
Kendrick membawa keluarga barunya makan malam istimewa di salah satu hotel yang masuk dalam bisnis perusahaan RD Group.
Celotehan Rina dan Lina yang polos membuat suasana semakin bertambah meriah.
Kirana merasa sangat bahagia. Dia benar-benar mendapatkan suami idaman yang berani mengambil risiko dan berani berjuang untuk hubungan mereka.
Namun di antara kelegaan yang melingkupi hati, ada seberkas kegamangan yang menyapu sudut hatinya. Tentang kedua orang tua Kendrick yang jauh di sana. Pikiran tentang bagaimana respons mereka ketika mengetahui pernikahan yang telah terjadi.
“Apa yang sedang kau pikirkan di otak kecilmu itu, Kiran?” Sentuhan dan pertanyaan dari Kendrick membuyarkan lamunan.
“Memikirkan dirimu. Apalagi ....” jawab Kirana dengan seulas senyum tipis.
Setelah selesai makan malam, pria itu tak mengajaknya pulang. Justru mereka malah naik lift menuju lantai atas, pikirannya bertanya-tanya tetapi tak sampai diutarakan ketika pria itu sudah menjelaskan.
“Malam ini kita akan menginap di sini. Besok pagi-pagi kita kembali ke rumah. Lusa kita pindah ke rumah baru, minggu depan kita berangkat ke Berlin,” jelas pria itu merinci tentang jadwal mereka.
“Lalu bagaimana dengan anak-anak?”
“Aku sudah minta tolong pada mama Diah untuk tinggal di rumah sementara kita ke Berlin.”
Kirana hanya mengangguk patuh. Ternyata pria itu sudah memikirkan semuanya.
“Kenapa kita nggak pulang ke rumah saja, Ma?” Pertanyaan dari Lina mengalihkan perhatian.
“Tanya papa Ken.”
“Kenapa, Pa?” Gadis cilik itu giliran menoleh ke arah Kendrick dengan mata yang penasaran.
“Mama sama papa mau buatkan kalian adek. Mau adek nggak?” jawab Kendrick dengan senyum penuh arti.
“Mau. Kalau ada adek, aku dipanggil kakak, ya.” Kepala dengan kuncir dua itu bergoyang-goyang lucu.
“Iya, nanti adek jadi kakak. Mau nggak?”
“Mau, Pa. Tapi maunya adek jangan laki-laki, biar bisa diajak main boneka.”
“Kalau gitu malam ini kita bobo di sini dulu, ya. Nanti kakak sama adek ditemani Mbak Wina.”
“Kenapa nggak bobo sama mama papa?”
“Kan katanya mau adek.” Kendrick terlihat kebingungan. Sementara Kirana hanya menahan tawa karena pria itu sama sekali tidak pernah menghadapi pertanyaan-pertanyaan nyeleneh dari anak-anak.
“Sudah hentikan. Kakak sama adek di kamar ini sama Mbak Wina. Mama sama papa di depan.” Menunjuk pada pintu di depannya.
“Oke.”
“Mbak titip anak-anak,” pesannya.
“Bu Kira nggak usah khawatir. Aman,” sahutnya dengan senyum menggoda.
Saat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar untuk mereka, matanya dibuat takjub dengan keindahan kamar yang mampu memanjakan mata dengan pemandangan kelap-kelip lampu yang indah.
“Sayang, ini bagus banget,” ucap Kirana, menoleh ke belakang menatap sang suami.
“Semua tentangmu, untukmu haruslah yang terbaik.” Kendrick langsung memeluk sang istri dari belakang. “Suka?”
“Suka banget. Makasih.”
Kirana membalikkan tubuhnya dan tersenyum penuh cinta. Dia sedikit berjinjit untuk mencium suaminya.
“Aku bahagia banget, kamu selalu mengutamakan aku dan anak-anakku.”
“Sekarang mereka juga anakku, Kiran,” potong Kendrick. “Apa pun untuk kalian, aku akan mengutamakan di atas segalanya.”
Kirana menyembunyikan wajah di dada pria itu. Menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca dan ingin menangis saat ini.
Dulu dia merasa dicintai hingga semuanya hampir habis tak bersisa, tetapi berakhir dikecewakan sampai rasanya ingin mati. Namun Tuhan menggantikan dukanya dengan bahagia yang berlipat. Bersama dengan Kendrick, dia seperti ratu yang selalu dimanjakan dan dilindungi.
Tiada kebahagiaan lagi yang mampu mengutarakan apa yang dirasakan saat ini.
Kirana terkesiap ketika tangan Kendrick menyentuh paha, menaikkan rok yang dipakai hingga segitiga bermuda yang dilindungi terlihat. Pria itu menjulurkan jemari untuk mengusap bagian yang terlindungi tersebut hingga menimbulkan getaran dan sensasi yang luar biasa memabukkan.
Kendrick menyentuh, mengusap dan mempermainkannya. Jemari pria itu menggesek dengan lembut, bergerak semakin mendorong memasuki pusat diri Kirana yang terasa hangat.
Kegelapan yang menyesakkan membuat sentuhan itu semakin terasa liar. Kirana merasakan sapuan bibir Kendrick, pria itu berusaha menyelipkan lidahnya di mulut sementara tangannya kini mencengkeram pinggulnya dengan erat.
Sesuatu di bawah sana sudah mengeras, menekan pusat diri Kirana yang membara, mendesak dari balik segitiga bermuda yang sudah mulai basah akibat permainan jarinya.
Suara erangan lembut menyerbu gendang telinga Kendrick ketika wanita itu merasakan sesuatu mendesak dalam kabut gairah.
Hingga sesuatu akhirnya terjadi. Pergulatan panas antar sepasang suami istri baru yang berkali-kali menikmati pencapaian yang penuh gairah, mengobarkan suatu percikan panas yang membuat tubuh menggelora.
Menyatu di atas ranjang yang empuk dengan peluh membanjiri.
Jangan dibayangkan woy! Awas ehem-ehem 🙈
To Be Continue ....