
Waktu berlalu dengan cepat tanpa masalah berarti. Tanpa terasa bulan telah berganti. Awal Desember mengakhiri musim penghujan yang setiap hari datang membasahi bumi. Membuat beberapa daerah terdampak banjir dan sebagainya.
Satu minggu yang lalu Kirana mendapatkan informasi dari Indra bahwa mantan mertuanya saat ini tengah berada di kantor polisi akibat perilakunya yang melakukan kekerasan kepada menantunya.
Ajeng dituntut menantunya karena melakukan kekerasan fisik padanya dan pada kedua cucunya yang saat ini harus dirawat di rumah sakit.
Kirana cukup puas mendengar berita yang terjadi pada mantan mertuanya yang jahat itu. Meskipun dia tak dapat membalasnya secara langsung, tangan Tuhan selalu bekerja di waktu yang tepat.
Setiap perbuatan baik, akan dibalas kebaikan. Pun sebaliknya. Setiap kejahatan akan ada hukumannya.
Namun, yang amat disayangkan sampai saat ini tidak ada kabar apa pun mengenai Zidan yang menghilang bagai di telan bumi.
Masihkah hidup atau sudah mati?
Saat ini usia baby Ricky sudah menginjak enam bulan. Bayi tampan itu sudah bisa duduk dan mulai aktif dengan tingkahnya yang selalu menghibur.
Setiap hari baik Kirana atau penguni rumah yang lain selalu mengajak bayi itu bicara untuk melatihnya. Setiap malam, Kirana atau Diah akan menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur. Bayi tampan itu menjadi pemegang takhta tertinggi di dalam rumah. Semua perhatian dan kasih sayang tercurahkan untuknya.
Siang itu Kirana menemani baby Ricky bermain di ruang keluarga, saat siaran berita menampilkan sebuah kecelakaan beruntun yang membuatnya berteriak histeris.
“Ada apa, Kiran?” tanya Diah yang berlari menghampirinya.
Namun, bibir Kirana kelu untuk menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah televisi yang tengah menyiarkan berita tersebut.
Diah menatapnya dengan mata kosong. Dia tidak menyangka apa yang tengah dilihatnya nyata. Itu bukan mobil putranya, bukan. Diah langsung ambruk seketika.
“Mama! Bangun, Ma!” teriak Kirana menghampiri Diah. Dia langsung berteriak memanggil pelayan dan meminta mereka memanggil dokter.
Kirana berlari ke kamar mengambil ponselnya. Tangannya gemetar saat memegang benda persegi di tangannya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor Indra, Sean dan beberapa nomor lain yang tak begitu dikenal.
Saat Kirana ingin mencari nomor suaminya, ada panggilan masuk lagi. Dia segera menjawabnya, “Halo.”
“Selamat siang, kami dari Polres Bogor ingin memberikan informasi bahwa mobil Lamborghini Gallardo dengan nopol xxxx yang dikendarai saudara Aska Kendrick Rusady tengah mengalami kecelakaan beruntun di daerah Puncak. Sampai saat ini telah ditemukan tiga korban meninggal dunia, dua luka-luka dan korban lainnya tengah kami evakuasi.”
Tubuh Kirana luruh di lantai. Ucapan polisi itu sama sekali tak masuk di telinganya. Dia seperti orang bingung yang kehilangan arah.
Panggilan terputus dan tangis Kirana pecah begitu saja. Dia menggeleng dan menolak percaya bahwa itu suaminya.
Tidak, Kendrick pasti baik-baik saja. Dia tidak mungkin meninggalkanku, kamu sudah janji padaku tidak akan meninggalkanku. Kamu tidak boleh pergi!
Kirana segera menghubungi ayah mertuanya dan memintanya segera pulang. Ternyata pria paruh baya itu sudah mengetahui yang sebenarnya dan dia dalam perjalanan menuju lokasi saat ini.
“Papa, aku juga akan ke sana,” kata Kirana.
“Ya, datanglah. Bawa sopir dan jangan berkendara sendirian,” pesan Hanin.
