Affair With CEO

Affair With CEO
Perang dingin



Pertengkaran suami istri itu terhenti ketika Diah datang dan segera melerainya. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga tidak tahu bahwa Kirana meninggalkan rumah sendirian untuk bertemu mantan suaminya.


“Duduk dan bicara baik-baik. Jangan terbiasa berdebat dengan suara teriakan. Didengar anak-anak itu nggak baik,” ucap Diah ada benarnya.


“Seharusnya mama bicara dengan Kiran, sebagai istri harusnya dia pamit jika ingin pergi. Berduaan dengan mantan suami di tempat umum —” Kalimat Kendrick terpotong saat Kirana menyangkalnya dengan keras.


“Ohh, apa kamu mau aku hanya berduaan dengannya di kamar hotel. Agar orang lain tidak tahu dan tidak akan melihatnya!” balas Kirana dengan berani.


Mendengar ucapan Kirana semakin memancing emosi pria itu. Kurang sedikit lagi jika benar-benar lepas kendali, tangan pria itu sudah melayang menghampiri wajahnya.


“Kirana!”


Tangan Kendrick sudah terangkat tinggi. Namun, tak berapa lama segera diturunkan kembali.


“Apa! Mau pukul aku? Silakan!” balas Kirana yang juga tak mau mengalah.


Keduanya sama-sama memiliki sikap keras dan tidak mau mengalah. Diah yang biasanya menyaksikan romantisme pasangan tersebut, kini hanya mampu menghela napas dalam. Tidak menyangka, sekalinya ada masalah, keributan yang dibawa bisa sedahsyat ini.


Kirana yang sedang dalam suasana hati yang buruk, segera pergi dari hadapan sang suami. Entah mengapa tiba-tiba di hatinya timbul perasaan muak yang sangat besar.


Dia membanting pintu keras dan mengunci diri di kamar. Niat hati ingin mengatakan sesuatu kepada sang suami, tetapi semuanya buyar saat keributan lebih mendominasi.


“Lihat! Semakin hari dia benar-benar nggak bisa diatur,” ucap Kendrick dingin, dia menarik rambutnya kasar dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.


“Kamu juga, beraninya mengangkat tangan pada istri. Mau jadi apa kamu, hah?” omel Diah dengan tatapan tajam.


“Jangan terbiasa menggunakan kekerasan, Ken.”


Kendrick menggeleng pelan. “Hanya sedikit emosi, tapi aku juga nggak akan benar-benar memukulnya, Ma.”


“Sudahlah, kendalikan diri kalian, setelah itu baru bicara dengan kepala dingin. Mama nggak suka lihat kalian kayak gini, telinga orang tua ini nggak aman jika harus mendengar teriakan kalian.” Diah menepuk bahu Kendrick dan berlalu begitu saja.


Keduanya memilih mengurung diri di tempat yang berbeda. Si suami berada di ruang kerja, sementara si istri di kamar. Mereka saling menghindar, bahkan keduanya tak hadir saat makan malam.


Hanin yang tidak tahu apa-apa, tampak heran saat kedua cucunya bertanya tentang orang tuanya. Namun, dengan cepat Diah mengarang cerita dengan baik.


Saat kata tak lagi bisa diungkapkan, menangis adalah jalan terakhir yang bisa dilakukan seorang wanita, saat hatinya terluka.


Kirana masih bersandar di ranjang dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa dicegah. Tidak tahu kenapa, dia marah dengan tuduhan Kendrick padanya. Tanpa mau mendengar penjelasannya, pria itu berani meninggikan suara padanya.


Saat suara pintu terbuka, wanita yang masih terisak itu segera mengalihkan pandangan ke arah lain.


Kendrick masuk, dia bisa melihat jelas sang istri masih terjaga. Bahkan di dalam cahaya kamar yang hanya remang-remang, dia masih mampu melihat wajah sang istri yang tak bersinar seperti biasa.


Perlahan Kendrick mendekat, tetapi wanita itu justru segera bergeser dan memberikan jarak kosong yang sangat dingin. Bahkan saat tangan pria itu hendak terukir, wanita itu menepisnya dengan kasar.


Sedikit lagi emosi pria itu pasti akan terpancing mendapatkan perlakuan kasar dari sang istri.


“Kita perlu bicara, Kiran!” ucap Kendrick lembut.


“Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Toh apa pun yang akan kukatakan kamu nggak akan percaya. Tuduhanmu melukai hatiku,” ucap Kirana, memilih berbaring dan memunggungi sang suami.


Malam itu menjadi saksi, dua orang yang selama ini mengagungkan cinta dan hubungan yang manis, kini harus menuai percikan pertama dalam rumah tangga.


