Affair With CEO

Affair With CEO
Lunturnya ego demi kebahagiaan



“Lepaskan aku! Aku nggak bersalah. Kenapa kalian melakukan ini,” teriak seorang wanita yang kedua tangannya sudah diborgol.


Wanita itu diduga sebagai pelaku yang telah membantu Axel melancarkan aksi pembunuhan. Secara sengaja. Direncanakan.


“Anda bisa jelaskan semuanya di kantor polisi.” Seorang petugas wanita maju dan terpaksa harus menyeret pelaku yang memberontak dan melawan petugas.


“Tolong kooperatif atau kami akan berbuat kasar.” Peringatan itu keluar dari pria berwajah dingin yang memimpin penangkapan ini.


Wanita itu menggeram marah. Kenapa jadi seperti ini. Bagaimana mungkin polisi bisa menemukan jejaknya, padahal dia telah melakukan semuanya dengan aman.


“Tuan Axel telah ditangkap.” Informasi itu membuat tubuh wanita itu membeku. Tidak mungkin. Bagaimana bisa.


Luna menatap tak percaya pada petugas wanita yang ada di sebelahnya. Mau tak mau dia memilih mengalah dan mengikuti petugas. Dia berharap meskipun Axel buka mulut, tetapi tak ada bukti yang memberatkan.


Niat hati ingin menjadi nyonya rumah bergelimang harta, eh justru harus mendekam di hotel prodeo.


Sungguh malang nasib yang menimpa Luna saat ini.


...✿⁠✿⁠✿...


Seorang pria paruh baya menatap ke arah pagar rumah mewah di hadapannya cukup lama. Sesekali terdengar helaan napasnya yang berat dan sesak.


“Kita tidak akan masuk, Tuan?” tanya sang sopir membuat pria itu mengangguk.


Ada ragu yang menyusup di hati ketika pagar terbuka dan terlihat rumah bertingkat tiga. Akankah dia diterima di sini atau justru sebaliknya?


Semakin dekat mobil ke halaman rumah, semakin berdebar pula hatinya. Perasaannya lebih cemas dibandingkan saat harus menghadapi rival bisnis.


Saat pintu mobil terbuka, pria itu menarik napas panjang dan mengembuskan pelan. Melangkah turun dan disambut para pelayan. Bibirnya menyebut pemilik rumah dengan ragu. Sambil menunggu, mata tajam itu mengamati sekitar. Meskipun tak sebesar tempat tinggalnya, tetapi di sana lebih terlihat hidup dan hangat.


“Akhirnya kau mengalah dengan egomu juga, Rajendra.” Suara wanita yang memasuki ruang tamu membuat pria itu menoleh karena sangat familiar dengan suaranya.


“Ada angin apa kau datang sepagi ini?” lanjut Diah dengan tatapan tajam. Berharap kedatangan pria di depannya bukan lagi membawa masalah untuk anak dan menantunya.


“Aku ingin bicara dengan Kendrick.”


“Jika kedatanganmu hanya untuk mengusik mereka. Segera saja angkat kakimu, Rajendra. Tak akan kubiarkan kau mengusik ketenangan Kendrick,” ujar Diah dengan mata berkilat. Meskipun sudah tahu yang sebenarnya dari Kendrick, tetap saja Diah tak bisa menerima kebaikan Rajendra begitu saja. Mungkin saja, kebaikan pria tua itu memiliki maksud terselubung.


“Sialan. Beraninya kau mengusirku, Diah. Akan kuratakan rumah ini dengan tanah jika sekali lagi kau berani mengusirku,” desis Rajendra dengan menatap tajam lawab bicaranya.


Keberanian Diah mengingatkannya dengan Denisa—ibu kandung Kendrick yang juga pemberani.


“Panggil putraku, aku ingin bicara dengannya,” perintahnya seperti tuan rumah, bukan seperti tamu.


Belum juga Diah bangkit dari sofa, suara riuh dan gelak tawa terdengar.


“Ada tamu, Ma?” tanya Kirana, tetapi detik berikutnya dia mematung saat menyadari kehadiran Rajendra.


