
Ruang keluarga di rumah besar tersebut dipenuhi oleh dua pasang suami istri yang masih sama-sama diam.
Rajendra dan Sisil, datang di antara mereka dan mengacau dengan berbagai sindiran hingga membuat kumpulan orang-orang yang baru selesai sarapan akhirnya memutuskan pergi.
Rina dan Lina ikut bersama dengan Massayu ke rumahnya. Sengaja mereka membawa kedua anak perempuan tersebut agar tak mendengar perselisihan yang terjadi saat ini.
Diah mengajak Rajendra dan istrinya untuk duduk dengan tenang dan bicara layaknya keluarga.
“Jadi kau bersengkongkol dengan anak ini, Diah?” tanya Rajendra dengan tatapan tajam.
Sebelum menjawab, wanita paruh baya itu menghela napas berat dan mendongak untuk menatap pria yang dulu menjadi kakak iparnya. “Aku hanya melakukan yang kuanggap baik. Demi kebahagiaan anak-anakku.
“Kau membuatnya melawanku. Kau seharusnya tak bertindak sejauh ini.”
“Itu karena sikapmu sendiri. Kau yang membuat anakmu semakin jauh darimu. Seandainya sedikit saja kau mau mengalah dengan anakmu, maka semuanya tidak akan serumit ini.” Diah tak mau kalah.
“Seharusnya dia yang patuh padaku.”
“Maaf, Dad,” ucap Kendrick menyela, “selama ini aku selalu patuh padamu, aku mengesampingkan keinginan demi untuk menuruti semua yang kau mau. Dari semua yang kau katakan, pernakah aku mengatakan tidak padamu? Tidak pernah! Bahkan aku selalu mengatakan ya untuk semua yang kau mau. Tapi, bukan berarti aku tak bisa melawan saat permintaan kecil yang kuberikan kau tolak dengan tanpa perasaan. Aku hanya minta restumu, tapi kau justru menghina istriku.”
“Tapi kau selalu melawan soal jodoh! Yemima, Sarah, Azhari, Madona, mereka pilihan yang terbaik yang bisa kau pilih. Mereka dari keluarga yang jelas dengan status yang jelas. Bukan dari keluarga berantakan dengan ayah yang menjadi narapida!”
Tampak Rajendra melirik ke arah wanita yang duduk di sebelah anaknya.
“Apa yang bisa kau harapkan dari produk broken home macam dia? Bahkan rumah tangganya sendiri saja kacau,” sambungnya dengan penuh penghinaan.
Deg!
Kirana merasakan sesak. Dia tahu sindiran itu diberikan untuk keluarganya. Saat dia ingin pergi, Kendrick menahan tangannya dan menggeleng pelan.
Sebenarnya bukan inginnya berada di antara keluarga yang kacau. Bukan pula harapannya memiliki pernikahan yang kandas. Semuanya rahasia dan tak akan ada yang tahu ke mana akan bermuara.
Siapa pun ingin yang terbaik termasuk dirinya.
“Karena aku bukan boneka yang bisa kau kendalikan soal perasaan, Dad. Aku manusia biasa yang memiliki perasaan, yang mungkin kau sendiri tak pernah memikirkannya.” Kendrick menatap lurus ke depan dengan tatapan datar.
“Menikahlah dengan Yemima atau Sarah. Biarkan dunia tahu bahwa istrimu adalah seseorang yang tepat, bukan seorang janda yang hidupnya berantakan!”
Luruh sudah air mata Kirana mendengar setiap ucapan tanpa perasaan yang dikatakan pria itu.
“Apakah menurutmu pernikahan hanya sebatas itu saja? Kalau kau memang tak punya hati, itu hakmu, tapi jangan menyeret anakku untuk bersikap sepertimu, Rajendra!” Diah yang tadinya masih bersikap tenang, mulai terpancing emosi karena pria di depannya ini selalu membawa kisah masa lalu dari wanita yang menjadi menantunya.
“Ini semua gara-gara dirimu, Diah. Kau membuat putraku jadi lemah dan bodoh.” Rajendra tak mau mengalah, kini dia justru menyalahkan Diah atas semua yang terjadi. Bahkan tak segan mengatakan bahwa Diah yang mempengaruhi Kendrick.
“Cukup, Rajendra! Sudah cukup selama ini kau menekan anakku. Kendrick memang tidak lahir dari rahimku, tapi aku yang membesarkannya dan menganggapnya seperti anakku sendiri.”
Kirana yang berada di antara pertengkaran sengit itu merasakan pusing yang luar biasa. Dia memejamkan mata sejenak sambil memijat pelipisnya yang terasa berat.
“Are you okay?” bisik Kendrick pelan melirik ke arah sang istri yang hanya mengangguk pelan.
“Berhenti mendebatkan masalah ini, Dad. Sudah cukup!” teriak Kendrick keras, dia tidak terima jika Diah diperlakukan buruk oleh sang ayah.
“Jaga bicaramu, Ken. Tidak sepantasnya kau berteriak di depannya.” Sisil menjadi penengah, tetapi bukan membela Kendrick, dia tetap membela suaminya.
“Kau sama saja dengannya, Mom,” lirih pria itu dengan wajah kecewa.
“Kembalilah ke Berlin atau jangan datang sama sekali dan kau akan melihat kehancuranmu, Ken.” Pria itu bangkit bersama sang istri, menatap tajam mereka semua sebelum akhirnya pergi tanpa banyak kata.
“Kiran!” pekik Diah ketika tubuh menantunya terkulai lemah dengan mata terpejam.
Kendrick panik melihat sang istri tak sadarkan diri. Dia segera merebahkan tubuh itu di sofa, meminta Diah mengambilkan minyak kayu putih.
“Jika setengah jam belum ada tanda-tanda bangun, bawa Kirana ke rumah sakit. Dia pasti tertekan mendengar setiap kata menyakitkan yang dilontarkan Rajendra.”
“Aku tidak akan memaafkannya jika sampai terjadi sesuatu dengan istri dan bayiku.”
Kendrick mengusap wajah istrinya. Tak lama Hanin masuk tergopoh, pria paruh baya itu tidak ikut duduk bersama dengan mereka karena kebetulan ada rapat online yang dilakukan.
“Apa yang terjadi?”
Kendrick diam tak menjawab. Dia hanya fokus pada sang istri.
“Apalagi. Sudah jelas pria bau tanah itu mencari gara-gara. Heran aku, apa susahnya mengalah sama anak,” omel Diah dengan emosi.
“Tenangkan istrimu, jangan membuatnya semakin tertekan dengan membahas yang terjadi. Ibu hamil memang terlalu sensitif dan mudah terbawa perasaan.”
Selama ini Kirana adalah sosok yang kuat, mustahil jika hanya karena ucapan saja dia akan tertekan. Namun semuanya berbeda mengingat dia dalam keadaan hamil. Pikirannya harus tetap waras agar kondisi ibu dan janin tetap sehat.
To Be Continue ....
..._________...
Hi, pembaca tersayang 🤗 Jumpa lagi setelah lama berpisah. Maafkan aku yang libur selama beberapa hari ini. Banyak kesibukan di dunia nyata yang bikin aku jadi lupa sama dunia halu yang penuh tipu-tipu 😂
Aku usahakan mulai update rutin lagi walaupun sehari hanya bisa update sekali.
Big love — Memey ❤️