
“Dalam mimpi sekalipun, itu nggak akan terjadi,” balas Kirana dengan susah payah.
Kaki Kirana mencoba menendang Zidan, tetapi semuanya seolah terbaca oleh pria itu hingga dengan lihainya pria itu mengelak dan justru mengapit kedua kakinya.
Zidan menceritakan banyak hal, bahwa Ajeng yang menceritakan bahkan menunjukkan video kedekatannya dengan Kendrick. Tak sampai di situ, ternyata wanita paruh baya itu justru menceritakan hal lain. Bahwa dia mengancam akan mencelakai Luna dan anaknya. Hell, itu kebohongan. Dia tak pernah benar-benar mengatakan itu, lagipula urusannya dengan Zidan dan Ajeng bukan dengan Luna atau anaknya.
Ajeng benar-benar pintar memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.
Saat napasnya mulai berat, matanya mulai terpejam akibat kurang oksigen, tiba-tiba tubuhnya terhempas jatuh, tetapi tak benar-benar jatuh karena ada tangan seseorang yang merengkuh tubuhnya.
“Ken,” panggil Kirana dengan seulas senyum tipis sebelum akhirnya benar-benar jatuh tak sadarkan diri.
Kendrick segera melarikan Kirana ke rumah sakit, sementara warga yang lain saat ini sedang berusaha menenangkan Zidan yang hampir dipukuli hingga mati.
Kedatangan Ajeng dan Luna kembali memicu keributan, tetapi untung saja pihak kepolisian lebih dulu mengamankan pria itu.
Tangisan Ajeng dan Luna bukannya disambut baik oleh warga sekitar, justru cibiran yang mereka dapatkan.
Karena semua orang sudah tahu perangai keluarga tersebut. Apalagi dengan Ajeng yang suka mencari keributan.
...✿✿✿...
Mata itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka. Dengan susah payah wanita itu mencoba bangun dan mengamati sekitar.
“Kamu sudah sadar, apa yang kamu rasakan?” tanya Kendrick yang baru masuk ke dalam ruangan.
“Aku kenapa?” tanya Kirana dengan suara serak. Tangannya terulur meraba leher yang terasa perih. “Nyeri banget,” keluhnya.
Kendrick mendekat dan menyingkirkan tangan Kirana.
“Jangan dipegang, lebam biru itu. Tadi udah diobati sama perawat.”
Kendrick mengulurkan segelas air yang langsung diteguk hingga tandas, setelah itu ia terdiam beberapa saat mengingat kejadian yang dialami.
“Bagaimana Zidan bisa datang dan berbuat kasar padamu?”
“Biasa, ada kompor. Entah apa yang dikatakan ibunya, yang pasti dia hanya menuruti emosi tanpa mencari tahu. Itu memang sudah sikapnya.”
“Dia sekarang di kantor polisi.”
Kirana tersenyum penuh arti. “Baguslah, nggak apa-apa aku sedikit bonyok, yang penting Zidan masuk penjara. Ah, bahagianya aku ....” Senyumnya tampak begitu lebar, bahkan mengalahkan sinar mentari di luar sana.
“Jadi kamu sudah merencanakannya?”
“Kamu ini ada-ada saja. Itu bisa membuatmu dalam bahaya, Kiran. Jika orang-orang tak datang menolong, entah apa yang terjadi denganmu,” omel Kendrick.
“Nggak apa-apa aku sedikit berkorban, tapi pengorbanan ini nggak sia-sia.”
Kendrick hanya menggeleng pelan. Merasa heran dan aneh, jika memang hanya ingin mengirim pria itu ke penjara, tak perlu juga berkorban hingga babak belur seperti saat ini.
“Sebentar lagi aku akan mengirim Ajeng menyusul anaknya.” Dengan santainya wanita itu kembali berbaring, bahkan senyum tak lepas dari bibirnya. “Uhhh, tubuhku rasanya remuk,” keluhnya dengan bibir mencibir kesal.
Dan Kendrick hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Kirana yang aneh bin ajaib.
...✿✿✿...
Sore harinya Kendrick membawa Kirana pulang setelah kondisinya benar-benar sudah membaik. Namun, wajah dan beberapa bagian tubuhnya terlihat lebam kebiruan. Belum lagi sudut bibirnya pecah akibat tamparan Zidan yang membabi-buta.
Namun, tak sama sekali terlihat raut penyesalan di wajah. Justru dia terlihat puas dan senang.
Sesampainya di rumah, dia disambut dengan Rina dan Lina yang langsung menangis pilu melihat keadaannya. Bahkan Wina sampai meringis dan mengatakan maaf berkali-kali. Andai saja pagi itu dia tak keluar, maka kejadian seperti ini tak akan mungkin terjadi.
Namun siapa yang bisa menjamin. Zidan dan Ajeng itu sama gilanya, mereka bisa melakukan apa pun tanpa rasa takut. Karena mereka mengedepankan emosi dibandingkan pikiran.
“Makasih, Om. Udah jagain mama.”
“Sama-sama, Sayang. Mamamu tidak apa-apa, dia cuma butuh istirahat saja.”
Rina mengangguk. “Papa jahat banget, sih.”
“Hush, enggak boleh gitu. Bagaimanapun, apa pun keadaannya, papa Zidan tetap papa kalian. Urusan mama sama papa, itu urusan orang dewasa.”
Kirana memang membenci Zidan, sangat. Namun dia tak mau mengajarkan anaknya kebencian yang sama.
“Kamu istirahat dulu aja. Besok tak perlu ke kantor.” Kendrick mengusap lembut rambut panjangnya.
“Ya-iya, malu juga mau ke kantor dengan wajah seperti ini.”
“Tapi masih cantik, kok.”
“Pembohong.”
“Kamu masih cantik. Di mataku, semua tentangmu terlihat indah.” Sebelum pergi Kendrick menyempatkan mencium puncak kepala Kirana. “Istirahat, hubungi aku jika kamu butuh sesuatu.”
To Be Continue ....