Affair With CEO

Affair With CEO
Kedatangan tamu



Pukul dua belas malam Sarah pamit pulang lebih dulu, dia diantar sopir Kendrick karena bagaimana pun ada rasa tidak tega harus membiarkan seorang wanita berkendara sendirian di tengah malam.


Kendrick dan empat pria itu masih melanjutkan minum. Namun, tidak ada dari mereka yang sudah merasakan tanda-tanda pusing.


Mereka semua peminum yang andal. Tidak akan terkapar hanya karena beberapa botol.


“Ken, kamu nggak mau kembali ke perusahaan?” Tiba-tiba pertanyaan dari Willy membuat pandangan semua mata mengarah padanya.


Willy memang bekerja di RD grup sebagai salah satu direktur perencanaan. Apa pun yang terjadi di sana selalu dilaporkan pada Kendrick selaku teman dan seseorang yang pernah menjadi atasannya. Termasuk tentang Andrean yang bekerja di sana, tetapi dengan posisi yang jauh berbeda.


“Untuk apa. Daddy mengusirku dan memberikan pilihan untuk meninggalkan istriku. Aku nggak akan mengambilnya jika harus mengorbankan keluarga kecilku,” jawab Kendrick.


Sejak awal Sean maupun Alfred sudah menawarkan bantuan, tetapi Kendrick selalu menolaknya dengan alasan dia tidak mau menyeret mereka ke dalam masalahnya.


Mereka tak pernah meninggalkan Kendrick dan selalu ada kapan pun pria itu membutuhkan bantuan. Namun, Kendrick yang meninggalkan mereka dan memilih berjuang dengan caranya sendiri.


“Tuan Axel sudah mulai bergerak,” kata Indra.


“Istrinya jatuh dari tangga dan dilarikan ke rumah sakit, tapi dalam perjalanan mereka mengalami kecelakaan. Menurut kesaksian sopirnya, dia terlalu khawatir hingga mengemudi dengan ugal-ugalan,” jelas Alfred. “Mereka mengalami tabrakan beruntun di perempatan jalan.” Alfred menyebutkan nama jalan yang tidak jauh dari perumahan tempat tinggalnya.


“Mobil Alphard?” tanya Kendrick langsung. Dia ingat cerita istrinya tentang kecelakaan yang hampir menabrak mobilnya juga.


“Ya.”


“Mobil itu juga hampir menabrak mobil Kiran,” seloroh Kendrick sambil menghela napas pelan. “Bagaimana keadaan istrinya?”


“Kritis,” kata Indra lagi.


“Mulai sekarang baik kamu dan Kiran harus berhati-hati, Ken. Ini pertaruhan nyawa.” Pesan Alfred dengan cemas.


“Aku mengerti.”


“Menghadapi orang-orang licik yang punya kekuasaan memang nggak mudah. Tapi Kamu harus ingat bahwa kami semua ada di belakangmu.”


Kendrick menatap semua sahabatnya terharu. Mereka benar-benar setia kawan.


“Thanks.”


Mereka melanjutkan minum hingga dini hari. Karena waktu sudah jelang pagi, Kendrick meminta semua sahabatnya untuk menginap dan memilih kamar. Lalu dirinya sendiri kembali ke kamar sang istri.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dia naik ke atas ranjang. Ditatapnya wajah sang istri yang begitu tenang dalam tidurnya.


Dia menarik sang istri mendekat, menjadikan lengannya sebagai tumpuan kepala dan berbisik penuh keyakinan, “Aku berjanji akan menjaga keluarga kecil kita.”


Keesokan paginya Kirana yang bangun lebih dulu tampak tersenyum ketika melihat wajah suaminya dari dekat. Dia memindahkan tangan sang suami yang melingkar di perutnya, lalu turun dengan perlahan dan segera membersihkan diri.


Kirana keluar dari kamar dan menuju kamar baby Ricky yang ternyata tengah dimandikan Wina.


“Lanjutkan, Mbak. Aku mau lihat anak-anak dulu.”


Langkah kakinya beralih ke arah kamar putri kecilnya. Mereka juga tengah mandi, lalu dia melihat tugas sekolah anak-anaknya yang telah tersusun rapi. Kirana membantu memasukkan buku-buku ke dalam tas.


Di taman belakang ada Diah yang tengah menemani suaminya berolahraga. Kirana menyapa mereka berdua dengan hangat lalu beralih kembali ke dapur. Dia membuatkan bekal untuk kedua anaknya dalam kotak makan.


