
Kirana terus mengembangkan senyum lebar, penuh kebahagiaan mendapatkan lamaran romantis dari Kendrick yang begitu tiba-tiba. Bahkan saat dirinya baru saja sah berstatus janda.
Namun semua bayangan itu hancur ketika mendapati pemberitahuan dari Wina tentang datangnya sang mantan suami.
“Pak Zidan tadi sore datang, nyari ibu. Tanya pergi ke mana, ya aku bilang kalau kerja, kemungkinan di kantor.”
“Biarin aja deh,” sahutnya malas.
“Bapak kelihatan marah, Bu.”
“Datang ke sini sama siapa?”
“Sama istri dan ibunya.”
“Acuhkan aja, Mbak. Aku mau ke kamar, ya. Capek banget.”
Setelah mandi, ia rebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
Tidak ada yang lebih membahagiakan lagi selain perpisahan yang akhirnya terkabul walau harus melewati proses panjang dengan ia yang menjadi pemenang. Mendapatkan hak asuh kedua anaknya, harta bersama, juga terlepas dari kehidupan pelik yang selama ini menekan dan membuatnya sesak napas.
Zidan Pranadipa, nama itu masih jelas dan terukir rapi dalam ingatan. Sosok pria yang menjadi cinta pertama sekaligus yang menghancurkan hatinya.
...✿✿✿...
Pukul enam pagi, rumahnya kedatangan tamu yang sama sekali tak diharapkan. Seseorang yang selalu mengusik ketenangan, entah dulu atau sekarang, masih sama saja.
Ajeng datang dan melemparkan batu hingga membuat kaca jendela pecah, wanita paruh baya itu datang bersama dengan Luna. Kedua wanita itu sama-sama datang dengan wajah penuh kemarahan.
Membuatnya yang hendak memasukkan sarapan ke dalam mulut menghentikan kegiatan dan segera keluar.
“Dasar serakah! Kamu mengusir Zidan tanpa membawa apa pun, semuanya kamu kuasai, jangan begitu Kirana. Zidan juga ikut andil dalam bisnis bersama yang kalian rintis, jangan seenaknya kamu!”
“Iya nih, jahat banget.”
“Berikan hak Zidan! Jangan kamu ambil semuanya gitu dong.”
Kirana hanya menatap kedua wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sama sekali tak terpengaruh dengan apa yang dilakukan dua wanita itu.
“Berikan hak Zidan!”
“Ya nggak bisa gitu dong, selama ini yang memajukan bisnis itu kan juga Zidan. Kamu bahkan nggak melakukan apa pun untuk membantu,” sanggah Ajeng masih dengan posisi menantang.
“Jika kalian tidak terima, kenapa waktu itu nggak minta banding? Kamu datang dan merusak rumahku, aku bisa laporkan kalian ke polisi lho.”
“Berikan hak Zidan dan semuanya akan selesai dengan baik.” Ajeng tetap kekeh dengan keinginannya.
Kirana justru terkekeh dengan sinis. “Ini adalah hak anak-anakku, Bu.”
“Zidan juga punya anak lain selain Rina dan Lina.”
Rasa-rasanya Kirana ingin tertawa dengan begitu keras. Dia punya anak lain itu bukan tanggung jawabnya.
“Ya suruh ibunya usaha dong. Jadi wanita kok nggak berguna, kerjanya cuma ngabisin duit aja,” sindirnya menatap Luna.
“Jaga bicaramu!”
“Lho, kenapa? Aku ngomong fakta! Mau anakmu dapat warisan ya bapak ibunya suruh usaha.”
“Kamu!” Luna akan maju menyerang, tetapi terhenti ketika Kirana mengangkat ponsel dan berniat menghubungi kantor polisi.
“Aku bisa seret kalian ke penjara karena mengganggu ketenangan.”
Entah karena takut atau apa, Ajeng menghentikan sang menantu dan masih menjaga jarak aman. Bahkan teriakan dua wanita itu sudah menarik perhatian beberapa tetangga yang lewat. Kini mereka menjadi pusat perhatian, tetapi bagi Kirana ia tak peduli. Toh selama ini orang lain sudah banyak yang tahu bagaimana perangai keluarga tersebut.
“Segitunya ya bela istri kedua, mentang-mentang kalian pernah bernasib sama,” ucap Kirana membuat Ajeng melotot.
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu, Bu. Bahwa kamu hanya istri kedua dari suamimu. Istri kedua yang nggak diharapkan oleh madu dan mertua, selalu ditindas dan dihina. Makanya ibu belain menantu kesayangan, karena nasibnya sama, ya. Aduh, kasian ....” Kirana menunjukkan raut sedih yang dibuat-buat.
Ajeng merasakan seluruh tubuhnya membeku ketika ada yang tahu tentang masa lalunya. Tanpa membela atau memberikan sanggahan, wanita paruh baya tersebut menyeret menantunya pergi.
Kirana tersenyum puas bisa membuat dua wanita itu malu. Dulu, dia menghormati Ajeng seperti ibu kandung sendiri terlepas dari apa pun yang dilakukan. Namun sekarang tidak akan lagi, bahkan dia akan tetap membuat wanita paruh baya tersebut menyesal karena selama ini telah menyakiti bahkan membuatnya harus kehilangan anak.
“Pembalasan akan tetap berlanjut sampai kamu mengakui bahwa kamu yang telah merencanakan pembunuhan anakku, Bu.”
To Be Continue ....