Sepanjang malam keduanya bahkan tidur saling memunggungi.


...✿✿✿...


Kendrick terbangun saat menyadari sang istri tak ada di sampingnya. Dia segera melompat bangun dan mencari wanita hamil itu di kamar mandi, tetapi kosong.


Saat dia keluar kamar, berpapasan dengan Wina yang kebetulan baru saja keluar dari kamar kedua anaknya.


“Kiran mana, Mbak?”


“Sama mama?”


“Iya, Pak. Sama Bu Diah.”


Kendrick segera kembali ke kamar dan membersihkan diri. Dia harus menyelesaikan urusannya yang tertunda kemarin.


Namun, saat dia keluar kamar, ada pakaian yang telah disediakan di atas ranjang. Entah siapa, tetapi dia yakin itu adalah istrinya.


Diam-diam senyum pria itu mengembang. Sang istri tak benar-benar mengabaikannya. Terbukti dia masih menyiapkan keperluannya saat ini.


Menuju meja makan, dia melihat semua orang sudah berkumpul di sana, termasuk sang istri yang masih belum mau menatap ke arahnya.


“Selamat pagi,” sapanya dengan senyum tipis. Menghampiri kedua anaknya dan memberikan kecupan di puncak kepala. Kemudian beralih ke arah sang istri yang hanya diam, tak menolak atau mengeluarkan senyum cerah seperti biasa.


Sarapan pagi berjalan dengan sedikit berbeda. Walaupun Kirana terlihat tetap melayani sang suami, tetapi wajahnya nampak datar tanpa ekspresi.


Setelah sarapan, semua orang pergi dengan aktivitas masing-masing. Meninggalkan Kirana yang masih duduk di meja makan sendirian. Tak lama Diah datang, wanita paruh baya itu baru saja mengantarkan kepergian suaminya.


“Kiran,” panggil Diah.


“Ya, Mam.” Menoleh dan menatap wanita itu dengan wajah tenang.


“Mama nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mama harap, apa pun yang terjadi, kalian berdua segera berbaikan. Bicarakan semuanya dengan kepala dingin, ingat, kalian akan memiliki anak ketiga.” Pesan Diah penuh makna.


“Aku tahu, Ma,” sahut Kirana datar.


“Boleh mama tahu apa yang terjadi?” tanya Diah dengan wajah serius.


Kirana menghela napas berat, dia memejamkan mata dan mulai menceritakan awal Zidan menghubunginya, hingga pertemuan mereka.


Dia juga tak segan menceritakan apa yang dikatakan Zidan padanya, tentang rencana Sisil yang berniat menghancurkan keluarga mereka.


“Wanita ular itu benar-benar licik!” Diah tampak geram, wajahnya bahkan penuh amarah saat menyebut nama Sisil.


“Kendrick punya kakak?” tanya Kirana dengan wajah serius.


Diah menoleh dengan cepat. “Kakak?” ulangnya.


Kirana mengangguk. “Zidan bilang, Nyonya Sisil punya anak bernama Andrean. Benar itu, Ma?”


“Benar, tapi tidak ada yang tahu itu anak Rajendra atau tidak. Karena selama ini mereka menyembunyikannya dengan baik, bahkan media saja tidak tahu informasi tersebut.”


“Di mana dia sekarang? Kenapa Kendrick nggak pernah cerita tentang kakaknya.”


“Hubungan mereka nggak sedekat seperti saudara pada umumnya, Kiran. Andrean diungsikan jauh sebagai bentuk kemarahan Rajendra. Itu yang mama dengar dari almarhum Denisha dulu.”


“Berarti yang dikatakan Zidan benar tentang rencana Nyonya Sisil. Ingin membuat Kendrick melawan Tuan Rajendra hanya untuk bisa membawa Andrean kembali.”


“Bisa jadi. Kalau itu Sisil, aku percaya. Karena baginya tidak ada yang tidak mungkin,” jawab Diah dengan suara rendah. “Itulah sebabnya kamu dan Kendrick harus bersatu untuk melawan mereka. Jangan biarkan mereka yang ingin menghancurkan kalian berhasil.” Sambil menyentuh tangan Kirana dan menggenggamnya.


“Iya, Ma. Nanti aku akan bicara dengan Kendrick.”


“Selesaikan baik-baik tanpa amarah.”


“Makasih, Ma.” Kirana memeluk Diah sayang. Dia berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan keluarganya.


Mereka sudah berjuang selama ini, dia tak akan mau membiarkan perjuangan Kendrick sia-sia.


To Be Continue ....