
“Nyonya, ada surat untuk Anda,” ucap pelayan membawa sepucuk surat, menyodorkan dengan sopan.
Kirana menatap datar surat tersebut. Belum mengambilnya karena firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak baik. Entah apalagi isi di dalamnya, pikiran buruknya hadir saat surat tersebut tidak memiliki nama pengirim yang jelas.
Mungkinkah seseorang itu kembali ingin mengacaukan hubungan mereka lagi?
“Ya, terima kasih,” ucap Kirana meminta pelayan itu meninggalkannya.
Sedikit ragu dan berat hati, Kirana mengambil sepucuk surat itu dengan waspada. Tangannya sedikit gemetar, takut mengetahui hal-hal yang tak seharusnya.
Bibirnya menghela napas pelan, matanya tertuju pada tulisan yang sangat dikenali. Benar-benar tidak asing dengan coretan yang ada di kertas putih itu.
Kirana menghela napas pelan, sebelum akhirnya membaca isi surat tersebut.
Untuk Kirana ....
Terima kasih banyak pernah hadir dan singgah di hidupku. Untuk perjalanan panjang yang telah kita lewati bersama. Suka, duka dan bahagia yang kini hanya mampu menjadi kenangan antara aku dan kamu, bukan lagi kita.
Maafkan aku dan keluargaku. Untuk semua perbuatan buruk dan ketidakadilan yang pernah kamu dapatkan. Aku bukan pria yang baik, bukan suami dan ayah yang baik untuk kalian semua.
Maafkan aku, Kira ....
Untuk pengkhianatan dan kesakitan yang pernah kuberikan padamu dan pada
anak-anak kita.
Sungguh aku menyesal untuk itu.
Namun, penyesalan yang kualami tidak akan mengubah apa pun yang telah terjadi. Aku hanya ingin mengatakan satu hal bahwa, mengenalmu, menikah dan hidup bersamamu tak pernah kusesalkan. Bahagia yang pernah kita impikan kini telah kamu dapatkan bersama pria lain yang lebih baik, berbahagialah untuk itu.
Sampaikan maaf untuk Rina dan Lina. Tolong berikan mereka pengertian bahwa aku menyayangi mereka. Buatlah mereka memaafkan pria jahat ini yang telah memilih meninggalkan mereka.
Aku akan pergi dan mungkin tak akan kembali. Aku lelah dan muak dengan kehidupan yang dilakukan ibu. Aku lelah dan rasanya ingin menyerah saja.
Tolong jaga dirimu, jaga anak-anak kita dan semoga bahagia terus tercurahkan untuk keluarga kalian.
Jika pun takdir membawaku kembali, semoga aku kembali dengan ingatan yang baik dan maaf telah kudapatkan dari orang-orang yang pernah tersakiti.
Selamat tinggal Kira ....
Air mata menetes di pipi Kirana saat selesai membaca surat tersebut. Apalagi saat membaca bait terakhir kalimat yang sungguh menyesakkan dada. Seolah-olah mereka tidak akan bertemu lagi di kehidupan ini.
Zidan selalu menuruti keinginan ibunya. Namun, tanpa sadar semua itu justru membawanya pada kehancuran secara perlahan.
Sejak Zidan menyadari sikap dan perbuatannya salah, justru ibunya beralih memusuhinya dan merusak mentalnya terus-menerus dengan kalimat jahat yang seharusnya tak pantas seorang ibu ucapkan pada anak yang telah dilahirkan.
“Jangan lakukan apa pun, Zidan,” gumamnya pelan.
...✿✿✿...
“Ma, adek bayinya kapan pulang sih? Aku pengen lihat,” ucap Rina manja.
“Besok kalau sudah sehat dede bayi pasti pulang. Jangan lupa doakan adek bayi supaya sehat, biar bisa berkumpul sama kita.”
Kedua putrinya mengangguk dan berceloteh ria. Menceritakan kegiatan mereka di sekolah, teman baru dan lingkungan yang lebih baik dari sebelumnya.
Memiliki fasilitas lengkap dan keamanan yang terjamin.
Kendrick memindahkan mereka di sekolah swasta berbasis internasional yang dimulai pagi hingga sore hari. Awalnya keduanya mengeluh karena lelah dan banyak alasan lain yang diutarakan. Namun, seiring berjalannya waktu lama-lama mereka bisa beradaptasi dengan baik.
“Apa, Ma?” tanya Rina.
Sebelum membuka mulutnya lagi, Kirana menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. “Ini tentang Papa Zidan.”
“Aku capek, Ma. Mau bobo dulu,” ujar Rina langsung turun dari sofa, wajahnya benar-benar menunjukkan rasa tidak suka.
Kirana mencekal tangan sang anak dan menatapnya tajam. “Dengerin dulu mama ngomong. Jangan sampai kamu menyesal nanti kalau sudah nggak punya ayah!”
