
Waktu sudah menunjukkan dini hari, tetapi mata enggan terpejam. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan membuat pikirannya melalang buana.
Sesaat setelah mereka kembali memasuki kamar, Kendrick tak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Pria itu tidak mengatakan detail apa yang dibicarakan, tetapi intinya mengatakan bahwa Rajendra Rusady tengah menentang hubungan mereka.
Walaupun dia tahu yang terjadi, tetapi mendengarnya langsung dari mulut Kendrick membuatnya tiba-tiba dilanda perasaan yang sulit dijelaskan. Sebagai wanita yang berstatus janda dengan dua orang putri, Kirana menyadari mungkin itu salah satu alasan yang membuat mereka tidak setuju.
Sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya, ranjang di sisi yang kosong bergerak pelan kemudian sebuah tangan besar memeluk pinggangnya.
“Kenapa nggak tidur? Ini sudah menjelang pagi, lho.”
“Sama sepertimu, aku juga nggak bisa tidur, Ken.”
“Jangan dipikirkan, aku yakin kita bisa lewati ini sama-sama.”
“Pasti karena statusku, ya.” Tiba-tiba Kirana berucap lirih.
“Udah tidur, jangan terlalu banyak berpikir. Besok kita akan bicara sama-sama.”
Kendrick sedari tadi berdiam di balkon dengan menyesap segelas wine dan sebatang rokok yang mengepulkan asap beracun. Diam dengan banyak pemikiran, juga keputusan untuk besok. Dia tidak ragu dengan hubungannya, tetapi dia meragukan bahwa orang tuanya benar-benar akan memberikan kesempatan.
Dia tahu seberapa keras hati Rajendra Rusady yang selalu lebih memilih nama baik dan status. Pria tua itu selalu ingin semuanya berjalan sesuai keinginan tanpa memberinya pilihan. Baginya, nama baik adalah hal yang paling utama.
“Ken, kamu udah tidur?” tanya Kirana yang tak mendapatkan sahutan.
Setelah tiga puluh menit, Kendrick bisa mendengar napas halus dan teratur milik sang istri. Dia memilih diam karena tak ingin membuat sang istri semakin banyak pikiran. Kita lihat saja besok, apa yang akan terjadi, pikirnya.
“Selamat malam istriku, mimpi indah.”
...✿✿✿...
Keesokan paginya, sekitar pukul delapan pagi keduanya sudah siap turun ke ruang makan. Tak ada pembicaraan selama mereka sarapan, setelah sarapan baru mereka duduk kembali di ruang keluarga.
Pria paruh baya dengan tatapan tajam itu menatap Kirana. Wajah pria paruh baya itu terlihat mengerikan dan membuat wanita itu gugup.
Suasana pagi yang seharusnya sejuk, terasa begitu panas. Euforia di ruangan ini bahkan terasa sangat berbeda saat pertama kali masuk.
“Apa kau bahagia?” Pertanyaan Rajendra diarahkan untuk Kirana dalam bahasa Inggris.
“Apa definisi bahagia menurut Anda?” Kirana membalikkan pertanyaan yang seketika membuat rahang pria itu mengeras. Bahkan Sisil nampak membulatkan mata mendengar ucapannya.
“Tidak punya etika! Orang bertanya harusnya dijawab, bukan justru membalikkan pertanyaan.” Mata pria itu hampir saja melompat keluar.
Kirana tersenyum. Bahagia itu berbeda menurut versi masing-masing, termasuk dirinya. Versi kebahagiaan macam apa yang tengah ditanyakan.
“Maaf,” ucap Kirana masih dengan senyum termanis yang diberikan. “Anda bertanya tentang definisi bahagia, menurut Anda apa ukuran kebahagiaan hanya berpatokan pada materi, uang, kemewahan atau sebuah kedamaian?”
“Begini wanita yang kau bawa untuk menemui kami? Tidak beretika. Dia semakin menunjukkan di mana tempatnya!” ucap Rajendra, menoleh sekilas ke arah sang anak.
“Semakin hari kau semakin berani melawan. Semenjak mengenal wanita ini, kau semakin tidak bisa dikendalikan, Ken!”
“Aku berhak membela istriku jika daddy menyudutkannya seperti itu. Dia istriku, tanggung jawabku.”
