
Sedari tadi Kirana sibuk dengan penampilannya. Dia tampak gugup dan sedikit kurang percaya diri. Beberapa kali dia harus mengganti pakaian karena kurang ini dan itu.
“Kamu udah cantik, Kiran. Apa yang kamu pakai selalu pas di tubuhmu,” ucap Kendrick, mencekal tangan sang istri yang ingin berganti pakaian.
Setelah meyakinkan sang istri bahwa penampilannya telah rapi, ponsel miliknya yang ada di atas ranjang berdering beberapa kali.
“Siapa?”
Kendrick menoleh dan melihat nomor tak dikenal kembali menghubungi. “Nggak tahu.” Dia yakin itu bukan nomor Yemima, kalau tidak salah, itu nomor ponsel sang ibu.
“Angkat dulu, siapa tahu penting,” sahut Kirana. Dia tahu bahwa untuk datang ke mari, sang suami meninggalkan tanggung jawab perusahaan. Kendrick orang yang sibuk, jelas bahwa panggilan yang masuk mungkin dari orang-orang penting lainnya.
Kendrick bangkit dari ranjang dan sedikit menjauh untuk menjawab panggilan.
“Bagus. Kamu datang bukannya langsung pulang justru menginap di hotel. Cepat pulang, Thomas sudah menunggumu di lobby.” Suara dengan nada perintah dan tegas tersebut sangat dikenal.
“Baik, Dad,” sahut Kendrick saat tahu bahwa itu adalah sang ayah.
Panggilan terputus begitu saja, membuat pria itu mendengkus pelan.
“Ayo, Kiran. Sudah ada orang suruhan daddy menjemput di lobby.”
Kirana mengernyitkan alis. “Memangnya mereka tahu kalau kita ada di sini?”
“Nggak ada yang nggak diketahui pria tua itu. Dia tahu semuanya, Kiran.”
Kirana bergidik ngeri. Orang kaya memang beda ya. Bahkan untuk kehidupan orang saja mereka bisa mendapatkannya dengan mudah.
“Mengerikan.”
Kendrick mengusap bahu sang istri pelan, menenangkan wanita yang mulai dilanda kecemasan tersebut. Seharusnya acara bertemu dengan mertua tidaklah menyeramkan. Namun karena yang ditemui bukanlah mertua pada umumnya, mulai timbul banyak spekulasi.
Bagaimana calon mertuanya?
Apakah mereka baik?
Apakah mereka akan merestui hubungan mereka?
Atau nanti akan justru sebaliknya?
“Nggak perlu dipikirkan, Kiran. Kamu bisa bersikap apa adanya, nggak perlu bersikap seperti orang lain. Yang suka akan tetap suka, yang nggak suka tetap akan seperti itu walaupun kebaikan yang kita tunjukkan.”
“Maksudmu orang tuamu nggak suka aku?”
Kendrick menggeleng pelan. “Kita lihat aja nanti.”
Sesampainya di rumah, ah, bukan, mungkin ini bisa disebut mansion. Ini terlalu besar dengan banyak penjaga yang berlalu lalang di sekitar sana.
Bangunan menjulang tinggi dengan desain interior yang indah dan megah itu berdiri di tengah halaman yang sangat luas. Pemandangan di sekitarnya tampak indah dan menyegarkan.
“Ayo turun, Sayang,” ucap Kendrick, mengulurkan tangan.
“Selamat datang kembali, Tuan muda, Nona.” Setelah mengatakan kalimatnya, mereka membungkukkan tubuh sebagai bentuk hormat.
“Tuan besar sudah menunggu Anda di ruang makan, Tuan.”
Kirana yang tak bisa berbahasa Jerman hanya diam saja dan mengikuti langkah sang suami. Ketika pintu di depan mereka terbuka, dia bisa melihat sepasang paruh baya duduk di meja makan dengan beberapa pelayan berdiri di ujung ruangan.
