
Kirana yang berada di antara dua pria dengan aura menyeramkan hanya bisa menghela napas berulang kali. Dia baru ingat jika pria yang sedari tadi mencoba mendekatinya adalah Andrean, saudara suaminya, anak dari Sisil.
Kendrick yang melihat pria itu adalah Andrean tampak mengeraskan rahang, tatapannya bahkan mampu membuat siapa pun gemetar.
Pun dengan Andrean yang sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang sudah berulang kali ditemuinya adalah istri dari saudaranya sendiri yang selama ini ingin dihancurkan.
“Apa yang kau lakukan dengan mendekati istriku?” tanya Kendrick dengan tatapan yang tak mengendur sama sekali.
Andrean membalas tatapan Kendrick dengan bibir menyeringai. Ini benar-benar sangat menarik, karena wanita yang membuatnya tertarik justru istri pria yang sangat dibenci.
“Jadi kau menolak Yemima karena wanita cantik ini, luar biasa,” kata Andrean, matanya menoleh menatap Kirana yang cantik khas wanita asia. Bukan seperti Yemima yang memiliki kulit pucat khas wanita barat.
“Tutup mulutmu dan pergilah dari sini,” bentak Kendrick tahu bahwa pria di depannya ini ingin memprovokasi sang istri.
“Kita akan bertemu lagi cantik,” kata Andrean dengan mengedipkan mata. Lalu berlalu meninggalkan meja sepasang suami istri itu.
Kendrick menatap istrinya tajam dan bertanya, “Kalian pernah bertemu? Kenapa kamu nggak memberitahuku?” cecar pria itu dengan wajah memerah.
“Pertama aku bertemu dengannya di hotel milikmu. Lalu yang kedua entah aku sedikit lupa. Semuanya kebetulan dan saat itu aku juga nggak tahu kalau dia Andrean anaknya Sisil,” jelas Kirana panjang lebar, agar tak membuat salah paham di antara mereka.
“Jika kamu bertemu dengannya, menghindar saja. Jangan hiraukan dia,” kata Kendrick penuh penekanan.
“Aku mengerti,” jawab Kirana patuh. Tidak ada urusannya dia akan beramah tamah dengan Andrean.
Suasana hati Kendrick tampak buruk setelah bertemu dengan Andrean. Wajah tampan pria itu tampak menahan kesal hingga merah padam. Kirana menyentuh punggung tangan kekar itu dan melemparkan senyum.
“Sudah jangan marah-marah. Aku nggak suka lihat wajah suamiku yang tampak marah, dia jadi nggak tampan lagi.”
Kirana selalu bisa mencairkan suasana hatinya. Kendrick menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan. Dia balas tersenyum dan mengecup pelipis istrinya.
Sesampainya di rumah, semua orang berkumpul di ruang tamu. Termasuk tamu yang jauh-jauh datang dari negera tetangga.
“Massayu,” kata Kendrick memeluk kakaknya.
“Sudah kukatakan panggil aku kakak, tidak sopan kamu!” protes Massayu yang sudah seringkali memperingati.
Kendrick pura-pura tuli, setelahnya dia berpelukan sebentar dengan kakak iparnya yang tersenyum dan menepuk punggungnya pelan.
“Semoga kamu nggak terganggu dengan istrimu yang cerewet itu,” kata Kendrick disambut gelak tawa Mario.
“Aku lebih suka saat dia cerewet karena kalau sudah diam ... dia lebih mengerikan,” bisik Mario diakhir kalimatnya.
Kakak iparnya itu benar, wanita itu memang mengerikan saat dia sudah diam, dibandingkan saat mereka tengah mengeluarkan rentetan omelan sepanjang rel kereta api.
“Selamat sudah menjadi ayah,” tambah Mario lagi menatap Kendrick, juga mengulurkan tangan ke arah Kirana. “Anak ketiga. Tampan sekali.”
“Terima kasih,” jawab Kirana.
“Tentu saja tampan, siapa dulu ayahnya.” Kendrick menjawab dengan percaya diri.
Massayu dan Mario sudah datang sekitar pukul dua siang tadi. Kebetulan mereka tidak membawa kedua anaknya karena Mario juga ada urusan pekerjaan.
