Affair With CEO

Affair With CEO
Perang dimulai



Dibantu dengan Kendrick, Kirana memasuki rumah. Disambut pekikan terkejut Wina yang melihat keadaannya.


“Tadi ada sedikit kecelakaan, Mbak. Nggak apa-apa tadi udah diperiksa ke rumah sakit, hanya perlu istirahat aja beberapa hari.”


“Eh! Pak Kendrick mau minum apa?” Wina segera menawarkan diri.


“Tidak perlu repot, makasih. Saya langsung pulang saja,” tolak Kendrick, bagaimanapun di lingkungan ini Kirana masih berstatus istri orang dan mereka harus tetap menjaga sikap satu sama lain.


“Makasih, Pak Ken,” ucap Kirana saat pria itu pamit.


“Cepet sembuh ya, istirahat yang bener. Jangan terlalu keras kepala!” Kendrick mengusap puncak kepala Kirana lembut, dan pemandangan tersebut disaksikan sepasang mata yang dapat melihat jika di antara mereka ada sesuatu.


“Bu Kirana saya antar ke kamar, ya?”


“Iya, Mbak. Sekalian nanti minta tolong bantu aku ke kamar mandi.”


Setelah membersihkan diri, Kirana berbaring di ranjang tanpa melakukan apa pun. Setiap kakinya melangkah, rasa nyeri membuat dia beberapa kali meringis.


“Bu Kirana,” panggil Wina yang saat ini tengah merapikan pakaiannya yang berantakan.


“Apa, Mbak?”


“Bu Kirana kenal dengan Pak Kendrick?”


“Ya kenal, kan dia atasan aku di kantor. Memangnya kenapa?”


Wina menggeleng karena tak ingin menjawab pertanyaan tersebut.


“Ngomong aja kali, Mbak. Nggak perlu sungkan.”


“Aku lihat dari pandangan Pak Kendrick, sepertinya ada sesuatu yang menarik.”


“Maksudnya apa?” Kirana pura-pura tak tahu.


“Ucapan bisa menipu, ekspresi bisa terlihat datar tetapi tatapan matanya nggak bisa bohong. Dari sorot matanya seperti ada begitu banyak cinta.” Sontak saja Kirana langsung berdeham canggung.


“Sok tahu banget, ih. Nggak gitu kali, Mbak.”


“Bener, Bu. Terlihat jelas lho,” seru Wina tak mau kalah.


“Oh jadi sekarang mau alih profesi jadi pakar cinta nih?” sindir Kirana.


“Bener kan, Bu? Toh nggak akan rugi, dia tampan, kaya dan yang pasti lajang.”


Kirana tersenyum, tetapi hanya beberapa detik sebelum ucapan Wina kembali dilanjutkan.


“Eh, tapi salah sih. Bu Kirana kan masih istri orang.”


Seketika itu juga suasana hati Kirana langsung buruk. Dia menatap Wina kesal.


“Sana keluar kamu!”


...✿✿✿...


Semenjak tak berangkat ke kantor, Kirana lebih sering menghabiskan waktu bersama kedua anaknya.


Sudah dua hari Kirana istirahat di rumah. Bengkak di kakinya sudah mulai memudar, tetapi rasa sakit masih jelas dirasa.


Zidan sama sekali tak tahu kabar Kirana yang kecelakaan. Seperti biasa pria itu menghilang tanpa kabar jika sudah ada bersama istri mudanya.


Namun rasa sepi itu tergantikan dengan perhatian yang diberikan oleh Kendrick. Pria itu selalu mengirimkan asisten rumah tangga untuk datang dan memberikan beberapa makanan juga vitamin untuknya.


Seperti sore ini, Kirana duduk di teras rumah dengan pintu pagar yang terbuka sebagian. Dari sini dia bisa melihat rumah yang ada di hadapannya.


Tak berapa lama mobil milik pria itu tiba. Kendrick menoleh ke arah rumah wanita yang sangat dirindukan. Bibirnya tertarik tipis saat matanya melihat sosok Kirana duduk dengan senyum cerah.


My Bos.


Merindukanku?


^^^Me.^^^


My Bos.


Rinduku bahkan sudah terobati hanya dengan melihat senyum di wajahmu.


^^^Me.^^^


^^^Sejak kapan dirimu bisa merayu, Bos?^^^


My Bos.


Ini bukan rayuan. Ini ungkapan kerinduan. Aku ingin memelukmu, Kirana.


^^^Me.^^^


^^^Aku juga. I miss you, Ken.^^^


My Bos.


Bagaimana dengan ucapanku? Kamu sudah pikirkan dan mengambil keputusan?


^^^Me.^^^


^^^Udah. Tapi aku masih perlu meluruskan beberapa hal terlebih dulu.^^^


My Bos.


It's okey, jika perlu bantuan katakan saja.


^^^Me.^^^


^^^Thanks, My Bos.^^^


Keduanya berada di posisi yang dekat, tetapi terhalang jarak pemisah yang masih tinggi untuk diraih.


Mereka hanya bisa bertukar obrolan lewat pesan yang dikirim. Terkadang menjelang malam Kendrick akan menelpon dan bicara beberapa menit hanya untuk melepas kerinduan walau sekadar mendengar suara saja.


...✿✿✿...


Jarum jam terus berputar, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Kirana masih terjaga dengan pikiran yang mengingat kembali obrolannya dengan Kendrick di malam itu.


“Bercerai dan menikahlah denganku, Kirana.”


“Aku bersedia bercerai, asal kamu juga bersedia membantuku.”


Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Tatapan matanya menyorot tajam seolah menuntutnya untuk melanjutkan ucapan.


“Katakan!” desak Kendrick yang mulai tak sabar.


“Hancurkan Zidan dan orang-orang yang telah menyakiti hatiku. Buat mereka merangkak di kakiku hanya untuk memohon pengampunan.”


“Setuju!”


Kirana sudah benar-benar melupakan perasaanya terhadap sang suami. Kini yang ada di dalam hatinya hanya kemarahan dan luka yang amat dalam.


Ini bukan hanya perkara pengkhianatan Zidan, tetapi juga kekejaman keluarga sang suami.


Memorinya kembali memutar saat dia tak sengaja datang ke rumah Ajeng untuk mencari Zidan. Bukannya bertemu dengan sang suami justru dia mendapati kenyataan lain bahwa adik iparnya pernah menjebaknya untuk diberikan pada pria lain. Dan yang lebih menyesakkan lagi adalah, dia harus kehilangan calon bayi yang dikandung karena ulah mereka yang ternyata pernah mencelakainya.


Tiga tahun lalu, Kirana pernah terjatuh dan membuatnya kehilangan calon bayi yang bahkan belum diketahui. Dulu dia tak pernah berpikir buruk tentang semua yang telah terjadi, sebelum tahu semuanya.


Tidak masalah dirinya harus bersabar sebentar lagi, asal Zidan akan merasakan kehancuran yang pernah dirasakan.


Kau akan tamat, Zidan!


To Be Continue ....