Affair With CEO

Affair With CEO
Hidup atau mati?



Kirana akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Sean, Alfred dan Hanin memutuskan membawanya kembali sembari menunggu kepastian dari pihak berwajib dan tim SAR yang masih berada di lokasi kejadian.


Karena jatuhnya mobil itu di jurang yang cukup dalam, maka evakuasi sedikit mengalami kesulitan.


Indra berada di bangku belakang sendirian. Pria itu tengah berbaring di sana dan menolak dibawa ke rumah sakit.


“Kamu baik-baik saja, Ndra?” tanya Hanin memastikan sekali lagi.


“Baik, Om. Ini hanya luka ringan.”


“Tapi luka di kepalamu tetap harus diperiksa. Itu bisa berbahaya kalau diabaikan.”


“Nanti aku akan ke rumah sakit, Om. Saat ini aku benar-benar tidak apa.”


“Tidurlah. Biarkan tubuhmu istirahat sejenak.” Hanin saat ini duduk memangku kepala Kirana yang masih betah memejamkan matanya. Pria itu juga khawatir dengan keadaan anaknya, tetapi tak bisa melakukan apa pun kecuali berdoa untuk keselamatan nyawanya di manapun dia berada.


Awalnya Hanin ingin menghubungi Rajendra dan mengabarkan tentang hal ini. Namun, Alfred melarangnya dan mengatakan bahwa pria tua itu jelas tahu apa yang terjadi. Jika pun tidak tahu dari berita di televisi, pasti akan ada seseorang yang menginformasikan.


Alfred dan Sean begitu meyakinkan saat mengatakannya.


Dipikir lagi itu memang benar. Rajendra punya mata dan telinga di mana-mana. Dia yakin pria tua itu pasti akan tahu, entah bagaimana reaksinya nanti.


Alfred dan Sean yang ada dibangku depan sesekali saling melirik dan menghela napas pelan. Dari wajah keduanya tak nampak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Seperti telah mengetahui sesuatu.


...✿✿✿...


Di tempat yang berbeda, seorang wanita tengah tergopoh lari menghampiri suaminya di ruang kerja. Wanita itu nampak terengah dengan napas yang terlihat naik turun.


“Ada apa?” tanya Rajendra malas.


“Kendrick ... dia mengalami kecelakaan,” kata Sisil setelah meneguk segelas air.


“Lalu?” Reaksi Rajendra seperti kurang berminat mendengarnya.


“Reaksi apa yang kau tunjukkan itu! Kendrick itu putramu, putra kita. Kenapa kau malah bertanya seolah benar-benar tak peduli lagi.”


Rajendra membuang napas kasar. “Aku memang tidak peduli dengannya lagi. Jadi simpan semua informasi yang ingin kau katakan,” ujarnya dengan raut datar.


Sisil menatap tajam ke arah Rajendra dengan marah. Dia maju melangkah mendekati suaminya ....


Plak!


Entah keberanian dari mana tangan Sisil berhasil mendarat sempurna di wajah sang suami.


“Kendrick itu putra kita. Dia darah dagingmu, setidaknya milikilah hati untuk peduli dengan keadaannya. Kau keterlaluan, Rajendra!”


“Sudah ada istri dan keluarga Diah yang mengurusnya. Kau tidak perlu ikut terlibat.”


“Kau benar-benar tidak punya hati!”


Sisil pergi dari ruang kerja suaminya. Wajah yang tadinya tampak marah bercampur khawatir, kini sirna berganti dengan senyum puas yang penuh arti.


“Bagus, Rajendra. Jangan peduli dengan anak pelacur itu, biarkan dia mati menyusul ibunya. Mereka memang pantas berada di neraka karena telah merebut kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku dan Andrean.”


...✿✿✿...


Siaran televisi terus memberitakan tentang kecelakaan yang terjadi dan kondisi terkait di lokasi kejadian.


Nama-nama korban yang turut terlibat juga ikut disorot. Salah satunya nama Kendrick yang hingga detik ini masih menjadi daftar korban yang belum ditemukan.


