
Malam ini Kirana akan menemani kedua anaknya untuk tidur. Melepas rindu setelah berpisah beberapa hari.
Sementara Kendrick dan Diah masih duduk di ruang keluarga dengan televisi yang masih menyala.
Keduanya hanya diam tanpa sepatah kata. Sebelum akhirnya Kendrick berbicara. “Daddy marah dan mama tahu apa yang dilakukan. Dia sudah memblokir seluruh rekening dan semua aset ada di tanganku.”
Diah mengangguk lemah karena tahu siapa sosok yang saat ini tengah dihadapi sang putra. Pria keras yang tak pernah ingin menerima kekalahan.
“Kamu tak perlu khawatir, Ken. Kamu bisa ambil perusahaan milik ibumu. Itu hakmu dan sudah seharusnya kembali padamu.”
Denisha—ibu kandung Kendrick, memiliki perusahaan warisan keluarga. Namun selama ini perusahaan tersebut dikelola oleh Diah karena Kendrick yang sibuk membesarkan nama RD Group milik Rajendra.
Seharusnya Kendrick yang mengambil alih karena dia anak laki-laki di keluarga mereka.
“Aku masih mengelola hotel jika mama lupa. Walaupun uangnya tak sebanyak milik daddy, tapi itu sudah cukup untuk menghidupi anak dan istriku.”
Kendrick punya satu hotel bintang lima. Hotel itu dibangun dengan uang hasil aliran dana dari perusahaan sang ibu.
“Pria tua itu benar-benar keterlaluan,” desis Diah dengan geram. Wanita paruh baya itu mengulurkan dua kartu ke tangannya. “Itu uang-uang yang selama ini menjadi hakmu. Kami sama sekali tak memakainya, Ken.”
Kendrick menggeleng. “Aku tidak semiskin itu, Ma. Aku masih ada uang pribadi. Mama dan papa bisa pakai uang itu untuk berkeliling dunia dan serahkan tanggung jawab perusahaan pada Massayu.”
Massayu adalah sepupunya, anak dari Diah dan Hanin yang telah menikah dan memilih mengabdikan diri pada suami. Dia memang membantu di perusahaan, tetapi tak sepenuhnya.
Sementara Hanin, pria paruh baya itu memiliki perusahaan garmen yang tak terlalu besar tetapi cukup terkenal.
Sebenarnya keluarga mereka bukan golongan orang-orang susah, tetapi jika dibandingkan dengan Rajendra tentu bukanlah apa-apa. Bahkan harta yang dimiliki keluarga mereka jika dikumpulkan tak ada setengahnya milik pria berhati dingin itu.
“Mana bisa mama bersenang-senang di saat putraku tengah kesulitan. Mama menyayangimu meski kamu tidak lahir dari rahimku.”
Kendrick memeluk Diah, matanya berkaca-kaca siap menumpahkan isak tangis. Namun dia tak mungkin melakukannya, dia pria dewasa, malu jika harus menangis.
“Aku tahu, Ma. Aku tahu bahwa rasa sayang mama bahkan tanpa syarat, terima kasih selalu mendukungku dalam keadaan apa pun.”
Diah terisak pelan. Mungkin orang bilang Kendrick lahir dari kesalahan, tetapi itu sudah jalan takdir yang telah diatur. Dia bahkan tak bisa memilih dari siapa dia dilahirkan dan bagaimana caranya.
Mengingat Denisha, membuat Diah kembali mengingat kemarahannya. Sang kakak harus berakhir dengan kisah tragis akibat mereka orang-orang yang hanya memperebutkan harta. Kisah pilu yang disimpan rapat tentang misteri kematian dan kelahiran.
“Katakan jika kamu membutuhkan bantuan kami. Jangan sungkan,” ujar Diah, mengusap lembut kepala sang anak.
“Rajendra tidak akan berhenti begitu saja. Mama yakin dia akan melakukan berbagai cara untuk membuatmu kembali.”
“Aku mengerti, Ma.”
Setelah pembicaraan singkat, mereka memilih beristirahat. Kendrick menuju kamar kedua anaknya dan mendapati ketiga wanita kesayangannya tengah terlelap dengan saling berpelukan.
Bibirnya tersenyum tipis dan mendekat, memberikan kecupan di kening ketiganya sambil bergumam, “Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kita.”
...✿✿✿...
Keesokan paginya, setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah. Kirana harus melepas kepergian Diah dan Rahma yang kembali pulang ke rumah masing-masing. Tugas mereka menjaga kedua cucunya telah usai.
“Dua mamaku tersayang, kunjungilah kami jika kalian rindu. Oh, ya, nanti kalau aku mau lahiran, mama datang, ya.”
Kirana merengek sambil memeluk kedua paruh baya itu.
“Seharusnya yang muda yang mengunjungi orang tua. Tapi ya sudahlah, kami pasti akan sering datang,” kata Rahma memeluk sang anak.
“Jaga diri kalian. Jangan bertengkar, kalau ada masalah diselesaikan baik-baik,” pesan Diah juga.