“Diam, Ken. Biarkan daddy bicara dengan istrimu.” Sisil memperingati, suaranya lembut tetapi senyum sinis terpatri di bibirnya.
Kirana sebenarnya meradang dengan ucapan pria itu, tetapi dia masih bisa mengendalikan diri dengan baik. Dia sudah melatih kesabaran bahkan sejak masih menjadi istri Zidan. Mungkin yang akan diketahui orang hanya sikapnya yang bar-bar dan pemberontak. Namun itu hanya baru-baru ini saja, sebelumnya dia selalu mengalah dan diam, bahkan masih menghormati seluruh keluarga pria itu. Dia tidak diajarkan melawan orang yang lebih tua, kecuali orang-orang tersebut memang sudah tak layak dihormati lagi.
Ada saatnya diam, ada saatnya melawan. Ada saatnya tunduk aturan dan ada kalanya keluar dari zona nyaman.
“Kendrick sudah memiliki calon istri di sini. Namanya Yemima Sandrez, dia wanita pilihan yang lebih pantas mendampingi Kendrick, dari keluarga terhormat dan yang pasti masih lajang.”
“Aku tidak akan menikahinya!” seru Kendrick, “karena istriku hanya ada satu dan wanita itu adalah Kiran, bukan yang lain.”
“Kau lihat, gara-gara wanita sepertimu, anakku jadi seperti ini. Aku tahu wanita sepertimu hanya mengincar sesuatu.”
Buruk sekali pikirannya, pikir Kirana tak menyangka.
“Roy!” teriak Rajendra, memanggil asistennya.
Tak lama pria dengan pakaian rapi masuk membawa dua koper mengkilap, meletakkannya di atas meja dan membukanya.
Semua orang mengalihkan pandangan dengan pikiran yang berbeda saat melihat isi koper tersebut. Isinya adalah tumpukan dollar, sangat banyak.
Kendrick yang tahu ke mana arah pembicaraan Rajendra, segara mengambil tangan sang istri dan menggenggamnya. Dalam hati dia mengumpat dengan banyak sumpah serapah, sudah biasa.
Rajendra akan menilai semuanya dari uang dan kekuasaan. Termasuk membeli cinta yang diagungkan oleh anaknya.
“Semua uang itu akan jadi milikmu. Tinggalkan putraku dan kau akan mendapatkan jaminan kemewahan.”
Kirana tersenyum dengan sorot mata teduh. “Anda terlalu memandang tinggi dengan apa yang Anda miliki, Tuan.”
“Karena kau terlalu rendah, bahkan harusnya kau malu walau hanya sekadar mimpi bersanding dengan Kendrick.”
“Anda terus mengatakan aku wanita tak berpendidikan, lalu, apa begini cara orang berpendidikan bersikap? Melemparkan uang dengan cara murahan hanya untuk memisahkan kami. Maafkan ucapanku yang lancang, tapi orang berilmu tinggi tak menjamin punya adab, contohnya seperti Anda. Merendahkan orang dan meninggikan diri,” sahut Kirana tenang, tetapi tegas. Bibirnya terus tersenyum tanpa ragu.
“Wanita murahan!”
Rajendra segera menyahut tumpukan uang yang ada di dalam koper dan melemparkannya. Pria itu menghujani Kirana dengan lembaran uang. Namun sepertinya wanita itu sama sekali tak terpengaruh, dia tetap memasang wajah tenang bahkan menghentikan Kendrick yang ingin mengeluarkan amarah akibat penghinaan yang dilakukan.
“Sudah selesai Tuan Rajendra? Jika sudah, tenangkan diri Anda karena emosi yang menggebu tidak baik untuk kesehatan. Aku takut Anda tidak mendapatkan kesempatan di lain hari untuk melakukannya. Anda tahu bukan, seseorang yang mudah marah rawan sekali terkena serangan jantung.” Kirana melemparkan senyum, matanya mengedip pada pria paruh baya yang jelas sudah merendahkan harga dirinya.
Dan sikapnya yang seperti itu justru semakin membuat Rajendra merasa terhina. Baru kali ini ada wanita yang terang-terangan berani melawannya.
To Be Continue ....