“Masuk dan duduklah, Ken. Ini sudah memasuki waktu makan siang.”
Kendrick mengangguk dan mengajak Kirana masuk, dia juga memundurkan kursi untuk sang istri sebelum duduk di sebelahnya.
Kirana tampak gugup, kedua paruh baya tersebut tak banyak bicara. Bahkan responnya terlihat biasa saja, benar-benar tak seperti yang dibayangkan. Mereka bahkan sama sekali tak mengucapkan kalimat sapaan atau hanya sekadar melemparkan senyum ramah. Atau memang respon mereka menanggapi anak dan menantu memang seperti ini?
Jika ya, mungkin dia yang harus menyesuaikan diri, juga mengendalikan perasaan untuk tak mengambil hati dengan sikap yang ditunjukkan.
Wajah wanita paruh baya di depannya tampak masih sangat cantik walau usia tak lagi muda. Sementara pria paruh baya itu memiliki sikap yang mengintimidasi, wajahnya tampak datar terkesan dingin.
Dua pelayan yang ada di ujung ruangan mendekati meja makan dan mengisi piring mereka dengan berbagai makanan. Setelah itu mereka makan dalam diam, tetapi justru ada perasaan tak nyaman yang dirasakan oleh Kirana saat para pelayan tersebut justru berdiri di belakang pria paruh baya yang tetap memasang wajah datar.
Setelah makan siang, kini mereka tengah duduk bersama di sebuah ruang keluarga mewah ditemani suguhan teh hijau yang menguarkan harum yang sangat segar.
Sudah beberapa menit tetapi belum ada yang bicara. Pun dengan sikap kedua paruh baya itu yang dingin, belum ada sapaan khusus untuk Kirana, membuat wanita itu sudah bisa menebak bahwa mereka tidak menyukainya.
“Kau sudah melampaui batas, Ken.” Pria paruh baya tersebut bicara dalam bahasa Jerman, padahal Kendrick sudah menjelaskan untuk bicara dengan bahasa Inggris saja.
“Langsung pada intinya saja, Dad.”
“Bagaimana bisa kamu menikah tanpa persetujuan kami!” Wajah itu tampak memerah.
“Aku yakin kau sudah mendengarnya, Dad. Jadi aku tak perlu menjelaskan kedatanganku lagi, kan? Aku datang hanya untuk mengenalkan istriku,” sahut Kendrick tenang, sama sekali tak terkejut.
“Lancang!” Pria paruh baya tersebut memekik dengan suara yang membuat Kirana terkejut. Walaupun tak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi dari raut wajah keduanya sama-sama memendam kemarahan.
“Kau bermain wanita, aku tak peduli. Kau tidur dengan banyak wanita sekalipun, kami tak akan melarangnya. Tapi bukan berarti kau memilih istri sesukamu. Dia hanya akan mempermalukan keluarga!”
“Aku mencintainya!”
“Cinta itu persoalan belakang, Kendrick. Nama baik kita lebih utama dibandingkan cinta yang kau agungkan itu.”
“Dia hanya seorang janda dari keluarga yang kacau. Wanita sepertinya tak pantas bersanding denganmu.”
Kendrick mengepalkan kedua tangan dengan geram. Emosinya memuncak, apalagi ketika mendengar pria paruh baya tersebut sudah mengaitkan masa lalu.
Kirana seperti orang bodoh yang tak tahu apa pun. Dia hanya meremas dress yang dipakai untuk mengalihkan segala pikiran buruk yang melanda.
“Aku sudah menikah dan kau tak bisa melakukan apa pun, Dad.” Ucapan Kendrick seperti sebuah tantangan yang dilayangkan. Membuat pria paruh baya dengan ego setinggi langit tersebut tampak menyeringai kejam.
“Jangan lupakan siapa aku, Ken. Rajendra Rusady bisa melakukan apa pun hanya dengan jentikan jari.”
To Be Continue ....