“Papa Kendrick juga papa aku,” balas Rina tidak mau mengalah.
Kasih sayang Kendrick yang besar membuat kedua anaknya terkadang lupa diri bahwa mereka hanya anak tiri. Walaupun pria itu tak pernah menyinggung apa pun, tetapi dia harus tetap mengingatkan bahwa masih ada orang tua lain yang membuat mereka bisa lahir ke dunia ini.
“Tapi Papa Zidan orang tua kandungmu. Kamu boleh marah, nggak suka dan benci tapi jangan sampai kebencian menutup mata dan hatimu. Papa Zidan memang bersalah, tapi dia sudah menyadari semuanya dan minta maaf. Papa Zidan sudah berubah jadi lebih baik,” jelas Kirana meredam segala bentakan yang ingin dikeluarkan. Emosinya memang masih belum stabil, membuatnya mudah terbawa perasaan.
“Kamu butuh waktu untuk memaafkan Papa Zidan, mama sudah memberikannya. Kenapa hatimu sungguh keras, Nak?” tanya Kirana mulai terisak pelan.
“Jangan nangis, Ma,” ujar Rina berbalik dan memeluk ibunya. Anak berusia 7 tahun itu meringsek ke dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya dan mengucapkan kata maaf berulang kali.
“Mama sayang kalian, mama nggak mau kalian menyesal karena telah membenci Papa Zidan.” Kirana bukan tidak mau mengerti dan memahami perasaan anak-anaknya. Dia tidak mau mengajarkan kebencian, karena apa pun keadaannya Zidan tetaplah ayah kandung mereka.
“Aku sudah memaafkan Papa Zidan, aku sayang dia. Tapi aku masih mau lihat kesungguhan Papa Zidan buat minta maaf,” lanjut Rina dengan isak tangis yang memilukan.
Kirana menunduk, menatap keseriusan di wajah putri pertamanya. Benarkah seperti itu?
“Lina juga sayang sama Papa Zidan. Aku punya dua papa. Papa Zidan dan Papa Kendrick,” sahut Lina menimpali. Dia menatap ibu dan saudara perempuannya yang menangis. Matanya ikut berkaca-kaca. “Aku sayang semuanya,” lanjutnya lagi ikut memeluk sang ibu.
“Mama juga sayang kalian,” ujar Kirana dengan suara serak.
“Aku sudah memaafkan Papa Zidan,” tambah Rina dengan anggukan kepala yakin.
“Terima kasih, Sayang.”
Ketiga wanita berbeda generasi itu menangis pelan, kemudian tersenyum bersama. Sampai tidak menyadari bahwa ada sosok pria yang sedari tadi menyaksikan adegan mengharukan tersebut.
Sejak beberapa menit yang lalu Kendrick sudah masuk ke ruang keluarga. Namun, urung mendekat saat mendengar obrolan ibu dan anak tersebut. Dia memilih mendengarkan sampai akhirnya ikut tersenyum saat sang istri mampu membuat anak-anaknya mengakui perasaan yang dirasakan.
“Lho, ada apa ini? Kenapa kalian menangis?” tanya Kendrick pura-pura tidak tahu. Suaranya menarik atensi ketiganya hingga membuat mereka menoleh.
“Papa Kendrick sudah pulang.” Lina melepaskan diri dari pelukan ibunya dan menghampiri Kendrick. “Mama sama kakak cengeng sekali,” adunya dengan manis.
“Oh, ya? Lina nggak nangis?” tanya Kendrick menghadiahi ciuman di pipi putri tirinya.
“Enggak dong, aku kan kuat.” Sambil menunjukkan wajah menggemaskan membuat Kendrick terkekeh pelan.
Kendrick menghampiri sang istri dan memberikannya kecupan singkat. Kemudian beralih pada Rina dan mengangkat putri tirinya ke dalam pangkuan. Memperlakukan mereka seperti anak kecil yang terkadang membuat keduanya lupa diri, bahwa ada sosok lain yang sebelumnya pernah menjadi super hero di hidup mereka.
Zidan Pranadipa.
Sebelum keburukan Zidan terungkap, dia pernah menjadi sosok suami dan ayah yang baik bagi mereka. Hanya demi membela sang ibu, dia mengabaikan anak dan istrinya.
Benar kata pepatah bahwa meskipun sudah menikah, anak lelaki akan tetap menjadi milik ibunya. Namun, bukan berarti seorang ibu bisa mengatur kehidupan rumah tangga anak-anaknya.
Bukan hanya anak saja yang bisa disebut durhaka. Orang tua juga bisa dikatakan durhaka jika membuat anak-anaknya melupakan kewajiban sebagaimana mestinya.
To Be Continue ....