Mereka berpelukan lagi sebelum berpisah. Sebelumnya Rahma juga sudah memberikan banyak pesan kepada sang menantu untuk lebih bersabar dalam menghadapi masalah.
Setelah kepergian kedua paruh baya itu, Kendrick langsung memeluk sang istri di depan banyak asisten rumah tangga. Membuat Kirana memekik karena malu dengan sikap pria itu yang mengumbar kemesraan.
“Jangan berbuat mesum.”
“Siapa yang mesum. Jangan-jangan kamu yang sudah berpikir macam-macam.”
Kirana terkekeh. “Kasian yang semalam tidur ditemani guling.”
“Bagaimana proses persidangan Zidan?” Tiba-tiba Kendrick mengalihkan pembicaraan.
Kendrick menyeringai. “Baguslah, setidaknya hotel prodeo membuat otaknya jadi sedikit waras.”
“Tapi aku belum puas sebelum Ajeng mendapatkan hal yang sama. Dia udah bunuh anakku dengan kecelakaan yang disengaja.” Keinginan untuk menyeret wanita kejam itu mendekam di penjara untuk bertanggung jawab atas perbuatan jahatnya masih sama. Bahkan jika perlu banyak waktu, dia masih akan setia menunggu asal nyawa yang telah hilang harus mendapatkan hukuman.
Mungkin semua telah terjadi dan tak akan kembali, tetapi setidaknya apa yang dirasakan harus mendapat keadilan. Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, bahkan dia sendiri saat ini tengah mengalaminya.
“Kita bisa pikirkan lagi nanti.”
Keduanya kembali ke kamar, menghabiskan waktu di atas ranjang dengan saling berpelukan sambil mengumandangkan kalimat-kalimat rayuan yang begitu memabukkan.
“Ini masih pagi, tangannya tolong dikondisikan. Jangan nakal,” ujar Kirana, menahan tangan sang suami yang sudah bergerilya nakal di tubuhnya.
“Pagi ataupun malam, sama aja. Nggak ada bedanya.”
Kendrick mengembuskan napas tepat di leher sang istri membuat wanita itu terkekeh karena geli.
“Aku nggak akan melakukan apa pun sebelum kita konsultasikan kondisimu. Aku nggak mau menyakiti kalian.”
“Oh, ya, jadi bagaimana sekarang?”
“Ya enggak gimana-gimana.”
“Aku serius, Ken.”
Kendrick menciumi leher sang istri semakin liar, tangannya mengusap celah segitiga bermuda yang membuat wanita itu mengerang pelan.
“Tenanglah. Aku bertanggung jawab pada kalian dan akan selalu mengusahakan yang terbaik,” ucap Kendrick di sela ciuman.
“Bukan itu maksudku.”
“Lalu?”
“Ahh ... hentikan, Ken.” Kirana menggeliat pelan ketika pria itu semakin menempelkan tubuh mereka dan menggesekkan benda berurat yang sudah bereaksi.
“Aku suka mendengar suara ******* dan lenguhan yang keluar dari bibirmu. Itu seperti lagu cinta yang sangat indah.”
“Jangan menggodaku!”
“Nggak ada salahnya menggoda istri sendiri,” sangkal pria itu kesal.
Kirana mengangguk. “Jangan sampai kamu menggoda istri orang lagi. Ingat, mau ada anak.”
“Hanya kamu istri orang yang membuatku tergoda dan terpikat.”
“Dan hanya kamu pria lajang yang berani mendekati istri orang dengan nekat.”
Keduanya tertawa bersama. Mengingat saat-saat itu adalah kenangan tersendiri untuk mereka.
Mungkin itu adalah kesalahan sekaligus sesuatu hal yang pada akhirnya menyatukan mereka.
“Tapi aku nggak pernah menyesal telah melakukan dosa tersebut. Dosa terindah dan termanis yang membawa kita pada muara cinta.”
“Aku sadar, awal yang kita lakukan salah. Kita udah menerima konsekuensinya. Sebenarnya apa yang dikatakan orang tuamu nggak salah.” Kirana memang merasa ucapan kedua mertuanya adalah kebenaran, mungkin, jika hubungan mereka dimulai dari hal yang baik, mungkin mereka bisa menerimanya terlepas dari status yang berbeda.
“Tapi menghina dan merendahkan juga bukan solusi. Semua udah terjadi. Itu bukan hanya salahmu, itu salah kita berdua.”
Kendrick menghela napas pelan, tangannya mengusap perut sang istri.
“Kita nggak bisa putar semua yang telah terjadi. Nggak usah disesali, yang perlu kita lakukan hanya memperbaiki diri dan menunjukkan bahwa hubungan kita bisa lebih baik.”
To Be Continue ....
...________...
Komen sebanyak-banyaknya biar aku selalu semangat update ♥️ Yang belum baca ceritaku yang lain, boleh mampir dulu dan bantu tinggalkan ulasan bintang lima.
Love banyak-banyak buat pembaca setia 😘