Affair With CEO

Affair With CEO
Kepulangan Baby Ricky



Kirana mendapatkan kabar dari dokter bahwa kondisi putranya sudah stabil dan sudah bisa dibawa pulang.


Wanita itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Dia memeluk suaminya erat dengan senyum lebar karena sebentar lagi mereka bisa berkumpul bersama.


Setelah keluar dari ruang dokter, Kendrick segera mengurus administrasi sementara Kirana segera menghubungi para orang tua.


Kirana menuju ruangan bayi dengan hati yang bahagia. Kebahagiaan itu tak lagi mampu dijelaskan dengan kata-kata. Namun, langkahnya terhenti saat tak sengaja matanya menangkap sosok yang tak asing.


Dua orang pria duduk di ruang tunggu dengan wajah serius.


“Tuan Rajendra,” gumam Kirana. Dia menyipitkan mata, memperhatikan bahwa itu benar ayah Kendrick ditemani asistennya.


Kirana memutar langkahnya. Dia berjalan mendekati Rajendra yang tak menyadari kehadirannya.


“Tuan Rajendra,” panggil Kirana membuat dua pria itu menoleh ke arahnya.


Seketika wajah Rajendra langsung menggelap melihat kehadiran Kirana yang tak disangka-sangka akan kebetulan bertemu.


Tanpa berkata-kata Rajendra segera bangkit dan pergi tanpa menjawab ucapannya. Begitu juga Roy yang langsung mengikuti tuannya pergi. Meskipun tak mengatakan apa pun, tetapi asisten itu sempat mengangguk sopan padanya.


Kirana jadi bertanya-tanya apa yang sedang Rajendra lakukan di sini. Anehnya saat dia menghampiri mengapa tidak ada perasaan waspada yang dirasakan, dan justru sebaliknya. Dia merasa Rajendra bukanlah ancaman yang sebenarnya.


Lamunannya buyar saat Kirana merasakan tepukan di bahu. Saat menoleh dia mendapati sang suami telah berdiri di belakangnya dengan kening berkerut dalam.


“Ada apa Kiran?” tanya Kendrick.


“Aku ketemu Tuan Rajendra,” jawab Kirana dengan tatapan menerawang. “Dia bersama dengan asisten Roy.”


“Daddy bilang apa?” Perasaan Kendrick menjadi buruk. Dia yakin itu bukan kebetulan, untuk apa orang tuanya itu ke rumah sakit.


Mungkinkah pria tua itu tengah sekarat?


Kepalanya menggeleng pelan. Tidak mungkin pria tua itu datang ke rumah sakit hanya untuk memeriksakan kesehatan. Dokter pribadi siap datang kapan saja memeriksanya, kapan pun. Satu hal lagi, rumah sakit ini bahkan sangat jauh dari tempat tinggal orang tuanya.


Namun, sejauh ini Kendrick tak mau berpikiran buruk. Ini hari yang baik dan membahagiakan, dia tidak mau merusaknya dengan memikirkan seorang Rajendra Rusady.


“Nggak ngomong apa-apa. Baru saja disapa sudah pergi,” kata Kirana dengan bahu terangkat.


“Ya sudah, biarkan saja.” Kendrick merangkul pinggang Kirana dan mengajaknya berjalan lagi ke arah ruang bayi.


“Coba saja tanyakan. Mungkin Tuan Rajendra memang tengah sakit.”


“Nggak mungkin. Pria tua itu masih sangat sehat, bahkan untuk beradu pendapat dan memaki sepertinya masih sangat mampu. Dia nggak akan mati dengan mudah,” jawab Kendrick ringan, tanpa beban dan rasa bersalah sama sekali.


Bugh!


Kirana memukul bahu suaminya pelan. “Jangan ngomong kayak gitu. Bagaimana pun kamu ada karena kontribusi darinya.”


“Dia hanya jadi penyumbang benih. Kehadirannya bukan siapa-siapa di hidupku,” ungkap Kendrick lagi dengan seenaknya.


Keduanya tiba di ruangan bayi. Lalu perawat mempersilakan mereka masuk untuk mengambil sang anak. Senyum terbit di bibir keduanya melihat putra mereka dari dekat tanpa jarak seperti saat ini.