Selama Mario di Bandung, Massayu akan tinggal di rumah ini.
“Kalian masih seperti pengantin baru saja. Kencan terus,” sindir Massayu.
Kendrick menatap tajam saudaranya sambil mencibir, “Iri, bilang bos!”
Setelah menyapa kedatangan saudaranya, Kirana dan Kendrick pamit kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
“Rewel nggak Mbak?”
“Enggak, Bu.”
“Mama bawa oleh-oleh apa?” tanya Lina.
“Mama tadi mampir beli kue di toko langganan. Ada di dapur.”
Rina dan Lina langsung bergegas pergi ke dapur ditemani Wina. Sementara Kirana langsung membawa baby Ricky pergi ke kamar utama.
...✿✿✿...
Sisil tampak kesal, wanita tua itu menatap ponselnya marah. Sedari tadi dia mencoba menghubungi Yemima, tetapi nomor wanita itu justru mati dan tak bisa dihubungi.
Sisil bersiap pergi, saat di depan rumah berpapasan dengan Rajendra yang baru saja datang.
“Aku mau pergi sebentar,” kata Sisil.
“Terserah dirimu. Tidak biasanya kau akan berpamitan padaku,” jawab Rajendra dingin dan berlalu masuk ke dalam rumah.
Sisil menatap punggung suaminya dengan tatapan tajam. Selalu saja seperti itu.
Kapan kau akan melihatku lebih dari sekadar partner kerjasama, Rajendra? Sudah puluhan tahun aku bertahan denganmu, dengan pernikahan ini, tapi kau tak pernah menganggap kehadiranku penting dalam hidupmu.
Kau bisa menyukai Denisha, tapi kenapa tidak denganku? Apa kurangnya diriku sebagai wanita dan istrimu?
Mata wanita tua itu berembun, dia tidak ingin meratapi kepedihan hidupnya sebagai seorang istri yang tak pernah dianggap.
“Nyonya, Anda jadi pergi tidak?” tanya sopir membuat Sisil tersadar dan segera mengangguk.
Empat puluh menit kemudian mobil tiba di basemen. Dia segera masuk dan berniat menghampiri Yemima di apartemen. Dalam hati wanita tua itu mengumpat berkali-kali karena sulitnya menghubungi Yemima.
“Dasar bodoh! Pantas saja Kendrick tidak mau denganmu, kau wanita yang menyusahkan,” ucapnya penuh amarah.
Di depan pintu apartemen Sisil menekan bel berkali-kali, tetapi sepertinya tidak ada orang di apartemen. Dia semakin kesal karena usahanya datang ke sini sia-sia. Lift membawanya kembali turun ke lobi dan segera bertanya pada resepsionis.
“Nona Yemima Sandrez sudah meninggalkan apartemen pagi tadi. Beliau menitipkan kuncinya di sini,” kata petugas resepsionis itu menjelaskan. Dia juga mengatakan bahwa penghuni apartemen itu pergi dengan membawa banyak koper.
“Apa dia tidak bilang akan pergi ke mana?”
“Tidak, Nyonya.”
Sisil menerima kunci apartemen itu dan pergi sambil terus memaki dan mengumpat tentang Yemima. Fakta tentang kepergian yemima membuat Sisil yakin bahwa ada sesuatu yang telah terjadi. Tidak mungkin wanita itu akan menyerah begitu saja dan pergi tanpa memberitahunya.
Dasar wanita tidak berguna. Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Di mobil dalam perjalanan kembali ponsel Sisil tiba-tiba berdering. Wanita tua itu menatapnya sebentar lalu melirik sopir yang fokus mengemudi.
“Katakan saja, aku mendengarkan!”
Sisil menyimak dengan serius apa yang dikatakan seseorang di seberang panggilan. Sesekali dia mengernyit heran seperti berpikir sesuatu.
“Temui aku di tempat biasa. Aku dalam perjalanan,” kata Sisil memerintah.
Setelahnya panggilan terputus begitu saja. Sisil meminta sopirnya berhenti di pusat perbelanjaan. Sisil masuk ke dalam dan meminta sopirnya menunggu di basemen. Namun, bukan belanja yang menjadi tujuannya. Sisil keluar dari lobby utama dan pergi menggunakan taksi.
To Be Continue ....