
Setelah libur hampir seminggu, kondisi kakinya sudah mulai membaik dan sudah bisa berjalan normal lagi.
Minggu sore, rumahnya kedatangan tamu yang tak lain adalah Ajeng dan Nina. Ibu dan anak tersebut datang dengan wajah yang penuh binar bahagia.
Kirana hanya menanggapinya datar, wajahnya bahkan terkesan angkuh tanpa senyum yang biasa dipersembahkan.
“Ada perlu apa kalian datang ke sini?” tanyanya saat baru saja mengambil tempat duduk di sofa tunggal.
“Mau bawa kabar bahagia yang bakal bikin kamu nangis darah,” sahut Nina seperti biasa.
“Luna melahirkan dan anaknya laki-laki, seperti keinginan Zidan.”
“Hanya itu? Semua itu nggak ada urusannya denganku!” sahut Kirana menyepelekan.
“Siap-siap kamu bakal dicampakkan oleh Mas Zidan. Dasar wanita nggak berguna!” ucap Nina kasar.
Bukannya tersinggung justru Kirana melemparkan senyum lebar. “Wah, aku menunggu saat itu tiba. Tapi ngomong-ngomong soal nggak berguna harusnya kamu ngaca dong, kamu bahkan lebih nggak ada gunanya buat hidup. Menyusahkan aja.”
Nina melotot marah, dia bangkit dan melayangkan tangan hampir menarik rambutnya tetapi dengan sigap Kirana langsung menghempaskan tangan adik iparnya dan membuat tubuh mungil wanita itu terdorong ke belakang.
“Oh sorry adik ipar, nggak sengaja.” Begitulah kata-kata yang dulu terlintas saat dirinya jatuh dan kehilangan bayinya.
“Kurang ajar kamu!” bentak Ajeng marah.
“Aku nggak sengaja, Bu. Ngapain harus marah, kan udah minta maaf.” Kirana menampilkan wajah tanpa rasa bersalah.
“Awas kamu, Mbak. Lihat nanti kalau Mas Zidan bener-bener ninggalin kamu.”
“Nggak masalah. Aku nggak takut sama sekali dengan ancaman kalian.”
“Kamu akan terima akibatnya, Kirana.”
“Lakukan apa pun yang ingin kalian lakukan. Seperti dulu saat kalian hampir memberikanku pada pria lain dan saat kalian membunuh calon bayiku.”
Terkejut.
Tubuh kedua wanita itu menegang dengan sempurna lantaran tak menyangka bahwa Kirana akan mengucapkan sesuatu yang selama ini tak diketahui oleh siapa pun termasuk Zidan.
Tanpa mau memperpanjang masalah kedua wanita itu segera enyah dari hadapan Kirana.
Dan wanita itu akhirnya merosot dengan tubuh yang bergetar. Tangisnya terdengar lirih saat mengingat kejadian tiga tahun lalu.
Saat Kirana mengatakan bahwa ibu mertua sengaja menumpahkan minyak di sana. Bukannya percaya justru Zidan menuduh dirinya yang memfitnah karena tak menyukai ibu mertua.
Di saat dia butuh dukungan justru sang suami yang sangat dipercaya mengabaikan dan ikut memojokkannya.
“Mama!”
Kirana segera menghapus cairan bening yang tumpah dari matanya. Dia menoleh dan mendapati Rina menatap ke arahnya.
“Ada apa, Nak?”
“Apa bener yang aku dengar tadi bahwa nenek sama tante jahat?”
“Kamu salah dengar. Mama nggak ngomong gitu kok.”
“Terus ngapain mama nangis?”
“Cuma kelilipan. Oh, ya selama liburan, pulang ke rumah nenek mau nggak?”
“Mau dong, aku juga kangen diajak ke pasar sama nenek sama kakek,” sahut Rina bersemangat.
Setelahnya ibu dan anak tersebut masuk ke kamar masing-masing.
Seusai makan malam bersama, Kirana kembali menanyakan kepada sang anak bungsu tentang kepulangan mereka ke rumah neneknya.
“Mau, Ma. Liburnya dua minggu jadi di sana lama ya?”
“Iya, tapi mama nggak ikut. Nanti mama pulang lagi ke sini, kan mama kerja.”
