Affair With CEO

Affair With CEO
Berakhirnya sebuah kejahatan



Kendrick memutuskan terbang ke Berlin setelah melacak keberadaan Andrean. Bersama dengan Roy dan para agen rahasia mereka menuju salah satu rumah mewah yang terletak di kawasan elite. Di mana hanya orang-orang kaya dan berpengaruh yang bisa memiliki hunian di sana.


Sebelumnya mereka telah berkoordinasi dengan polisi dan FBI untuk memantau pelaku. Di antara para pelaku yang melarikan diri, tiga orang telah tertangkap dan akan segera disidang. Sementara yang lain masih tetap dalam pencarian.


Termasuk Andrean.


Yang terlacak bersembunyi di rumah mewah milik salah satu pengusaha ternama.


Para polisi dan anggota FBI langsung menerobos memasuki rumah mewah itu meski harus melawan beberapa penjaga yang tak mau mundur.


“Angkat tangan. Rumah ini sudah dikepung!” teriak salah satu pemimpin pasukan.


Para pelayan yang terkejut segera menunduk dengan kedua tangan terangkat.


“Di mana pemilik rumah ini?” tanya salah satu petugas pada pelayan.


“Mereka masih ada di kamar,” jawabnya dengan gemetar.


Pemimpin pasukan itu segera memberi kode pada seluruh anggota untuk menggeledah dan mencari penghuni rumah.


“Kami menemukannya, Pak!”


“Bawa mereka semua ke ruang tengah.”


Di ruangan tengah. Kendrick menatap tajam ke arah dua paruh baya yang datang dengan tangan yang saling terborgol.


“Kendrick ... ada apa ini? Mengapa kalian datang seperti ini dan berlaku seperti kami adalah penjahat saja,” tanyanya dengan nada marah.


“Roy! Apa yang kau lakukan di sini? Di mana Rajendra?”


“Tuan Besar ada di rumah sakit dan Anda jelas tahu penyebabnya,” balas Roy dingin sembari menatap mata lawan bicaranya tajam.


“Anda memang penjahat sekaligus menyembunyikan penjahat di rumah Anda,” sahut salah satu petugas.


Dua orang lagi datang dengan kedua tangan yang juga diborgol. Di wajah sang pria ada beberapa bekas luka pukulan dan sudut bibirnya tampak berdarah.


Pria itu menatap Kendrick nyalang dan ingin maju menyerang. Namun, suara memekik di sebelah membuatnya menghentikan langkah. Wanita dengan perut besar itu mengusap perutnya lembut. Tampak keringat dingin membasahi dahinya.


“Brengsek!” umpatnya.


Mereka semua digiring menuju kantor polisi. Keluarga itu benar-benar terbukti bersalah dengan bukti-bukti yang sudah dikantongi.


Pemasok narkoba tangan pertama adalah Tuan Sandrez. Andrean hanya jaringan yang mendistribusikan. Sementara istri Tuan Sandrez terlibat pencucian uang dengan beberapa pengusaha yang cukup memiliki nama.


Sementara Andrean. Dia terbukti melakukan banyak kejahatan. Salah satunya adalah pembunuhan berencana pada Rajendra.


Keluarga Sandrez yang dulu dipuja-puja oleh Rajendra tak ubahnya kumpulan penjahat.


Sementara di sini, Yemima Sandrez meraung saat dibawa ke kantor polisi. Wanita itu memang tak terbukti bersalah, tetapi dia tetap saja akan mendapat hukuman karena menyembunyikan kejahatan orang tuanya dan memberi ruang pada Andrean yang menjadi DPO.


“Ken, tolong jangan lakukan ini. Kau temanku, kan? Kasihanilah aku dan bayiku yang sebentar lagi akan lahir,” ucapnya dengan isak tangis.


Yemima Sandrez hamil karena malam panasnya bersama dengan Andrean kala itu.


Tuan Sandrez yang mengetahui tentang siapa pria yang menghamili putrinya, langsung menyiapkan banyak rencana untuk pelarian Andrean. Dia tidak ingin cucunya lahir di tengah kekacauan yang terjadi. Namun, belum sempat pelarian dilakukan, kebusukan mereka telah terbongkar lebih dulu


“Ikuti saja prosesnya. Jika memang kau tak terlibat apa pun polisi tidak akan memberikanmu hukuman berat.”


Kendrick berpaling dan keluar diikuti Roy.


