Affair With CEO

Affair With CEO
Dalang



Kirana tengah menemani baby Ricky berjemur saat pelayan mengabarkan ada seseorang yang ingin menemuinya.


Waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Terlalu pagi untuk tamu yang tak diundang datang ke rumahnya.


Dia bertanya-tanya siapa kiranya yang datang. Pelayan hanya mengatakan bahwa dia seorang wanita, cantik dan asing di mata mereka.


Asing dalam artian mereka belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.


Kirana mengangguk dan meminta pelayan itu memanggil Wina untuk menjaga baby Ricky.


“Nanti setelah berjemur, bawa ke kamar saja ya, Mbak.”


“Baik, Bu.”


Kaki Kirana melangkah menuju ke arah ruang tamu. Saat sampai di sana, dia bisa melihat siapa wanita yang dimaksud. Wanita itu menyunggingkan senyum sinis, tetapi berbeda dengan Kirana yang membalas dengan senyum merekah.


Pagi ini suasana hatinya baik, jadi dia tidak ingin merusak pikirannya dengan hal-hal yang negatif. Dia sudah bisa menebak untuk apa kedatangan wanita itu ke rumahnya. Pasti untuk hal-hal menyangkut video suaminya.


“Selamat pagi, Nona Yemima Sandrez,” sapa Kirana dengan senyum lebar.


“Tidak usah berbasa-basi. Kedatanganku ke sini hanya untuk meminta tanggung jawab!” sahut wanita itu melambatkan sebuah amplop cokelat ke arahnya.


Kirana menebak itu adalah surat dokter yang menyatakan bahwa wanita itu tengah mengandung. Bibirnya tertarik membentuk senyum tipis, itu adalah trik lama. Terlalu mudah ditebak karena sudah sering kali terjadi.


Tangannya mengambil amplop cokelat itu dan melemparkannya kembali ke arah wanita itu. “Ingin mengatakan bahwa kau hamil dan ingin minta tanggung jawab suamiku. Begitu, kan?” tanyanya dengan nada datar. “Ayolah, Nona Sandrez. Itu trik lama yang terlalu biasa.”


Wanita itu menatap Kirana heran. Kenapa bisa-bisanya dia menanggapi itu dengan santai seperti bukanlah hal besar.


“Aku hamil dan kau biasa-biasa saja. Sungguh luar biasa,” ujar Yemima bertepuk tangan.


“Untuk apa aku khawatir, itu jelas bukan anak suamiku. Minta saja tanggung jawab pada pria yang telah menebar benihnya padamu. Kenapa kau jadikan suamiku kambing hitam? Memalukan!” ujar Kirana menghina. Dia sudah tahu kenyataannya, jadi segala ucapan wanita itu tidak akan membuatnya terpengaruh. Andai wanita itu datang sebelum dia tahu kebenarannya, mungkin dia akan termakan kebohongan murahan itu.


“Aku hamil anak Kendrick! Kau harus tahu bahwa aku dan suamimu sudah sering melakukannya. Sebelum kau ada, aku adalah partner suamimu.” Yemima menatap Kirana tajam. Berani sekali wanita rendahan itu menghinanya. Dia lebih baik daripada wanita di hadapannya. Dia cantik, kaya, terpelajar dan dari keluarga yang memiliki dukungan kuat. Sementara wanita itu hanya seorang janda terlantar yang diabaikan suaminya.


Kirana terkekeh pelan dan mengangguk. “Hanya sebatas partner ranjang. Apa bedanya dengan wanita-wanita malam yang menjajakan tubuhnya pada pria hidung belang. Mereka dibayar untuk itu, sementara kau menyerahkan tubuhmu sendiri dengan sukarela,” ucap Kirana dengan tenang dan tanpa emosi apa pun.


“Beraninya kau menyamakan diriku dengan pelacur,” kata Yemima dengan suara gemeletuk gigi yang saling bergesekan. Menahan amarah yang menghinggapi kepalanya.


“Sudah cukup kau membuat keluargaku berantakan. Jangan berani-berani kau membuat keributan lagi atau kau akan menanggung akibatnya. Aku bukan wanita terpelajar yang tahu sopan santun jika kau terus memancing keributan.”


Yemima Sandrez menatap Kirana dengan nyalang, kedua tangannya terkepal erat hingga baku jarinya memutih. Wajahnya memerah terlihat seperti udang rebus setengah matang. Dia bangun dan pergi dari hadapan Kirana begitu saja. Namun, sebelum mencapai pintu wanita itu menoleh dan berkata, “Kau akan menyesal telah menghina dan merendahkan harga diriku!”


“Silakan lakukan apa pun. Kau ingin menyebarkan video itu? Maka lakukan saja agar semua orang tahu seberapa rendah dirimu karena menggoda suami orang.” Kirana memberikan senyum paling menawan untuk mengantarkan kepergian wanita itu.