Kirana segera mengganti pakaian dan mengambil tas. Dia menitipkan anak-anaknya pada Wina. Sebelum pergi dia menyempatkan melihat Diah yang masih belum sadarkan diri.
“Anak mama pasti baik-baik saja. Dia pria yang tangguh,” bisik Kirana di telinga ibu mertuanya.
Namun, saat dia baru saja keluar dari rumah terlihat sebuah mobil yang tak asing di matanya. Alfred segera turun dan menghampirinya.
“Aku mau melihat ke sana,” potong Kirana tanpa mendengarkan penjelasan pria itu.
“Masuklah. Kami juga akan datang ke sana,” kata Sean yang berada di balik kemudi.
Akhirnya Kirana menurut dan masuk ke dalam mobil yang langsung melesat dengan kecepatan tinggi.
Sepanjang jalan pikirannya hanya terfokus dengan kondisi Kendrick. Air mata tak berhenti menetes dari manik matanya yang kini sudah memerah.
Dalam hati doa tak hentinya dia langitkan untuk keselamatan suaminya.
Perjalanan menuju lokasi kecelakaan kurang lebih memakan waktu dua jam lamanya. Dari jarak mobilnya berhenti Kirana sudah melihat sekacau apa suasana di sana.
Beberapa mobil ringsek dengan body yang tak lagi utuh. Ada ambulans dan beberapa mobil polisi yang saat ini tengah mengevakuasi tempat. Namun, dia tidak melihat mobil suaminya ada di sana. Pikiran Kirana semakin terbang melayang jauh. Dia segera turun dan menghampiri Hanin yang tengah bicara dengan seseorang, terlihat dari punggung lebarnya yang kokoh, dia yakin itu suaminya.
Kirana segera menghampiri mereka, dia memeluk pria itu dengan isak tangis yang memilukan.
“Aku yakin kamu nggak akan ninggalin aku,” katanya.
“Kiran, dia bukan Kendrick.” Mendengar ucapan Hanin, Kirana segera melepaskan pelukan.
“Ini aku,” kata pria itu menoleh.
“Indra,” ujar Kirana yang bisa melihat dengan jelas wajahnya. “Di mana Kendrick? Kau ada di sini, berarti suamiku juga harusnya ada di sini. Ke mana dia? Dia baik-baik saja, kan?” tanyanya beruntun.
Indra menunduk. Dia mengalami beberapa luka di tubuhnya, bahkan kepalanya terlilit perban. Kemeja yang dipakai juga terlihat memiliki noda darah.
Sejak beberapa jam yang lalu Indra seharusnya dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Namun, pria itu menolaknya dan tetap bertahan di sana setelah ditangani oleh dokter.
“Indra!” Kaki Kirana semakin lemas, dia memegang kepalanya yang terasa berat. “Di mana Kendrick?”
Jantung Kirana berpacu lebih cepat, agak sedikit was-was karena tak melihat suaminya. Pikiran buruk jelas tak bisa dienyahkan dari kepalanya. Melihat reaksi Indra yang tidak baik, sudah seperti jawaban untuknya.
“Tenangkan dirimu, Kiran.” Hanin menyentuh bahu Kirana yang hampir kehilangan keseimbangan.
“Bagaimana aku bisa tenang. Di mana suamiku, Pa?”
Kirana menyerobot masuk ke arah garis polisi dan bertanya pada mereka tentang keberadaan mobil suaminya yang tidak terlihat.
“Maaf, Bu. Ada dua mobil yang jatuh ke jurang beserta korban. Kami sedang berusaha mencari dan akan mengupayakan yang terbaik segera.”
Lutut Kirana lemas. Dia jatuh terduduk dengan tatapan nanar ke arah bawah. Tangisnya begitu memilukan siapa pun yang mendengarnya.
“Kendrick!”
Sementara di sudut lain, ada dua orang pria yang diam-diam merekam sosok Kirana yang tengah menangis dan meraung sendirian.
“Kirimkan pada bos!”
To Be Continue ....