Affair With CEO

Affair With CEO
Janji



Rajendra marah, dia marah karena Kendrick lebih memilih wanita yang tak pantas mendampinginya dibandingkan dengan wanita pilihan mereka yang sudah jelas asal usul dan keluarganya.


Setelah kepergian mereka, tak lama pria paruh baya itu tumbang dengan memegang dadanya yang terasa sesak.


Menurut dokter, kondisi pria paruh baya itu melemah karena banyak pikiran dan tekanan. Sisil terus mendampingi, begitu juga dengan Yemima. Wanita itu merasa terhina akibat penolakan yang selalu diberikan pria yang sudah lama menjadi incarannya.


Wanita itu tak mau tahu, apa yang sudah diklaim miliknya harus jadi miliknya.


Sisil menyentuh lembut tangan Yemima. “Kau pasti akan menikah dengan Kendrick, dia hanya milikmu dan hanya kau yang pantas mendampinginya.”


“Tapi, Mom. Dia sudah menolak berkali-kali,” ucap Yemima dengan wajah sedih.


“Mungkin sebaiknya aku mundur saja, Mom. Tidak ada harapan lagi untukku.”


Sisil menggeleng tegas. “Dia hanya sedang salah langkah. Mommy yakin dia akan kembali pada kita,” ucapnya mencoba menenangkan.


“Tapi, Mom.”


“Daddy tak akan tinggal diam, percaya pada kami. Kendrick akan jadi milikmu, bersabarlah sebentar lagi.”


Yemima mengangguk dengan senyum penuh kemenangan. Dia selalu mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tua pria ini, itu membuatnya berada di atas awan.


Keadaan hening setelah kepergian Yemima. Kini hanya Sisil sendirian yang ada di sana, wanita paruh baya yang masih cantik itu menyunggingkan senyum tipis, sorot matanya tajam dan penuh ambisi.


“Saatnya kau kembali Andrean,” gumamnya dengan penuh semangat.


Kondisi Rajendra sudah mulai pulih. Dia sudah membaik dan sudah mulai kembali beraktivitas kembali.


Pria paruh baya itu telah memblokir seluruh rekening dan membekukan aset yang dimiliki oleh Kendrick di Indonesia. Dia akan melakukan berbagai cara untuk membawa putranya kembali pada keluarganya.


Tanpa peduli bahwa apa yang dilakukan akan membuat Kendrick semakin membencinya.


“Panggilkan Roy ke sini,” titahnya pada sang istri.


Tak lama sosok Roy datang dengan tubuh yang menunduk sopan. Dia meminta pria yang menjadi tangan kanannya untuk mendekat dan membicarakan sesuatu.


“Saya akan melakukannya, Tuan.”


“Lakukan! Aku yakin wanita itu akan meninggalkan Kendrick begitu dia tak punya apa-apa.”


Setelah kepergian sang asisten, tampak Rajendra menatap kosong dengan rahang yang mengeras. Pria itu masih tak menyangka bahwa sang putra lebih memilih menentangnya dengan cara seperti ini, dibandingkan dengan cara yang halus.


“Aku akan membuatmu membuka mata, bahwa wanita-wanita dari kelas rendah hanya menginginkan harta dan kemewahan.”


Pria berhati dingin itu sudah bertekad dengan apa yang dilakukan. Ego yang setinggi langit membuatnya enggan mengalah untuk membiarkan putranya bahagia.


Karena Rajendra tak pernah benar-benar merasakan mencintai dan cintai.


...✿✿✿...


Sejak dua minggu yang lalu, Kendrick resmi menjadi pengangguran. Dia tak pernah datang ke RD Group lagi dan tak ada yang mencarinya kecuali Willy.


Kendrick menyesal? Tidak sama sekali. Karena ini memang keputusan yang lebih baik daripada harus menyakiti sang istri.


“Ken ....” panggil Kirana yang baru saja masuk ke ruang kerja sang suami.


“Ada apa, hm? Kamu menginginkan sesuatu?” tanya Kendrick, beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri sang istri. Memeluknya singkat sebelum mengajak wanita hamil itu duduk di sofa.


“Aku mau ngomong. Tapi kamu jangan tersinggung, ya.” Kirana berucap lirih.


Dia tidak mau membuat suaminya tersinggung dengan ucapan yang akan dikatakan.


“Nggak apa-apa, ngomong aja. Aku lebih suka kamu terbuka, katakan apa pun yang membuatmu risau.”


“Kamu nggak mau nyari pekerjaan?” tanya Kirana dengan kepala menunduk. Dia benar-benar tak enak hati jika sampai pria itu tersinggung dengan ucapannya.


Tawa Kendrick justru pecah mendengar ucapan sang istri yang sangat hati-hati. Dia menarik wanita itu ke dalam pelukan dan menciumi puncak kepala dengan gemas.


“Aku tak bermaksud menuntut banyak hal.”


“Aku tahu, Kiran. Kamu nggak perlu khawatir,” sahut Kendrick dengan cepat.


Sebenarnya, Kirana masih belum mengetahui bahwa sang suami masih memiliki satu hotel atas namanya sendiri. Pria itu juga belum sempat bercerita karena sibuk melimpahkan tugas-tugas yang selama ini dikerjakan di RD Group.


Kendrick masih bertanggung jawab untuk menyerahkan kembali apa yang selama ini menjadi tanggung jawabnya.


“Maaf, aku membuatmu dalam masalah.” Isak Kirana lirih. Memang semenjak diketahui hamil, wanita itu agak sensitif tiap kali membahas apa yang terjadi saat ini.


“Udah dibilang juga, ini bukan salahmu dan kamu nggak harus merasa bersalah. Ini ujian, kita pasti bisa melewatinya sama-sama.”


“Tapi bukan berarti harus menempatkanmu pada pilihan yang sulit, Ken. Aku dan orang tuamu, aku nggak mau kamu memilih.”


“Aku nggak memilih, Kiran. Kamu istriku dan udah sepantasnya kamu menjadi tanggung jawabku. Aku nggak akan biarin orang lain menyakitimu, termasuk keluargaku sendiri.”


“Jadi gimana?”


“Masalah pekerjaan?”


Kirana mengangguk.


“Aku masih punya satu hotel atas namaku sendiri. Kita masih bisa melanjutkan hidup dengan itu, nggak perlu cemas.”


Kirana mendongak untuk menatap sang suami. Mencari kebohongan yang mungkin dilakukan pria itu hanya untuk menghiburnya.


“Besok, aku akan mengajakmu datang ke sana,” lanjut Kendrick seakan mengerti dengan isi pikiran istrinya.


“Kita tetap bisa melanjutkan hidup meskipun aku nggak pegang kendali RD Group.”


“Tapi aku yakin, itu nggak mudah buatmu, Ken.”


Kendrick yang terbiasa hidup bergelimang harta, pastinya akan sangat sulit untuk menyesuaikan diri.


“Kita bisa belajar sama-sama. Nothing Impossible.”


“Apa suatu saat kamu akan meninggalkanku, Ken?” Tiba-tiba pertanyaan dengan raut ketakutan itu tergambar dari wajah wanita hamil itu.


“Kamu ini ngomong apa, aku nggak akan tinggalin kamu, Kiran. Sekalipun kita jadi miskin dan hidup susah, aku nggak akan tinggalin kamu. Aku janji. Saat aku udah yakin menikah denganmu, maka saat itu pula janjiku di depan Tuhan. Manusia nggak akan bisa memisahkan kita selain Tuhan.”


“Sekalipun seluruh dunia menolakmu, aku akan selalu ada bersamamu.”


To Be Continue ....