
Kendrick mendongak mendengar suara yang begitu dirindukan. Saat matanya bersitabrak dengan wanita itu, dia menyunggingkan senyum lebar.
“Really miss you.”
Dia segera bangun dan menghampiri Kirana yang langsung memeluknya. Aroma tubuh yang begitu dirindukan menyeruak begitu tubuh mereka menempel satu sama lain.
Pelukan tersebut menyalurkan kerinduan yang dirasakan keduanya.
“Kamu berangkat jam berapa? Tidak lelah? Istirahatlah di sini.” Kendrick membawa Kirana ke sofa. Mereka duduk, tetapi masih enggan melepaskan pelukan.
“Lelahku hilang ketika melihatmu.”
“Mengapa akhir-akhir ini kamu pandai merayu?”
“Enggak juga. Siapa yang bilang ini rayuan,” sahut Kirana, dengan tubuh yang menempel seperti ini dia bisa mendengar suara detak jantung Kendrick.
“Urusanmu di sana sudah selesai?”
“Nggak ada urusan lain selain aku yang hanya bicara dengan kedua orang tuaku.”
“Mereka setuju untukmu bercerai?”
Kirana mengangguk pelan. “Tidak ada alasan untuk mereka menolaknya.”
“Kirana.”
Panggilan itu membuat Kirana mendongak. Saat manik hitam Kendrick menatapnya, ada gelombang yang menghanyutkan,
menarik dan menenggelamkan dirinya.
Kendrick mendekat dan menempelkan bibirnya lembut. Napasnya menerpa wajah hingga wanita berkulit putih tersebut memejamkan mata.
“Aku sangat merindukanmu,” bisik Kendrick lembut.
“Tidak ada kata yang lebih baik selain merindukanku?” Kirana membuka mata dengan tatapan yang sulit diartikan. Detik berikutnya dia menarik Kendrick untuk lebih dekat dan mengecup singkat bibir pria itu.
Mendapatkan serangan tiba-tiba membuat Kendrick tersenyum tipis dan langsung membungkam bibir Kirana dengan sebuah kecupan lembut. Kecupan penuh kerinduan dan penyatuan dua insan dewasa yang tengah merasakan gejolak luar biasa.
Kirana, wanita itu bahkan menyambut ciuman tersebut dengan sukarela. Bibirnya terbuka, membiarkan lidah nakal pria itu mengekspos rongga mulutnya.
Sesaat setelah ciuman terlepas, Kendrick mengusap bibir wanita itu lembut. Tatapan keduanya bertemu. Semakin intens, semakin dalam dan begitu mendamba.
“I love you, Ken,” bisik lembut Kirana di sela ciuman mereka, membuat tubuh Kendrick seketika menegang karena terkejut.
Pria itu memberikan sedikit jarak. Wajahnya berpaling ke arah lain menghindari tatapan mata yang sendu tersebut.
Entah mengapa mendengar pengakuan perasaan wanita itu sedikit mengganggu dirinya. Mengusik sampai di relung hati yang terdalam dan membuatnya menjadi dingin.
“Ada apa, Ken?” tanya Kirana yang melihat perubahan di raut wajah pria itu.
“Oh, tidak. Aku hanya lupa bahwa nanti siang akan ada pertemuan dengan klien.”
“Bersamaku?”
“Kamu di kantor saja. Biar aku ditemani Willy.”
Kirana mengangguk mengerti tanpa mempermasalahkan hal tersebut. Toh dia tak tahu hal apa yang akan dibahas nanti.
“Kamu bilang, ada hadiah untukku. Apa?”
Kendrick tersenyum dan mengusap rambut panjang milik Kirana. “Nanti kamu akan tahu di rumah,” jawabnya terkesan misterius.
“Jelaskan saja. Aku tak suka tebak-tebakan.”
“Nanti kamu akan tahu saat sudah di rumah. Ini spesial ....” bisik Kendrick lagi, memberikan kecupan di pipi singkat sebelum bangkit.
Sudah cukup mereka melepaskan kerinduan, kini waktunya mereka kembali bersikap profesional.
...✿✿✿...
