Affair With CEO

Affair With CEO
Jahat sekali



“Gawat, Tuan!” Indra datang tergopoh menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Ada apa lagi!” sentak Kendrick yang tengah pusing.


Kedatangan Indra yang tergesa sudah dipastikan akan membawa kabar buruk.


“Beberapa investor sepakat mengadakan rapat dadakan untuk membahas masalah ini. Tiga puluh menit lagi.”


Kendrick memijat pangkal hidungnya sambil mengembuskan napas panjang. Kepalanya benar-benar terasa ingin meledak mendengar satu persatu berita yang membuatnya ingin berteriak marah.


“Aku menyuruhmu mencari tahu kondisi DD Corp, bagaimana kondisinya sekarang?”


Indra menyerahkan iPad yang menampilkan grafik saham milik DD Corp yang berada di titik merah menyentuh angka terendah.


“Kau sudah mencari tahu siapa yang melakukannya?”


Indra mengangguk ragu.


“Katakan!” tegas Kendrick dengan tatapan mata yang menyorot penuh kemarahan.


“Saya pikir ini perintah tuan besar Rusady,” jawab Indra dengan suara yang melemah.


Sebenarnya Indra hanya menemukan keterlibatan, tetapi jelas dia tidak bertindak sendirian. Pasti ada yang menyuruhnya dan siapa lagi jika bukan sang pemilik nama yang selalu dibanggakan.


Bahkan mendengar nama sang ayah disebut, Kendrick sama sekali tak menampilkan wajah terkejut. Dia bahkan sudah menduganya, tetapi benar-benar tak menyangka bahwa ayahnya mengambil jalan pintas seperti ini.


“Tua bangka itu benar-benar bajingan. Aku ingin sekali mencekiknya sampai mati.”


Brak!


Kendrick menumbuk kepalan tangannya ke atas meja hingga membuat Indra terlonjak kaget.


Masih dengan wajah yang mengeras, Kendrick bersama dengan Indra berjalan ke arah ruangan rapat yang telah diisi oleh lima investor.


“Kami tidak mau tahu Tuan Ken, kami mau uang kembali. Anda tidak menepati janji justru membuat masalah,” seru salah seorang pria dengan menunjuk-nunjuk ke arah Kendrick.


“Ya benar, kami mau uang kami kembali.” Yang lain ikut menimpali dengan keputusan yang sama.


“Aku akan mengembalikan uang kalian. Tapi beri aku waktu untuk melakukannya.” Kendrick masih mencoba bersikap tenang.


“Kami tunggu paling lama satu bulan. Jika Anda tidak menyelesaikan tanggung jawab maka kami akan membawa masalah ini lewat jalur hukum!”


“Aku mengerti.”


Setelah semuanya keluar, Kendrick menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam.


“Kumpulkan sisa uang, kemudian lihat berapa kekurangan yang dibutuhkan. Lalu, setelah makan siang datanglah ke kantor polisi untuk memberikan print out rekening perusahaan, berikan surat kontraknya sekalian. Datanglah bersama dengan Tuan Hartanto.”


“Maaf, aku menyela Tuan. Tapi uang yang telah masuk dalam pembangunan hotel hampir lima puluh persen.”


“Tidak apa-apa, aku akan menutupnya dengan tabunganku. Mungkin tidak akan sepenuhnya bisa tercover, aku akan mencari cara lain.”


Indra mengangguk mengerti, wajahnya tampak tertekan karena banyaknya masalah yang silih berganti menimpa. Bahkan selama beberapa hari ini hampir kehilangan waktu tidur.


Kendrick berjalan kembali ke ruangannya. Di depan sebuah brangkas, matanya menatap dengan sendu tentang isinya. Terpaksa, Kendrick harus mengeluarkan tabungan, deposito dan beberapa batang emas.


Sebenarnya dia memiliki beberapa properti, tetapi sayang properti itu tengah dibekukan oleh si tua bangka yang sialnya, Kendrick harus mengakui bahwa itu adalah ayahnya.


...✿✿✿...


“Maaf Bu, kami tetap harus melakukan pemeriksaan karena api itu berasal dari tempat Anda.” Seorang polisi menyerahkan sebuah berkas penyeledikan tentang kebakaran yang terjadi.


“Aku juga korban, Pak!” jawab Kirana tegas.


“Kalau aku sengaja bakar sendiri ya enggak aja, Pak. Kecuali jika ada orang lain yang sengaja melakukannya.”


Kedua polisi yang tengah berdiri di depan Kirana itu terlihat saling pandang, tak lama mereka pamit setelah menyelesaikan urusan.


“Ada apa?” Massayu yang baru saja masuk melihat wajah kesal Kirana.


“Polisi, penyeledikan, entahlah. Aku merasa ada yang janggal.”


“Tentang apa?”


“Semua. Ini terlalu tiba-tiba dan di waktu yang bersamaan. Aku yakin ini disengaja, pasti ini ulah orang tua Kendrick.”


Massayu diam, dia heran darimana Kirana tahu.


“Aku tahu dan udah dengar semuanya,” tambah Kirana dengan senyum tipis.


“Bertahanlah. Kendrick, mama dan papa bisa mengurusnya. Aku akan hubungi pengacara untuk membantumu.”


“Thanks,” sahut Kirana sambil kembali merebahkan tubuh.


...✿✿✿...


Pukul dua sore, Diah dan Hanin menemui Kendrick di kantor setelah mengurus DD Corp.


“Mama minta maaf, Ken.”


“Ada apa, Ma?”


“Kami sudah menutup kerugian, tapi itu sama sekali nggak bisa menyelematkan. Bahkan ini semakin merugi karena tidak ada peningkatan. Grafik saham kita masih dibatas rendah, justru ada beberapa orang yang ingin membeli dan mengambil alih. Kita harus bagaimana?”


Kendrick menghela napas panjang. “Menurut mama apa yang terbaik yang bisa dilakukan?”


“Sudah tidak ada harapan untuk bertahan,” sahut Diah dengan lemah. Selama bertahun-tahun dia yang mengutus DD Corp, apakah hanya akan berakhir dengan cara tragis seperti ini. Bahkan dalam bayangan tak pernah terlintas.


“Aku ada tabungan jika perlu maka bisa pakai itu. Tapi jika memang tidak bisa, mama bayarkan saja uang yang ada untuk menutup gaji karyawan.”


Keputusan yang berat, tetapi jika terus dipertahankan yang ada hanya akan semakin membuat mereka benar-benar gulung tikar.


“Bagaimana dengan jual saham?”


Kendrick menggeleng.


“Tidak perlu. Biarkan saja seperti itu. Abaikan dan kita anggap itu sudah bukan milik kita lagi.”


Saat Diah ingin bertanya, Hanin menghentikannya. Pria paruh baya itu yakin bahwa keputusan anaknya sudah dipikir baik-baik.


“Daddy masih di Indonesia?”


“Ya, kamu mau menemuinya?”


Kendrick mengangguk.


Diah segera menyebutkan nama hotel tempat di mana tua bangka itu tinggal.


“Mama tahu darimana?”


“Mama baru saja dari sana dan memaki pria tua itu. Heh, mama berdoa semoga Tuhan segerakan saja cabut nyawanya. Hidup cuma buat masalah saja,” kata Diah menggebu.


To Be Continue ....