“Pastikan nggak ada yang menolong mereka. Buat Andrean mendapat hukuman seberat-beratnya.”


“Baik, Tuan.”


Satu bulan kemudian polisi mengabarkan jika Keluarga Sandrez dan Andrean akan disidang untuk mendapat hukuman.


Tepuk tangan menggema di dalam ruangan perawatan Rajendra saat Roy memberi informasi jika Andrean akan diserahkan pada FBI dan dihukum menurut dengan peraturan yang berlaku.


“Bangunlah, Dad. Aku sudah memberi keadilan untukmu,” bisik Kendrick lirih.


Keadaan Rajendra tak ubahnya seperti mayat hidup. Pria itu dinyatakan koma setelah melewati masa kritis.


Dokter tak bisa memperkirakan kapan Rajendra akan bangun. Bisa satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau sama sekali tak akan bangun.


Kirana mengusap bahu suaminya pelan dan berkata, “Tuan Rajendra yang pemarah dan arogan nggak akan semudah itu untuk menyerah dengan keadaan. Bangunlah Grandpa ... Ricky menagih janji untuk dibelikan taman bermain sebagai hadiah ulang tahunnya.” Tangannya mengusap sudut matanya yang berair.


...✿✿✿...


Setiap hari Kirana, Kendrick dan Diah akan bergantian untuk menjaga Rajendra. Meski sudah ada perawat yang menemani di sana, tetapi jika tidak ada keluarga yang menemani rasanya kurang lengkap.


Pagi itu Kirana pulang karena akan menjemput Lina di sekolahnya.


“Grandpa kapan sembuh, Ma?” tanya Lina yang duduk di sebelahnya.


“Doakan saja cepat sembuh ya. Mintakan pada Tuhan untuk memberikan Grandpa umur yang panjang. Oke?”


“Aku selalu berdoa untuk kesembuhan Grandpa, Mama.”


Kirana mengusap pucuk kepala putrinya.


Siang harinya Rina dan Ricky baru saja tiba di rumah setelah liburan beberapa hari di rumah kakek neneknya di kampung halaman.


Lina tidak ikut karena dia ada kegiatan sekolah yang tak bisa ditunda.


“Mama nggak ikut, ya?” tanyanya pada Kendrick yang datang dengan berbagai oleh-oleh.


Pagi tadi Kendrick memang menjemput kedua anaknya di kampung halamannya.


“Katanya hari Sabtu mau ke sini. Tadi tak ajak bareng nggak mau. Katanya masih ada urusan di rumah,” jelas Kendrick.


Sore harinya Kirana berserta suami dan anak-anaknya datang ke rumah sakit. Berharap dengan kehadiran cucu-cucunya, alam bawah sadarnya merespon untuk memiliki kekuatan agar bisa membuka mata.


“Berikan salam untuk Grandpa,” kata Kendrick mengingatkan.


Dua gadis kecil kesayangannya segera memberikan salam dan kecupan pada pipi Rajendra yang terasa dingin.


“Grandpa, semoga cepat sembuh ya. Aku sayang Grandpa,” bisik Lina pelan.


Pukul tujuh malam, para sahabat Kendrick datang menjenguk. Mereka yang cukup mengenal baik Rajendra turut perihatin dengan apa yang terjadi.


Bersyukur sekali Kendrick memiliki para sahabat yang selalu menemaninya dalam keadaan apa pun.


“Kenapa wajahmu kusut, Sean?” tanya Kirana dengan alis terangkat. Tidak biasanya wajah pria itu terlihat mendung.


Alfred justru terkekeh mendengar pertanyaannya. “Jangan tanya dia, Kiran. Dia lagi mode sengol bacok.”


“Ada masalah apa?” tanyanya penasaran.


Semua orang terdiam tak ada yang menjawab. Namun, Kendrick menghela napas pelan dan menggeleng sebagai tanda untuk tak bertanya lebih.


Saat semua orang masih sibuk dengan pikiran masing-masing, terdengar suara alat-alat di tubuh Rajendra berbunyi lumayan nyaring. Kendrick segera berlari menghampiri ranjang dan melihat tubuh sang ayah kejang beberapa kali. Tangannya menekan tombol memanggil dokter dan mereka semua diminta untuk menunggu di luar.


“Daddy pasti baik-baik saja. Benar begitu, kan Kiran?”


To Be Continue ....