Affair With CEO

Affair With CEO
Sudah tobat



“Jadi dia sudah mengembalikan uangnya?” Kendrick mengepalkan tangan erat. “Darimana dia dapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?”


“Aku tidak tahu, Ken.” Sean mendengkus pelan.


“Sialan! Rencananya bisa gagal jika begitu,” umpat Kendrick kesal.


Saat ini kedua pria itu sedang berada di sebuah Cafe yang terletak tak jauh dari kantor Sean.


Sengaja Kendrick meminta bertemu langsung untuk mendengar penjelasan dari sahabatnya saat semalam dia baru saja mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan tersebut.


“Dia cerdas juga, meminta surat pernyataan tentang kebebasan dan tidak akan ada lagi tuntutan suatu hari nanti.”


“Kenapa juga kau ambil uangnya, Sean. Jika begitu lebih baik biarkan dia di penjara saja.”


“Kau tidak mengatakannya, Dude. Jadi jangan marah, masih banyak cara lain yang bisa dilakukan.” Sean menepuk pundak sahabatnya pelan.


“Lagipula kau tidak kekurangan uang untuk melakukan apa pun sesuai keinginan,” ucap Sean lagi. “Seorang Aska Kendrick Rusady seharusnya bisa melakukan apa pun tanpa harus membuang tenaga dan pikiran. Ini sama sekali bukan dirimu,” sambungnya diakhiri tawa pelan.


Mau tak mau kendrik ikut tertawa. Benar yang dikatakan Sean, bersikap susah bukankah dirinya sama sekali mengingat dulu dia bisa melakukan banyak hal tanpa pikir panjang.


Oke, itu memang sebagian sikapnya, tetapi itu dulu sebelum dia kembali ke Indonesia.


“Kudengar Yemima datang dan membuat keributan di kantor?”


“Dasar Willy si tukang gosip, pasti dia kan yang nyebar berita.” Kendrick mendengkus pelan.


“Bukan hanya Willy, bahkan kudengar seluruh karyawan mulai membicarakannya diam-diam.”


“Siapa bilang?”


“Indra yang mengatakannya. Bagaimana respon wanitamu?”


Kendrick menggeleng pelan. “Dia bukan tipe-tipe wanita yang suka bergosip. Lagipula aku sudah mengusirnya kembali ke Jerman,” ucapnya.


“Jangan mempermainkan perasaan wanita itu, Dude. Dia sudah pernah terluka, jangan menambah lagi lukanya.”


“Aku serius dengannya, Sean. Lagipula semenjak kapan dirimu peduli pada perasaan wanita?” Pria itu menaikkan sebelah alisnya.


Sean, Alfred dan Kendrick adalah tiga serangkai yang dulu suka dengan tantangan. Semasa muda dulu mereka adalah tiga pria brengsek yang suka mematahkan hati wanita.


Semenjak kembali ke Indonesia, Kendrick sudah menghentikan semua kebiasaannya. Sementara kedua sahabatnya masih menikmati hal-hal gila tersebut. Saat Sean mengatakan kalimat bijak, justru membuatnya aneh.


“Jika itu si cantik istri orang, mungkin pengecualian. Aku sudah mengenalnya selama beberapa tahun, dia wanita yang baik dan sayang keluarga.”


“I know, thanks sudah mengingatkan.” Kendrick menyadari, bahwa dia tak lagi muda. Bermain-main bukanlah tujuan hidupnya lagi. Sudah cukup dulu dia bersenang-senang di masa muda, sekarang sudah saatnya dia berubah.


“Lalu bagaimana dengan Yemima?”


Yemima memang cantik, dari segi kehidupan dan keluarga dia memang sederajat. Akan tetapi hati tak bisa dipaksa, secantik apa pun parasnya jika tidak menarik di hati, bisa apa.


“Bagaimana dengan keluargamu?” Sean tahu benar bagaimana watak kedua orang tua Kendrick karena mereka tumbuh bersama.


“Aku bisa mengatasinya.”


Sekitar satu setengah jam mereka di sana, Kendrick segera pamit pergi ketika beberapa kali mendapatkan pesan dari wanita yang sedang dibicarakan.


Kirana menanyakan mengapa dirinya belum sampai. Tumben sekali, katanya.


...✿✿✿...


Sekitar pukul sepuluh, Kendrick sudah sampai di kantor dan tak melihat adanya sang sekretaris pujaan.


Langkah kakinya berbelok menuju pantry, dari gawang pintu dia bisa melihat wanita itu sepertinya sedang membuat kopi dari bau harum yang tercium begitu semerbak menyegarkan.


Perlahan langkahnya mendekat dan langsung memeluknya. Tubuhnya sedikit menunduk dan menyandarkan kepala di bahu wanita itu, terlihat sedikit menegang akibat gerakan tiba-tiba yang dilakukan.


“Ken, jangan seperti ini. Nanti dilihat Bu Sumini.” Kirana bergerak tak nyaman.


“Biarkan.”


“Ken!” Mendengar suara yang mulai tak bersahabat Kendrick segera melepas pelukan.


Wajah Kirana terlihat merah dan sayu. Tangan lembut itu mengusap rahangnya pelan sebelum mendorongnya keluar.


“Biarkan aku membuatkan kopi untukmu.”


“Kutunggu di ruangan,” ucap Kendrick.


Kirana membawa dua cangkir kopi ke ruangan Kendrick dan meletakkannya di meja sofa.


“Kamu tumben baru datang?” Kirana memandang pria itu. Pria berwajah tegas yang membuatnya bangkit dari semua keterpurukan yang dirasa.


“Ada urusan di luar. Bagaimana denganmu? Kamu sudah baik-baik saja?”


“Lebih baik berkat kamu.” Tersenyum tipis dan tulus.


Dengan sekali tarikan Kirana sudah berada dalam pelukan pria itu lagi. Kendrick memberikan kecupan dan menghujani seluruh wajah wanita itu dengan sebuah kecupan basah.


“Aku menunggu jandamu ....”


To Be Continue ....