Tangan Kirana segera memijat pelipisnya pelan. Ada-ada saja. Hidupnya baru saja tenang selama beberapa hari ini, kini masalah baru datang lagi.


...✿✿✿...


Brak!


Yemima membanting pintu mobil dengan keras saat rencananya justru gagal untuk membuat wanita itu terpengaruh.


Harusnya dia yang mengintimidasi, tetapi justru dirinya sendiri yang merasa tengah diintimidasi dengan ketenangan yang dimiliki oleh wanita itu.


“Sialan,” umpatnya dengan wajah merah padam.


Sepanjang jalan wanita itu belum bisa meredakan amarahnya. Beberapa kali dia memaki, mengumpat dan menyumpah serapah.


Saking panasnya hati dan pikirannya, wanita itu berulang kali hampir menabrak mobil yang ada di depannya. Pikirannya benar-benar diliputi kemarahan.


Sesampainya di restoran, Yemima segera turun dan masuk ke dalam restoran. Lalu menyebutkan nama seseorang yang telah menunggunya.


Memasuki ruangan private, Yemima menghilangkan wajah marah dan memasang senyum ramah di wajah cantiknya.


“Aunty.” Yemima mendekat dan memberikan cipika-cipiki pada wanita tua itu.


Wanita tua itu menyunggingkan senyum tipis dan berkata, “Tidak melihatmu beberapa hari saja kau terlihat semakin menawan.”


Yemima tersenyum, pipinya tersipu malu mendapatkan pujian yang sebenarnya hanya bualan saja dari wanita tua itu.


“Apa kabar Aunty?”


“Sangat buruk! Sejak Kendrick lebih memilih wanita rendahan itu semuanya menjadi kacau.”


“Dia benar-benar wanita rendahan Aunty.”


“Itulah sebabnya aku tetap mendukungmu bersama dengan Kendrick. Karena aku tahu hanya kamu yang pantas berada di sisinya,” ucap wanita itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


“Tapi semuanya gagal. Ternyata wanita itu tidak terpengaruh sama sekali dan masih bisa melontarkan penghinaan. Ingin sekali aku memukul wajahnya,” kata Yemima kembali ingat dengan penghinaan yang diterima.


“Kau sudah melakukannya dengan baik, Sayang.” Wanita tua itu merespons dengan senyum walaupun di dalam hatinya mengumpat tentang kebodohan wanita di depannya.


Wajah memang cantik, pendidikan memang tinggi, dan latar belakang keluarga yang jelas. Namun, jelas bahwa wanita itu hanya wanita berotak kosong yang mudah dipengaruhi.


“Tapi aku gagal. Dia tidak memberikanku kesempatan untuk mempengaruhinya, justru dia bisa menebak apa yang terjadi sebelum aku mengatakan banyak hal.”


“Meskipun dia tahu yang sebenarnya, dia pasti akan memilih diam karena wanita seperti itu hanya akan bahagia bila diberikan banyak harta. Dia akan tutup mulut meskipun itu suatu hal yang menyakitkan.” Wanita tua itu bicara dengan nada emosi. Seperti tengah mengungkapkan isi hati yang paling dalam.


“Aunty benar,” sahut Yemima dengan menganggukkan kepala. “Lalu aku harus apa untuk bisa memisahkan mereka?” tanyanya dengan tatapan penuh harap.


“Nanti kita pikirkan lagi caranya. Sekarang pergilah berbelanja dan manjakan dirimu,” ucap wanita tua itu mengulurkan black card ke arah Yemima.


“Aku tidak perlu ini Aunty. Aku juga memilikinya,” tolak Yemima.


“Ini hadiah untukmu,” jawab wanita tua itu memaksa. “Bersenang-senanglah.”


“Terima kasih Aunty.”


Yemima pergi setelah urusannya selesai. Tak lupa dia juga membawa black card yang diberikan. Dia akan menghabiskan uang wanita tua itu untuk bersenang-senang seperti yang diinginkan.


Wanita tua itu mengumpat pelan dan memukul meja dengan kasar. Memaki kebodohan wanita itu yang tak bisa totalitas dalam menjalankan rencana. Seharusnya dia bisa lebih meyakinkan, bukannya malah mundur dan menerima begitu saja.


Dia sudah membuang banyak uang untuk meminta wanita itu tetap tinggal di Jakarta demi melangsungkan rencana. Sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk membungkam orang-orang mata duitan yang silau akan imbalan.


Rencana adalah menghancurkan keluarga kecil Kendrick melalui Yemima. Membuat wanita itu berada di antara rumah tangga mereka. Lalu membuat drama seolah-olah yang melakukan semua itu adalah ayahnya sendiri. Membuat seorang anak semakin menaruh benci pada ayahnya.


Menjauhkan mereka, bahkan jika mungkin dia berharap Kendrick akan memutuskan hubungan kekeluargaan, sehingga Andrean akan menjadi satu-satunya putra dan pewaris seluruh kerajaan bisnis RD Group.


To Be Continue ....