“Hei menantu, mendekatlah,” ujar Rajendra sedikit keras. Bahkan dia tak segan menyebut Kirana sebagai menantu, sangat kontras dengan pertemuan mereka sebelumnya yang penuh dengan hinaan dan caci maki.


Tubuh Kirana agak gemetar hanya dengan mendengar suara Rajendra. Namun, mendengar kebenaran dari suaminya jika pria tua itu tidak bersalah membuat langkah kakinya tanpa ragu mendekat.


“Apa kabar, Tuan Rajendra?” tanya Kirana saat dia sudah duduk di sebelah Diah.


Rajendra tak menyahut, justru tatapan matanya terfokus menatap bayi gembul yang ada di gendongan.


“Dia cucuku, tampan sekali. Seperti Kendrick waktu kecil,” ucapnya tanpa sadar.


Diah mendengus pelan. Mencibir sikap Rajendra yang dianggap tidak tahu.


“Tutup mulutmu Diah!” desis Rajendra saat telinganya berdengung mendengar gerutuan yang mengungkit kesalahannya.


“Bolehkah aku mengendongnya?” tanya itu lolos begitu saja. Sungguh ... Rajendra terhipnotis dengan bayi menggemaskan itu.


Setelah mendapat anggukan dari Diah, Kirana menyerahkan bayi Ricky ke dalam pangkuan Rajendra.


Untuk pertama kalinya Rajendra menerima dan menggendong cucunya dengan tangan gemetar. Ada rasa haru yang menyusup ke dalam sudut hatinya.


“Maafkan aku, Kirana,” ujarnya pelan.


“Hei, apa yang kau katakan! Aku sama sekali tak mendengarnya, Rajendra!” kata Diah memancing kekesalan.


“Aku tidak berbicara denganmu Diah. Pergilah! Kau mengganggu saja,” omel Rajendra menahan diri untuk tak memaki.


“Siapa dirimu berani mengusirku dari rumah anakku. Dasar tidak tahu malu seharusnya kau yang pergi dari sini.”


“Kau tahu nenek sihir? Kau mirip dengan itu.”


Diah tak pernah takut dengan Rajendra. Sekalipun pria tua itu pernah mengancamnya. kedatangan Rajendra yang penuh maksud membuat Diah berpikir untuk sedikit membalasnya.


“Jika aku jadi dirimu, aku pasti akan mengubur diriku hidup-hidup. Akhirnya kau kalah juga dan mengakui sendiri bahwa kau kesepian. Hidupmu dipenuhi kegelapan karena kau justru memelihara ular yang berbisa. Kau mengusir dan menelantarkan putramu demi iblis wanita itu. Sekarang ... kau tak punya siapa pun lagi dan hidupmu dipenuhi kekosongan. Menyesal kau?” Diah menyindir dengan wajah menyebalkan.


“Maafkan aku Diah.” Rajendra menunduk, menyembunyikan matanya yang kini dipenuhi cairan bening. Perkataan Diah sama sekali tak membuatnya tersinggung karena itu adalah kebenaran.


Andai ... sejak lama dia mau menurunkan ego dan mengalah. Mungkin konflik antara anak dan ayah tidak akan sampai berlarut-larut.


Diah terkekeh pelan. “Ini sama sekali bukan dirimu.”


“Untuk semua hal yang pernah terjadi, aku minta maaf untuk kalian berdua. Aku Rajendra Rusady menyesal dengan apa yang telah dan pernah terjadi di antara kita.”


Air mata kebahagiaan membasahi pipi Kirana. Kembalinya sang suami adalah kado indah yang Tuhan berikan. Namun, ternyata dia masih mendapatkan bonus lain yang tak kalah mengharukan. Diterima dan diakui sebagai menantu oleh seorang ayah mertua yang pernah tak mengharapkan kehadirannya.


“Terima kasih, Tuan Rajendra.” Kirana tersenyum di antara tangis.


“Apa yang terjadi, Kiran, Mama?!” tanya Kendrick yang baru saja memasuki ruang tamu. “Dad?” Sedikit terkejut melihat sang ayah yang duduk bersama dua orang wanita yang tengah menangis.


“Apa yang kau lakukan, Dad?!”


To Be Continue ....