Hampir dua minggu lamanya keduanya menahan diri untuk tidak menerobos masuk dan bertemu dengan bayi mungil itu demi pemulihan kesehatan sang anak. Kini tidak ada lagi jarak di antara mereka.


“Selamat Nyonya, akhirnya Anda bisa memeluk putra Anda,” ucap suster dengan senyum ramah.


“Sungguh ini hal yang luar biasa.” Kirana tersenyum.


“Semoga ibu dan bayinya sehat selalu.” Doa tulus suster itu membuatnya mengangguk dan berterima kasih.


Mereka semua mengucapkan selamat dan mengangumi ketampanan bayi mungil itu.


“Diah mirip seperti Kendrick saat bayi. Rambutnya sangat lebat dan berwarna hitam,” ujar Diah dengan mata berkaca-kaca.


“Dia sangat tampan, Ma,” ujar Kendrick memeluk bahu ibunya. Merasakan haru saat ingat bahwa wanita itulah yang merawatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


“Denisha, lihatlah cucumu sangat tampan. Kamu pasti melihatnya, kan? Dia sangat mirip dengan Kendrick,” ujar Diah menyeka sudut matanya yang berair.


“Terima kasih, Mama.”


Kirana pamit lebih dulu kembali ke kamar. Dia ingin mencoba menyusui Baby Ricky lebih dulu. Sesampainya di kamar dia membaringkan bayi mungil itu di ranjang dan beralih menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan pakaian ternyaman.


Bibir bayi itu bergerak, membuat Kirana segera membuka kancing baju dan mengarahkan sumber ASI ke mulut bayinya.


Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun berlalu, Kirana kembali merasakan sensasi yang luar biasa ketika pertama kali memberikan ASI-nya pada sang anak. Ada rasa sakit dan juga lega yang dirasakan.


Tangannya menyentuh pipi baby Ricky yang masih kemerahan. Bibirnya tersenyum lembut, dia menatap putranya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Rasa di dadanya begitu membuncah.


“Semoga kamu jadi penguat untuk mama dan papa,” ucap Kirana pelan.


Hidup itu memang tidak ada yang berjalan dengan mulus tanpa sandungan. Tidak juga berjalan lurus seperti yang selalu diharapkan.


Namanya hidup, masalah akan selalu ada. Entah dari diri sendiri, keluarga atau orang lain.


...✿✿✿...


“Ma, adek bayinya lucu, ya,” ucap Lina yang menemaninya di kamar.


“Iya, dulu Lina juga lucu saat masih bayi,” sahut Kirana tersenyum.


“Aku boleh gendong nggak, Ma?” tanya Rina ingin mendekap bayi menggemaskan itu.


“Rina mau coba? Sini dekat mama.” Kirana menjawab sambil meminta anak pertamanya mendekat. Namun, sedetik kemudian gadis itu menggeleng takut.


“Tidak jadi, Ma. Aku takut,” ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Nggak apa-apa, adek bayinya diam kok.”


Rina tetap menggeleng pelan dan menjawab, “Nggak berani, Ma. Nanti saja kalau adeknya sudah besar.”


Kirana terkekeh pelan dan mengangguk. Meminta kedua anaknya kembali ke kamar untuk tidur.


Tidak ada kamar pribadi atau pengasuh pribadi untuk bayi mungil itu. Kirana menolak saat sang suami meminta baby Ricky ditempatkan di kamar bersama pengasuh. Biarkan saja mereka tidur bertiga, toh ranjang di kamar utama sangat luas untuk ditempati lima orang pun.


Tak lama Kendrick masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di samping baby Ricky. Menatap bayi tampan yang memejamkan mata dengan damai. Tatapannya beralih menatap sang istri yang tersenyum.


“Aku tidak bisa memelukmu, Kiran.” Kendrick mendengkus pelan karena di antara mereka ada baby Ricky.


“Sedikit saja mengalah pada anak,” jawab Kirana menarik selimutnya. “Ayo tidur.”


Kendrick memutar bola matanya kesal. Bukan kesal pada sang istri atau anaknya. Melainkan pada keadaan saat ini. Andai istrinya mau memakai pengasuh, mungkin saat ini dia sudah tidur dengan memeluk wanita itu.


Sejak kepulangan baby Ricky, posisi Kendrick di dalam rumah ini sedikit terancam. Perhatian yang biasanya diberikan padanya kini beralih pada putranya.


To Be Continue ....