Pukul enam pagi Kirana mengetuk semua pintu kamar tamu untuk membangunkan para sahabat suaminya dan meminta mereka turun untuk sarapan bersama.


Setengah tujuh semua orang sudah berkumpul di meja makan. Kirana mengernyitkan dahinya karena tak melihat kehadiran kakak iparnya.


“Massayu dan Mario sudah pergi sejak pukul lima. Mereka nggak pamit karena tahu kalian semua pasti masih tidur.”


“Tumben, Ma. Kemarin Mario bilang penerbangan jam delapan. Apa ada masalah?” tanya Kendrick yang akhirnya buka suara.


“Entah hal mendadak apa yang terjadi. Mama juga nggak tahu karena mereka buru-buru,” jawab Diah.


Setengah lima pagi Massayu mengetuk pintu kamarnya dan mengatakan mereka akan pergi. Saat ditanya ada apa mereka berdua tak menjelaskan apa pun.


“Nanti biar aku hubungi Massayu.”


Akhirnya sarapan singkat itu selesai. Sedari tadi tampak Sean menatap ke arah Rina yang begitu manis dengan seragam sekolahnya.


“Hei, Alfred, kau terus melihat ke arah anaknya Kiran. Jangan sampai bapaknya tahu dan kau jadi samsak hidupnya,” bisik Sean yang melihat ke mana arah pandang sahabatnya.


“Dia tampak begitu manis dan menggemaskan,” jawab Alfred tanpa sadar.


“Kau pedofil, Alfred! Astaga! Masih banyak gadis cantik dan seksi di luar sana yang bisa kau nikmati. Jangan jadikan putri Kiran fantasi liarmu,” cerocos Sean.


Alfred memutar bola matanya malas. “Aku hanya melihat mereka sebagai keponakan. Kau jangan membuat ulah, Sean.”


Sudahlah berbicara dengan Sean memang tidak ada gunanya.


“Masih lebih nikmat mengencani wanita dewasa yang sudah berpengalaman. Kau hanya perlu diam dan biarkan para wanita yang memuaskanmu.” Omongan Sean sudah menjalar jauh. Membuat Alfred menendang kaki sahabat sialannya itu. “Auh! Sial,” maki Sean membuatnya menjadi pusat perhatian. Semua pasang mata menatapnya dengan aneh dan heran. Sementara Diah memberikan tatapan mengancam karena mengatakan hal-hal buruk di depan anak di bawah umur.


“Maaf, Tante,” kata Sean dengan nyali menciut. Pria itu beralih menatap Alfred dengan gemeletuk gigi yang saling bergesekan. “Awas kau!”


Untunglah Willy dan Indra tidak duduk di antara dua pria yang selalu bertengkar itu. Jika tidak sudah pasti mereka akan seperti anak kecil yang tengah memperebutkan sesuatu.


Semua orang meninggalkan rumah bersiap melakukan aktivitas.


...✿✿✿...


Sinar matahari bersinar sedikit malu-malu di langit yang mulai mendung. Angin berdesir menyejukkan udara, membuat Kendrick yang tengah berdiri di dekat jendela yang terbuka lebar, merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya.


Hari yang indah, tetapi sayang tak seindah suasana hatinya saat ini.


Dia masih mencerna atas semua masalah yang terjadi dalam hidupnya. Bukan hanya karena tentang dirinya yang telah menikahi Kirana. Dia yakin ada alasan yang lebih untuk setiap perbuatan jahat yang ingin dilakukan ibu tirinya.


Tidak menyangka bahwa ibu tirinya lebih licik dan kejam daripada ayah kandungnya sendiri.


Rajendra memang memiliki lidah yang tajam, sikap arogan dan sombong yang nyata. Namun, dia tidak benar-benar pernah melakukan segala ancamannya. Justru yang melakukannya adalah ibu tirinya.


Lalu dia berpikir bahwa yang melakukan semua ini adalah Rajendra Rusady. Benar-benar rencana hebat.


Bibirnya tersungging senyum perih. Lalu ingatannya kembali terlempar ke masa lampau. Dia yakin bahwa kematian ibu kandungnya ada sangkut pautnya dengan Sisil.


Jika memang benar begitu Kendrick bersumpah tidak akan mengampuni wanita itu.


Lamunan Kendrick buyar saat pintu ruangannya terbuka begitu saja. Dia menoleh ke arah pintu, menatap siapa yang datang dengan begitu tidak sopan.


Sedetik kemudian bibirnya mengulas senyum tipis.


“Hi, Dad!”


To Be Continue ....