Affair With CEO

Affair With CEO
Berkumpul keluarga



Kirana bersama dengan seluruh penghuni rumah menunggu kedatangan Kendrick pulang. Mereka sudah menyiapkan kejutan ulang tahun kecil untuk pria pekerja keras tersebut.


Tak lama pesan dari Indra masuk, mengatakan bahwa mereka sudah sampai di depan perumahan hingga membuat semua orang segera bersiap.


Saat Kendrick membuka pintu. Dia mengernyit aneh melihat semua lampu dimatikan, bahkan di pos depan, tidak ada penjaga yang standby di sana.


Pria itu menoleh ke arah Indra. Namun sebelum bertanya, tiba-tiba ....


“KEJUTAN!”


Seketika lampu ruangan yang tadinya padam, langsung terang dengan suara teriakan lantang semua orang yang berkumpul di ruang tamu. Di tangan masing-masing, ada kado yang dibawa.


Ada Diah dan Hanin, Wina dan seluruh asisten rumah, tak lupa tiga sahabat brengseknya. Bahkan Willy tampak lucu, pria itu didandani layaknya badut dengan hidung merah dan rambut palsu mengembang berwarna pelangi.


Seketika tawa Kendrick pecah melihat empat sahabatnya berada di sini dengan sebuah pesta kecil yang bagi mereka mungkin sesuatu yang aneh. Bahkan dirinya sendiri merasa aneh, tetapi tak menyusutkan kebahagiaan yang dirasa.


Bukan kemewahan yang membuat bahagia, bukan pula klub malam dengan banyak wanita yang membuatnya bergairah, tetapi sebuah keluarga yang lengkap dengan kasih sayang dan ketulusan yang apa adanya. Bukan sekadar penjilat yang hanya menginginkan sesuatu.


“Selamat ulang tahun, Papa Ken,” ucap Rina dan Lina bersamaan.


“Terima kasih, Sayang.” Kendrick berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan dua anak perempuan tersebut, kemudian memeluknya dengan erat.


Kendrick memeluk Kirana dan kedua orang tua angkatnya bergantian. Sebelum akhirnya berpelukan dengan ketiga sahabatnya dengan gaya pria dewasa.


“Terima kasih untuk kalian semua. Kejutan ini sungguh luar biasa.”


Makan malam berjalan dengan lancar. Setelahnya mereka mengadakan pesta barbeque di halaman belakang. Tak lupa Kendrick membawa beberapa botol wine, whisky juga vodka.


Suasana tampak begitu bahagia. Kirana membiarkan suaminya duduk bersama dengan sahabatnya.


Namun ternyata dugaan wanita itu salah karena Kendrick justru menolak wine yang disediakan.


“Aku nggak minum,” tolaknya membuat para pria dewasa itu mengernyit heran.


“Ada yang salah denganmu?” tanya Sean dengan mata menyipit.


“Tidak, hanya mengurangi minum saja. Aku nggak mau cepat mati dan meninggalkan istriku. Mulai sekarang aku terbiasa hidup sehat,” sahut Kendrick membuat tawa mereka semua pecah.


Seorang Kendrick yang terbiasa hidup bebas tanpa aturan, akhirnya menemukan seseorang yang bisa mengendalikannya. Bahkan tanpa diminta, pria itu menyadari sendiri.


Selama ini Kirana tak pernah melarang sang suami untuk minum, asal tidak berlebihan. Dia juga tahu bahwa toleransi alkohol pria itu sangat baik, jadi bukan masalah.


“Really? Kau terlalu berpikir jauh, Ken.” Alfred menggelengkan kepala pelan.


Ternyata, tanpa diminta. Seorang pria akan berubah menjadi lebih baik, jika menemukan sesuatu alasan yang tepat. Tak perlu memaksa, tak perlu meminta, karena semua itu berasal dari hati dan pikirannya sendiri.


Sekuat apa pun memaksa seseorang, jika dia tak memiliki kesadaran, semuanya hanya akan sia-sia.


“Aku harus terbiasa hidup menjadi orang biasa.” Seperti itulah ucapan sang istri.


“Apa yang terjadi?”


Kendrick hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Tanpa kuberitahu, kalian pasti bisa menebaknya.”


“Jadi kau benar-benar sudah keluar dari RD Group?”


Kendrick kembali mengangguk.


“Ya, itu benar,” timpal Willy mengkonfirmasi.


“Demi dia, Bro!” Alfred kembali menyahut dengan ekor mata melirik ke arah istri sahabatnya.


“Kau benar, ini memang terlalu berisiko. Tapi aku sudah siap menghadapinya.” Kendrick sama sekali tak takut.


“Cinta memang membuat pikiran jadi tidak waras, ya,” gumam Willy pelan.


Tawa ketiga pria dewasa itu seketika pecah hingga menarik perhatian yang lain.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Kedua anaknya sudah masuk ke kamar ditemani dengan Wina. Begitu juga dengan Diah dan Hanin yang memilih istirahat.


“Kalian lanjutkan aja. Aku mau tidur dulu, capek banget.” Pamit Kirana pada sahabat suaminya.


Sebelum pergi, Kendrick memberikan kecupan di wajah sang istri.


“Tidur sendiri dulu nggak apa, kan?”


“Nggak apa-apa. Kamu di sini aja dulu, mungkin kalian masih ingin bicara.”


“Oke.”


Kepergian Kirana disaksikan beberapa pria dewasa itu. Mereka menatap istri sahabatnya dengan intens sebelum Kendrick mengumpat kesal karena lagi dan lagi, istrinya selalu bisa menarik perhatian pria.


“Brengsek! Berhenti memandang istriku!”


Keesokan pagi, Massayu datang bersama dengan suaminya. Mereka tampak akrab dengan Kendrick, sementara Kirana yang baru bertemu dengan anak kandung dari Diah dan Hanin masih sedikit canggung.


“Kenalin istriku,” ucap Kendrick memperkenalkan.


“Kamu cantik banget, pantas aja dia langsung jatuh cinta,” bisik Massayu ketika memeluknya.


“Terima kasih, Mbak.”


“Panggil Massayu aja.”


Kirana mengangguk dengan senyum tipis.


Tak lama semua orang datang ke ruang makan. Ternyata ketiga sahabat Kendrick sudah lama mengenal Massayu.


“Hi, long time no see. Kapan nyusul? Si brengsek ini sudah mau jadi bapak-bapak, nih tiga orang anak.”


“Oh, thanks. Aku tak berminat, mungkin Willy yang lebih butuh,” tolak Sean dengan bahu terangkat, dia menyeringai. Dia tidak butuh pernikahan, karena dia lebih suka berada dalam hubungan tanpa status.


“Sudahlah, duduk dan sarapan dulu,” potong Hanin dengan tegas.


Mereka sarapan dalam diam. Sesekali terdengar celotehan Vino dan Vian—anak kembar dari Massayu dan Surya, yang kini berusia lima tahun.


“Rupanya kalian semua berkumpul di sini!”


Deg!


Semua orang tersentak ketika suara lengkingan suara berat dan dingin itu terdengar menyeruak di antara kehangatan celotehan anak-anak.


Saat menoleh, mereka langsung bertemu pandang dengan seorang pria yang kini menatap mereka semua tajam.


To Be Continue ....