
Setelah menemui Pastor Gilbert, Sisil langsung pergi ke mall seperti biasa, lalu keluar lagi dan menumpangi taksi menuju sebuah hotel yang sering didatangi.
“Aku merindukanmu.”
Pelukan dan sebuah bisikan hangat itu terdengar begitu merdu di telinga Sisil yang baru melangkahkan kaki ke dalam kamar hotel. Bibirnya melengkung membentuk senyum samar.
“Kau sudah lama?” tanya Sisil melepas tangan yang melingkar di perutnya.
“Lumayan, tapi semuanya terbayar saat melihatmu ada di sini.”
Sisil terkekeh pelan. Dia berjalan menjauh dari pria itu dan memilih duduk di sofa dan langsung meneguk segelas wine yang telah disediakan.
“Tidak ada yang mengikutimu, kan?” tanya Axel.
Sisil menggeleng pelan, siapa juga yang akan mengikutinya. Rajendra bahkan tak pernah peduli dengannya. Jangankan peduli pria yang berstatus suaminya itu bahkan selalu acuh tak acuh meskipun dirinya tidak pulang ke rumah. Bagi Rajendra asal dia tidak mempermalukan nama baik dan kehormatan keluarga, dia tidak akan peduli soal apa pun.
“Kau pikir Rajendra akan peduli padaku?” Sisil terkekeh miris. “Kau yang paling tahu jika sebenarnya dia hanya menjadikanku sebagai istri pajangan. Ada tapi tak dianggap,” lanjutnya semakin menunjukkan betapa menyedihkan hidup yang sebenarnya.
“Rajendra tidak peduli denganmu itu bukan masalah. Masih ada aku yang selalu mencintai dan mendukungmu.”
Sisil mengangguk. “Bagaimana kondisi Hera?” tanyanya.
“Dia masih kritis,” balas Axel sambil terkekeh. “Kurasa dia tidak akan hidup lebih lama jika aku mengirim orang untuk melenyapkan dirinya.”
“Apa kau sudah pastikan istrimu yang bodoh itu telah menyerahkan harta keluarga padamu dan bukan pada putrimu?” tanya Sisil menekankan.
“Hera terlalu mencintaiku hingga apa pun yang kukatakan dia akan selalu percaya dan menuruti semuanya.” Axel mengucapkannya dengan bangga.
“Apa kau yakin putra tirimu itu mati?” tanya Axel sedikit sangsi. Jika memang telah mati seharusnya tak begitu sulit untuk menemukan jasadnya. Apalagi ini sampai berminggu-minggu lamanya, sementara semua korban saja sudah ditemukan.
“Apa kau dengar berita orang yang lolos dari kecelakaan itu masih hidup?” Sisil membalikkan pertanyaan. “Bisa jadi tubuh pria sialan itu sudah dimangsa hewan buas. Itu jurang yang dalam dan dikelilingi hutan, andaipun dia lolos dari kecelakaan tidak akan semudah itu bebas dari maut yang lain.”
“Acaranya lancar, kan?”
Sisil mendengus dan membuang napas kasar. Mengingat rencana mengangkat nama Andrean gagal membuat emosinya kembali naik ke permukaan.
“Tidak. Ini semua gara-gara putramu yang bodoh itu,” umpat Sisil geram.
Sisil menceritakan kekacauan yang terjadi akibat mulut busuk Andrean.
“Sudahlah, dia masih muda dan kadang tidak bisa mengendalikan diri. Tapi selama ini pekerjaannya baik, kau jangan terlalu keras padanya. Aku sudah mendapatkan beberapa berkas penting dari Andrean.”
“Like father, like son,” cibir Sisil dengan malas.
Axel menatap Sisil dengan senyum, sorot matanya tampak berkilat penuh gairah. Dia memeluk Sisil dan mengecup bibirnya dengan liar dan sedikit kasar. Tangannya bergerilya menyelusup dibalik gaun yang dipakai.
Tanpa mereka sadari ada sesosok pria yang menyaksikan kejadian itu dengan tatapan jijik dan muak.
Pria itu membuang muka saat kejadian selanjutnya terjadi sebuah percintaan yang begitu panas dan penuh gairah.
“Benar-benar menjijikan,” katanya dengan gumaman rendah.
To Be Continue ....