Affair With CEO

Affair With CEO
Ujian cinta



Seseorang pernah melakukan kesalahan, itu memang sudah sifat manusia. Tidak ada yang sepenuhnya benar dan sempurna tanpa pernah melakukan salah.


Seperti Kirana yang melakukan kebodohan karena menjalin hubungan dengan Kendrick di saat masih berstatus istri orang. Dia sudah mendapatkan balasan dari apa yang dilakukan.


Penolakan, penghinaan bahkan caci maki dari mertuanya adalah bukti bahwa semua tindakannya memiliki konsekuensi.


Andai, dulu dia tidak menjalin hubungan lebih dulu. Andai dia tidak melangkah pada hubungan yang jauh sebelum mendapatkan restu. Ini semua mungkin tak akan terjadi.


“Jangan melamun terus,” ucap Diah mengingatkan, membuat wanita hamil itu segera tersadar dari lamunan.


“Mama mengagetkan. Kapan pulang, Ma? Aku nggak dengar mama datang.”


“Ya itu karena kamu lagi nggak di sini. Pikiranmu tengah mengelana entah ke mana.”


Kirana hanya tersenyum tipis.


“Anak-anak mana?”


“Udah tidur, Ma. Mereka kelelahan karena habis ada acara di sekolahnya.”


Diah mengangguk dan segera bangkit seraya berkata, “Mama mau mandi dan ganti baju dulu.”


Tak sampai satu jam, Diah sudah kembali dengan wajah yang kembali segar.


“Temani mama makan, yuk.”


“Aku nunggu Kendrick dulu, Ma.”


“Anak nakal itu pulang telat, dia pasti sudah makan di kantor.”


Kirana tetap menggeleng. “Aku mau nunggu Kendrick aja.” Semenjak kehamilannya semakin besar, sikap keras kepala yang dimiliki juga semakin besar.


Diah mendengkus pelan. Dia tak berkata apa-apa, hanya mengambil ponsel dan memainkannya sejenak.


...✿✿✿...


Kendrick yang masih di kantor, mendapatkan pesan beruntun dari sang ibu. Dia segera membalasnya dan langsung beranjak pergi.


Wajah pria itu tampak berantakan, sedikit ada beban yang sepertinya tengah dipikul di pundak.


“Indra, aku pulang dulu. Kamu urus semuanya, jangan lupa hubungi pengacara. Jangan sampai kabar ini sampai ke media. Jika memang bisa, ajak mereka melakukan jalan damai. Tapi jika tidak bisa, percayakan dengan pengacara gimana baiknya.”


“Baik,” sahut Indra dengan tubuh tegap.


Saat ini bukan hanya Kendrick yang dibuat pusing dengan permasalahan yang tengah menimpa. Bahkan Indra dibuat pusing dengan banyaknya permasalahan yang terus berdatangan.


Semuanya dimulai dari investor asing yang menanamkan modal, tetapi ternyata sumber uang pria itu hasil dari korupsi dan manipulasi data. Karena dana itu terbukti mengalir di usaha milik Kendrick, maka mereka harus tetap mengikuti peraturan dengan dijadikan sebagai saksi untuk pemeriksaan yang sampai detik ini masih berjalan.


Kendrick bukannya abai dengan sang istri, tetapi dia juga memiliki tanggung jawab lain untuk pekerjaannya. Ada banyak karyawan yang juga menggantungkan hidup dari pekerjaan.


Setelah berkendara dengan kecepatan tinggi, tak lama dia sampai di rumah.


“Kiran, ayolah. Jangan seperti ini. Kamu nggak perlu tunggu aku buat makan malam.” Kendrick menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri dengan wajah lelah.


“Kalau aku tetap mau menunggumu, kamu mau apa? Ini juga bukan keinginanku!” sahut Kirana dengan wajah kesal. Matanya bahkan sudah berkaca siap menumpahkan cairan bening.


“Tunggu! Kamu ini kenapa, kok bawaan marah aja. Kalau ada masalah ngomong, kamu diam aku juga nggak akan tahu apa yang terjadi.” Kendrick segera mencekal tangan sang istri saat wanita itu beranjak bangun.


Namun Kirana yang sedang dalam suasana hati yang buruk justru menyentak tangannya dengan kasar dan pergi begitu saja.


“Ada apa, Ken?” tanya Diah menimpali, melihat bahwa putranya tampak kacau dan aneh.


“Tidak ada, Ma,” sahut Kendrick pelan. “Aku susul istriku dulu.”


“Jangan lupa ajak istrimu makan. Sepanjang hari dia hanya mengaduk makanan tanpa berminat melahapnya.”


Kendrick hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Ketika sampai di kamar, dia melihat sang istri sudah naik ke atas ranjang dengan mata terpejam.


“Ayolah Kiran, jangan bersikap seperti anak kecil seperti ini. Katakan apa yang kamu mau, jangan diam lalu memintaku memahami apa yang ada dalam pikiranmu.” Kendrick menghembuskan napas berat.


“Ingat bahwa dirimu tidak sendirian. Ada nyawa yang kamu bawa, jika kamu sendiri mengabaikan kondisimu, bagaimana kabar bayi di dalam sana?”


Kirana masih tak bergeming. Dia pura-pura tak mendengar dan tetap dalam posisinya.


“Aku tahu kamu nggak tidur, jangan menghindar, Kiran!” Suara Kendrick sudah naik beberapa oktaf.


Kirana masih tetap tak bereaksi. Dia hanya mengepalkan tangan sebagai bentuk pelampiasan amarah yang terpendam.


“Aiza Kirana Mirabelle!”


Tak tahan mendengar sang suami menyebut nama panjangnya, Kirana segera bangun dan menatap sang suami dengan marah.


“Seharusnya aku yang bertanya, Ken,” balas Kirana tak kalah keras, lelehan bening membasahi pipinya, tetapi matanya berkilat penuh sesal.


“Apa maksudmu?”


“Kau yang lebih tahu, apa yang kau lakukan dengan wanita bernama Sarah itu, Ken.”


Kendrick tersentak dengan ucapan sang istri. Dari mana wanita itu tahu, pikirnya. Bahu tegapnya tiba-tiba melemah dengan napas yang terasa mencekik.


To Be Continue ....