“Bu Kirana, di bawah ada tamu untuk Pak Kendrick. Apa saya antar naik ke atas ya?” tanya sang resepsionis menghubungi.
Kening Kirana mengkerut heran. Kendrick tak mengatakan jika dia ada janji temu dengan seseorang. Lantai atas ini memang tak bisa dipakai oleh sembarang orang yang tak memiliki akses.
Sebelum turun dia memutuskan menghubungi Kendrick dan bertanya. Namun sayang panggilannya sama sekali tak tersambung.
Saat hampir mendekati meja resepsionis, iya bisa melihat sesosok wanita berdiri di sana dengan wajah tak bersahabat.
“Permisi, saya sekretaris pribadi Pak Kendrick. Apa Anda sudah membuat janji dengan beliau? Karena kebetulan beliau sedang tak ada di tempat.” Kirana berucap sopan seraya menunduk.
“Aku akan menunggunya saja,” sahut wanita itu sinis.
“Silakan tunggu di sana, mohon maaf Anda tak bisa masuk ke ruangannya karena Pak Kendrick tidak ada dan Anda tak memiliki janji pertemuan dengannya,” sahut Kirana masih mempertahankan senyum sopan, menunjuk ke arah ruang tunggu yang ada di lobi.
“Beraninya kamu memintaku menunggu di sana. Aku mau menunggu di ruangan Kendrick!” seru wanita itu dengan wajah marah.
Dia menyebutkan nama tanpa embel-embel. Apa dia tamu pribadi Kendrick?
“Tapi Pak Kendrick tidak mengizinkan tamu yang tak berkepentingan masuk ke ruangannya jika tidak ada beliau, Bu. Mohon Anda mengerti,” sahut Kirana sedikit mendongak dan dengan jelas melihat paras wanita itu.
Cantik. Satu kata itu menggambarkan sosok wanita itu.
Tubuh tinggi semampai dengan kulit putih bersinar, rambut berwarna pirang yang begitu lembut dan harum, paras wajahnya begitu sempurna dengan hidung mancung dan bulu mata lentik yang indah.
“Apa perlu calon istrinya membuat janji dan melakukan semua pengaturan yang dikatakan?” bentak wanita itu keras hingga memancing beberapa orang menoleh pada sumber keributan.
Kirana tersentak kaget.
Calon istri?
Dia terkejut mendengar ucapan wanita yang mengaku calon istri dari Kendrick. Sebelum Kirana ingin bertanya lebih banyak wanita itu segera memotong ucapannya dengan keras. Menekankan bahwa dia adalah calon istri dan calon nyonya baru yang harus dihormati.
Kirana merasakan sesak. Kebenaran atau hanya sekadar kebohongan, tetapi ucapan wanita itu mampu mengoyak sudut hatinya.
“Silakan ikuti saya, Bu.” Memutuskan mengalah daripada harus terjadi keributan.
Setelah mengantar wanita asing tersebut ke dalam ruangan, dia meminta Sumini untuk membawakan minuman.
Tiga puluh menit kemudian Kendrick datang bersama dengan Willy yang mengekor di belakang.
“Pak Kendrick, di dalam ada calon istri Anda yang sudah menunggu,” ucap Kirana dengan nada sinis, bahkan wajahnya yang selalu menunjukkan senyum kini terkesan datar dan penuh cibiran.
Kendrick menoleh hingga tatapannya bertemu dengan Willy.
“Calon istri? Jangan aneh-aneh ya kamu,” sahut Kendrick tak senang.
“Anda boleh melihatnya ke dalam jika tidak percaya, Pak.”
Kendrick memutuskan masuk ke ruangan sementara Willy mendekat ke mejanya dengan tatapan yang terkesan aneh.
“Pak Ken itu belum punya kandidat calon istri.” Seolah ucapan tersebut menenangkan, pria itu justru menatapnya dengan tatapan menggoda.
“Saya nggak tanya, Pak Willy!”
“Saya kasih tahu kamu lho, kan calon istrinya masih istri orang.”
Ucapan tersebut diakhiri dengan kekehan pelan yang seketika membuat wajahnya memerah.
To Be Continue ....