Tanpa bertanya mereka setuju begitu saja. Wajah keduanya tampak begitu bersemangat dan antusias.
Ini salah satu langkah awal, untuk membuat keduanya jauh dari masalah.
...✿✿✿...
Kendrick berjalan memasuki sebuah klub malam yang langsung disambut dengan suara dentuman musik yang memekik telinga.
Kakinya melangkah menuju lantai dua di mana para sahabatnya sudah menunggu. Sedikit terkejut ketika menyadari ada sosok wanita di sana. Sejak kapan wanita itu ada di Indonesia, pikirnya.
“Hai, Ken. Long time no see, aku merindukanmu.” Wanita itu segera memeluk dan mencium pipinya.
Kendrick hanya tersenyum tipis. “Sejak kapan kau di sini?”
“Kebetulan aku baru tiba sore tadi dan minta Sean untuk kita bertemu. Kau sangat sulit dihubungi, Ken.”
Bukan sulit, tetapi dia memang sengaja menghindar dan menjaga jarak dengan wanita itu.
Kendrick duduk di samping Alfred dan segera memesan beberapa minuman dengan kadar alkohol yang tinggi.
“Gila kau ya! Mabuk janda sampe lupa daratan,” bisik Alfred di telinga.
“Tutup mulutmu brengsek!” desis Kendrick dengan wajah datar.
“Untuk apa kau datang ke Indonesia, Sarah? Kau ada pemotretan di sini?” Wanita bernama Sarah tersebut langsung menggeleng pelan.
“Aku merindukan Indonesia dan salah satu prianya,” sahut Sarah dengan mata yang tak lepas menatap ke arah Kendrick.
“Wow! Kau berkencan dengan pria Indonesia?” tanya Sean pura-pura, walaupun dia tahu siapa yang dimaksud.
“Kau akan tahu nanti,” sahut Sarah dengan senyum penuh arti.
“Kudengar kau sempat pulang ke Jerman, Ken?”
“Ya hanya beberapa hari saja.”
“Kau tak berencana kembali ke sana?”
“Tidak saat ini.” Begitulah tanggapan Kendrick menjawab semua pertanyaan Sarah.
Jarum jam terus berputar. Beberapa botol minuman beralkohol sudah kosong. Terlihat dua wanita yang disewa Sean sudah mabuk dan mulai menggerayangi pria tersebut. Sementara Sarah sudah mulai teler, bibir wanita itu terus memanggil nama Kendrick diiringi des@han yang penuh gairah.
Kendrick memanggil Indra dan meminta sang sopir sekaligus tangan kanannya untuk mengantar wanita tersebut ke hotel tempatnya menginap.
“Jadi apa yang kau inginkan, Ken?” tanya Sean setalah mengusir dua wanitanya.
“Dia bekerja di kantormu. Kau bisa memecatnya?”
“Siapa?”
“Zidan Pranadipa.”
Kedua pria itu memang sudah mendengar tentang Kendrick yang menyukai istri orang. Bahkan beberapa kali Sean si brengsek menyarankan sesuatu yang memacu adrenalin.
“Kau akan dapatkan kabarnya dalam beberapa minggu, Ken.”
“Thanks.”
“Jadi wanita itu istri Zidan?” tanya Sean, matanya seperti menerawang jauh mengingat sesuatu.
“Sebentar lagi akan jadi mantan,” sahut Kendrick sinis.
“Memangnya kenapa?”
“Kirana Mirabelle, kan? Wow! Siapa yang tak mengenalnya. Si cantik dengan body bak gitar spanyol itu bahkan menjadi incaran para buaya ketika dia masih bekerja di kantorku.”
Kendrick sedikit terkejut mengetahui fakta bahwa wanita itu pernah bekerja di kantor sahabatnya.
“Dia bekerja di kantormu?” tanya Alfred menimpali.
“Ya beberapa tahun yang lalu.”
“Apakah kau termasuk buaya yang juga mengincarnya?” tanya Alfred, melirik sekilas ke arah Kendrick.
“Tentu saja, dia cantik, seksi dan yang pasti menggairahkan. Wow! Oh, damned!” Sean mengumpat ketika gelas kosong melayang ke arahnya.
“Berani kau membayangkan hal itu, aku tak segan membakar mansion yang berisi para wanitamu, Sean.”
To Be Continue ....