Belum ada perkembangan dari pihak kepolisian maupun tim SAR yang mencari. Setiap satu jam sekali Kirana selalu menghubungi pihak terkait untuk menanyakannya.


Tanpa terasa satu hari telah berlalu begitu saja. Kirana dan Diah tak hentinya menangis penuh kesedihan. Ada harapan yang besar, ada pula kekhawatiran yang amat mendalam. Tak lagi bisa dijelaskan perasaan dua wanita itu.


“Ken, bertahanlah. Kamu nggak boleh ninggalin aku dan anak-anak,” lirih Kirana menatap putranya yang terlelap di sebelahnya. Bayi gembul itu sedari tadi juga rewel seperti mengetahui isi hati ibunya.


“Aku butuh kamu, mama butuh kamu, anak-anak kita juga butuh kamu. Kami semua butuh kehadiran kamu di sini,” lanjutnya dengan air mata yang tak lagi bisa terbendung.


Dalam bayangannya sekalipun, Kirana tak pernah menyangka sang suami akan meninggalkannya secepat ini. Tidak ada firasat apa pun, tidak ada tanda-tanda yang aneh dari suaminya.


“Ken,” panggil Kirana lagi begitu lirih dengan mata yang terpejam. Entah itu mimpi atau apa, dia seperti melihat sang suami ada di hadapannya.


Hingga tiga hari kemudian tim SAR dan kepolisian mengabarkan bahwa mereka menemukan dompet dan potongan kain yang diduga milik Kendrick, jatuh di dekat aliran sungai yang mengalir deras.


Kirana kembali mendatangi Polres Bogor bersama dengan Diah dan Hanin. Meraka melihat dengan mata kepala sendiri ada identitas Kendrick beserta potongan baju yang sangat dikenali oleh Kirana, karena dia yang memberikan kemeja itu untuk suaminya.


“Kami menemukan potongan kain ini sobek dan terjepit di antara ranting kayu yang kering. Ada darah juga di sana yang sesuai dengan DNA milik korban,” jelas polisi itu sambil menyerahkan selembar kertas laporan dari rumah sakit.


“Tim SAR berhasil mengevakuasi dua mobil yang jatuh, tapi korban lain juga belum ditemukan. Dari analisa penyidik, bisa jadi saat mobil jatuh korban mencoba melompat dan jatuh ke dasar. Kami sudah menyisir semua area jurang dan hanya menemukan petunjuk itu. Andai para korban jatuh ke sungai, maka kecil kemungkin mereka akan selamat.”


“Jangan bicara omong kosong. Suamiku pasti selamat,” bentak Kirana tidak terima.


“Kami bicara menurut apa yang mungkin saja terjadi, Nyonya. Saat jatuh korban jelas terluka, lalu jika mereka hanyut, kecil kemungkinan akan mampu bertahan dalam waktu lebih dari delapan jam.”


“Suamiku masih hidup. Jangan bicara omong kosong, aku hanya akan percaya jika sudah melihat jasadnya,” kata Kirana dengan gemetar. Bibirnya mengatakan hal itu, tetapi hati dan pikirannya yakin bahwa suaminya akan bertahan dan tetap hidup.


“Kami akan terus mengusahakannya, Nyonya.”


“Apa sudah didalami penyebab kecelakaan beruntun tersebut?” tanya Hanin penasaran.


“Sedang kami lakukan, Tuan.”


“Kami semua tidak butuh janji-janji, kami butuh bukti,” teriak Kirana yang mulai kehilangan kontrol. Dia meraung dan memohon di hadapan para polisi untuk menemukan suaminya.


Sesampainya mereka di Jakarta, baru beberapa langkah memasuki rumah, tiba-tiba Kirana jatuh tidak sadarkan diri.


Sean, Alfred dan Indra yang baru datang terkejut dengan pemandangan itu. Mereka segera melompat dari mobil dengan khawatir.


Sean mengangkat tubuh istri sahabatnya dengan hati-hati. Yang dilakukan refleks tanpa ada niat apa pun.


“Sean, aku akan melaporkanmu pada Kendrick jika kau menyentuh istrinya. Dia pasti akan membunuhmu!” bisik Alfred penuh ancaman.


To Be Continue ....