Affair With CEO

Affair With CEO
Pembenci mulai muncul



Rintik hujan membasahi bumi. Sudah sebulan berlalu, musim telah berganti dengan begitu cepat.


Memasuki bulan November, intensitas cuaca tak bisa diperkirakan. Setiap hari hujan deras mengguyur dan hampir jarang ditemukan sinar mentari.


Sudah genap sebulan keduanya kembali pada rutinitas. Kendrick ke kantor dan Kirana datang ke toko, kadang pula ke restoran. Memang bisnis yang dimiliki tak terlalu besar, tetapi omset yang didapat sudah lumayan banyak untuk tabungan kedua anaknya kelak ketika dewasa.


Kirana menyadari, sang suami memang bertanggung jawab. Namun, andai suatu saat ada hal tak terduga yang terjadi, dia tak mau merepotkan pria itu untuk pendidikan putrinya.


Walaupun pria itu tak pernah mempermasalahkan biaya ini dan itu, tetapi sebagai seorang janda, dia sadar diri. Kedua anaknya bukan sepenuhnya tanggung jawab pria itu.


Seharusnya sang ayah yang harus memenuhi kebutuhan mereka, tetapi pria itu sudah tak lagi bisa diharapkan.


“Hei, melamun aja!” Kendrick mengalungkan tangannya di leher sang istri yang duduk di balkon kamar.


Kirana hanya tersenyum tipis. “Mandi dulu, nanti aku siapkan pakaian ganti.”


Sebelum Kendrick mengiyakan, pria itu mengecup puncak kepala sang istri lembut.


“Jangan lupa besok waktunya kamu ke dokter.”


“Kamu nggak bisa antar aku?”


Kendrick menggeleng pelan penuh penyesalan. “Besok ada rapat dengan beberapa investor yang ingin menanamkan modal pada hotel baru yang akan dibangun.”


“Ya udah, deh.”


“Jangan marah, lain kali pasti aku yang antar.”


“Iya.”


Seminggu belakangan, Kendrick memang disibukkan dengan proyek pembangunan hotel baru di Bali. Tak jarang pria itu akan lembur sampai tengah malam, setelah memastikan sang istri sudah terlelap.


“Masuk, di luar dingin. Nggak baik buat kesehatan.” Kendrick membawa sang istri kembali ke kamar.


“Anak-anak udah makan tadi. Mungkin sekarang udah tidur, kamu mau makan di sini atau di meja makan?”


“Di meja makan aja. Temani aku makan.”


Sebelum turun ke meja makan, Kendrick sempat melihat ke kamar kedua anak tirinya. Ternyata benar, keduanya sudah terlelap dengan selimut yang membungkus tubuh.


“Beberapa hari ini, aku sibuk banget. Tolong sampaikan permintaan maaf buat Rina dan Lina, mereka pasti kangen banget sama aku.”


“Ya bukan mereka aja yang kangen, aku juga,” sahut Kirana dengan bibir yang mengerucut.


Kendrick terkekeh pelan, gemas dengan ucapan sang istri.


Berangkat pagi-pagi sekali saat kedua anaknya masih mandi, pulang malam saat mereka sudah tidur. Benar-benar tidak ada waktu untuk bertemu.


Namun dengan penuh pengertian Kirana selalu menjelaskan tentang kesibukan pria itu.


“Doakan papa supaya sehat selalu. Papa kerja, cari uang buat kita, jadi kalian nggak boleh marah kalau papa nggak ada waktu buat kita.”


Namun dari semua itu, Kirana justru kasihan melihat perjuangan Kendrick. Pria itu selalu memastikan bahwa mereka semua tak kekurangan apa pun. Memastikan semuanya tercukupi dengan baik tanpa peduli bahwa dia sendiri kurang memiliki waktu untuk dirinya sendiri.


“Malah melamun,” celetuk Kendrick dengan tangan yang masih melayang, menunggu sang istri membuka mulut.


“Aku udah makan, Ken.”


“Nggak apa, makan lagi.”


“Nanti aku gendut.”


“Nggak apa, asal sehat.”


“Nanti nggak cantik lagi.”


“Kalau nggak menarik nanti kamu tergoda yang lain.”


Kendrick mendengkus dengan tatapan tajam, membuat Kirana segera melahap makanan yang disodorkan.


“Satu aja nggak habis, buat apa banyak-banyak. Bikin repot dan pusing,” sahut pria itu dengan suara rendah.


”Kamu nggak akan tinggalin atau mengkhianatiku, kan?”


“Enggak, the one and only you.”


Kirana masih saja dihantui ketakutan sebab kedua orang tua Kendrick masih tak menerima. Dia takut apa yang terjadi, akan terjadi lagi.


“Trust me,” lanjut Kendrick melihat keraguan di sorot mata sang istri.


...✿✿✿...


Keesokan paginya, setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah. Ditemani dengan Wina, dia pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan.


Setelah memastikan kondisinya sehat, janin dalam kandungan juga sehat, dokter kembali meresepkan beberapa vitamin penguat kandungan.


“Sekalian belanja, ya, Mbak.” Kirana bersiap menghubungi Indra, saat mereka masih mengantre di apotik.


“Bu Kira mau beli apa?”


“Mau jalan-jalan aja, bosen.”


“Udah izin Pak Kendrick, Bu?” tanya Wina hati-hati.


“Udah, tenang aja. Udah dikasih izin. Sekalian nanti mampir di toko.”


Setelah mengambil obat, ternyata Indra sudah standby di pelataran parkir. Kirana menyebutkan salah satu pusat perbelanjaan kepada pria itu.


“Maaf, ya, jadi ngerepotin kamu, Indra. Seharusnya kamu ada di kantor, eh malah harus terdampar di sini.”


“Enggak apa-apa, Nyonya. Saya ini serba bisa, lagipula Tuan Kendrick hanya percaya sama saya buat menjaga Anda.”


Kirana mengangguk membenarkan. Indra memang multitalent, menjadi apa pun bisa tergantung kondisi.


Setelah menempuh jarak tiga puluh menit, mobil sudah berhenti tepat di depan pelataran mall.


“Kamu pergi aja, nggak usah nunggu. Nanti aku pulangnya naik taksi.”


“Tapi ....” Indra ragu karena ingat pesan atasannya.


“Enggak apa, nanti aku yang ngomong. Lagipula kami mau jalan-jalan, pasti lama.”


Kedua wanita itu berjalan memasuki mall. Mereka menuju toko pakaian khusus anak-anak, ingin memberikan hadiah untuk kedua anaknya.


Setelah dua paper bag didapatkan, mereka beralih ke sebuah toko jam tangan mewah. Minggu depan, sang suami ulang tahun dan dia sekalian berniat membeli hadiah kecil untuk yang tersayang.


Pilihannya jatuh pada jam tangan berwarna hitam yang sangat elegan tetapi terlihat mewah.


Tak lupa dia mampir ke transmart untuk membeli susu hamil, beberapa buah dan makanan ringan.


Setelah mendapatkan apa yang dicari, mereka memutuskan pulang karena bumil sudah mulai lelah. Rencana ke toko diurungkan, karena dia benar-benar merasa letih.


Saat masih menunggu taksi, ada mata tajam milik seorang wanita yang mengamati dengan penuh kemarahan dan kebencian.


Seseorang yang hidupnya berantakan, karena perbuatan Kirana memenjarakan suaminya.


“Setelah mengacaukan hidup kami, kamu bersenang-senang tanpa beban. Aku sangat membencimu, Kirana!”


To Be Continue ....