Affair With CEO

Affair With CEO
Pertengkaran sengit



Zidan mencengkeram tangan Kirana erat saat wanita itu berniat menghindar. Mereka sudah rapi dengan pakaian kerja, waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, tetapi pria ini sudah memancing keributan saja.


“Jangan terus menghindar!” seru Zidan, matanya menatap tajam wajah sang istri yang terlihat sendu.


“Mau ngomong apalagi? Aku capek debat terus hanya karena masalah itu-itu aja.”


“Ya udah makanya kamu dengerin aku. Semua udah terjadi dan nggak akan bisa diputar ulang. Kamu cuma tinggal menjalani dan menerima semuanya.”


Enak banget kamu ngomongnya. Kamu pikir aku nggak punya hati? Dasar brengsek!


“Buat apa kamu ambil uang sebanyak itu dari ATM?” tanya Zidan mengalihkan pembicaraan.


Kirana tersenyum sinis. “Cuma mau nanya itu aja?”


“Buat apa kamu ambil uang sebanyak itu!” ulang Zidan dengan suara meninggi.


“Kenapa? Kamu nggak terima? Ingat, Mas. Di sana ada hakku dan anakmu. Yang kuambil hanya hakku, aku nggak mau uangku kamu habiskan untuk memanjakan keluargamu. Jangan pikir aku nggak tahu kamu tiap bulan transfer ke keluargamu puluhan juta buat mereka seneng-seneng.”


Tangan Zidan mengepal kuat, matanya menyorotkan kemarahan. “Wajar mereka keluargaku!”


“Sekarang baru ngomong gitu. Dulu ke mana aja! Inget nggak saat kita nggak punya apa-apa, ibumu menghina bahkan menganggap kita sampah nggak guna.”


“Itu hanya masa lalu, bagaimana pun ibu yang udah biayain sekolahku.”


Hanya sampai sekolah menengah. Dulu kita berjuang bersama dari nol, nggak punya apa-apa.


“Inget nggak, buat biaya kuliah dulu kita berdua harus banting tulang. Sehari kadang cuma makan sekali hanya agar kita tetep bisa bayar uang kos. Ke mana ibumu? Dia nggak ada, aku yang menemanimu, Mas.” Kirana menyentak tangan Zidan kasar hingga cengkeraman terlepas.


Saat memorinya memutar kejadian bertahun silam, hatinya didera rasa sakit tiap kali mendengar penghinaan keluarga Zidan.


“Jangan inget sekarang, inget dulu saat kita nggak punya apa-apa. Aku yang ada bersamamu, menemani, bahkan harus rela mengalah bekerja siang malam hanya untuk membantumu membayar uang kuliah. Jangan lupa saat itu, Mas.”


Mereka berdua benar-benar memulai kehidupan dari nol, saat usia baru belasan tahun. Itu mungkin konsekuensi karena memilih menikah muda. Tidak masalah, tetapi kenapa justru saat semuanya telah diraih masalah itu datang menghampiri kehidupan pernikahan mereka.


Dulu, bahkan makan nasi bungkus berdua mereka tetap bahagia. Bahkan saat uang di dompet hanya ada selembar sepuluh ribu, mereka tetap bahagia dan membaginya.


“Tapi ibu wanita yang telah melahirkan suamimu, Kirana.” Zidan terus memberikan pembelaan atas apa yang dilakukan.


“Surgaku ada padanya.”


“Dan neraka akan menghampiri saat kau membuat anak istrimu menangis dan sengsara.”


“Setidaknya aku sudah berbakti pada ibu. Memberikannya semua yang aku bisa.”


“Kamu mengutamakan ibumu, aku nggak ngelarang. Tapi bukan berarti dengan membiarkan anak istrimu terlantar. Kamu pria yang udah menikah, tanggung jawab sepenuhnya adalah anak dan istri, baru ibumu.”


“Jangan keterlaluan, Kirana!” sentak Zidan kasar.


“Dan jangan terus memancingku untuk membongkar semua yang kamu lakukan! Itu menyakitkan,” sahutnya, datar dan begitu dingin.


“Kamu keras kepala dan tidak patuh!”


“Kemudian kamu akan menginjak-injak harga diriku? Jangan harap! Dalam mimpimu sekalipun, itu tak akan terjadi.”


“Lihatlah, kamu semakin menunjukkan dirimu. Semakin hari sikapmu semakin pembangkang dan susah dinasehati.”


“Katakan itu pada dirimu sendiri, Zidan. Ngaca dong. Kamu sebagai suami aja nggak bener. Kamu diam maka akan kulakukan hal yang sama, tapi tidak jika kamu bertingkah.”


Saat Kirana berniat berpaling, Zidan kembali menarik tangannya dengan kasar.


“Istri itu harus nurut apa kata suami. Jangan menjadi istri yang durhaka. Aku nggak pernah mengajarimu berteriak di depanku!”


Egois sekali. Kirana tak akan bersikap kurang ajar jika tidak ada yang memulainya.


“Selama ini aku menurut dan menaruh kepercayaan penuh padamu, tapi kamu mengkhianatinya. Menghempaskan diriku yang sedang terbang dan mematahkan sayapku hingga untuk bangkit aja aku tertatih. Apa selama sepuluh tahun ini aku pernah melawan? Apa pernah aku berteriak dan memaki bahkan menyatakan keberatan? Nggak pernah, kan? Itu bukti rasa hormat dan tanda cintaku padamu, Zidan Pranadipa. Aku mencintai dan mempercayaimu dengan seluruh hidupku, tapi kamu melukaiku berkali-kali. Lalu, haruskah sekarang aku tetap diam dan bungkam?”


Zidan bungkam mendengar segala tumpahan amarah istrinya. Wanita itu benar, selama ini Kirana tak pernah protes dengan apa pun yang dilakukan, bahkan wanita itu selalu mendukungnya bahkan di titik terendah sekalipun.


“Jika kamu merasa kurang dengan sikapku dan apa pun yang selama ini kulakukan. Silakan ceraikan aku,” ucap Kirana datar dan penuh penekanan, setelah itu berpaling.


“Sampai kapan pun, kita nggak akan bercerai Kirana!” desis Zidan sambil mengepalkan kedua tangan.


To Be Continue ....