kirana menarik napas panjang. “Nikmati setiap perbuatan buruk yang udah kalian lakukan. Bye!”


Setelah panggilan diputus sepihak, dia memasukkan nomor ponsel Zidan and the geng ke dalam daftar blokir.


Dua puluh menit setelah memastikan kedua anaknya tidur lelap, dia keluar dan masuk ke kamar Kendrick. Disambut harum maskulin yang menyegarkan. Pria itu duduk di sofa ditemani dengan beberapa kaleng bir yang telah kosong.


Tanpa banyak kata dia langsung mendekat dan duduk dipangkuan pria itu. Mengecup bibirnya singkat sebelum menguap beberapa kali.


“Yuk tidur, aku ngantuk banget,” ujar Kirana yang sudah bangkit dan menuju ke arah ranjang.


Kendrick mendesis pelan, kepalanya menunduk ketika menyadari sesuatu dibalik celana yang dipakai sudah mengembang dan nampak menonjol.


“Bisa-bisanya ngajak tidur setelah membangunkan ular pyton. Kamu harus bertanggung jawab, Kirana.”


Segera pria itu menyusul ke arah ranjang dan menerkam Kirana, hingga suara-suara desah penuh cinta kembali memenuhi seisi ruangan. Gairah kembali membakar di antara keduanya.


Sampai pada akhirnya, tubuh atletis pria itu ambruk dengan suara napas yang memburu.


“Terima kasih, Sayangku.” Kendrick mencium keningnya.


Namun Kirana sudah tak merespon apa pun. Hingga Kendrick menarik selimut dan memeluk wanita itu semakin erat.


...✿✿✿...


Sebelum pulang Kendrick mengajak mereka mengunjungi pusat oleh-oleh terkenal di Bali. Beberapa barang telah dibeli, menggunakan uang pria itu tentunya. Padahal Kirana sudah menolak, tetapi pria itu kekeh.


Setelah membeli oleh-oleh, mereka bersiap kembali ke Jakarta.


Hari penuh cinta telah berakhir, saatnya kembali pada dunia nyata.


To Be Continue ....