
Mereka kembali ke hotel tempat pertama kali menginap. Kendrick masih terlihat marah, sementara Kirana terlihat syok dengan keputusan yang diambil suaminya.
Dia menjadi serba salah. Apa ini harga yang harus dibayar karena telah menikah dengan Kendrick? Dia merasa bersalah karena kehadirannya, membuat hubungan keluarga itu menjadi berantakan.
Kirana sama sekali tak menyangka bahwa pria itu mengambil langkah seperti ini.
“Ken, aku mencintaimu, tapi aku juga tidak mau melihat kamu menghancurkan keluargamu sendiri.”
“Aku tidak mau membahasnya, Kiran,” ucap Kendrick dengan malas. Pria itu duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam erat.
Inikah akhir yang diinginkan? Tidak! Kirana tak pernah mau membuat Kendrick memilih, karena sejatinya istri dan orang tua bukanlah pilihan.
“Aku tahu hatimu sedang goyah, Kiran. Lebih baik jangan membahasnya lebih dulu. Tenangkan dirimu,” ucap Kendrick memecah lamunan.
“Bukan akhir seperti ini yang kuinginkan, Ken.”
Kirana merasa berharga karena pria itu membelanya, menghargainya di depan keluarga, tetapi ada penyesalan yang merayap di hati ketika harus membuat pria itu berada di persimpangan dilema.
“Kamu menyesal, Kiran?” Kendrick duduk dengan tegak, matanya menyorot tajam ke arah sang istri.
“Apakah kamu mulai ragu dengan kisah kita?”
Kirana menggeleng pelan.
“Aku hanya tidak ingin membuatmu melawan keluargamu sendiri, Ken.”
“Mereka yang menginginkannya, Kiran.”
Kirana menunduk, menyembunyikan air mata yang merembes keluar. Mengapa semuanya menjadi rumit seperti ini.
“Sudahlah, kamu nggak perlu merasa bersalah. Ada kalanya mereka yang harus mengalah untuk membuatku bahagia. Orang tua memang harus dihormati, tapi melihat sikap kedua orang tuaku padamu, aku malu, Kiran. Kamu adalah istriku, seharusnya mereka bisa menghargaimu sedikit walau tidak suka. Aku sudah menahan diri sejak menginjakkan kaki di sana.”
Kendrick menghampiri sang istri, memeluknya dengan erat. Memberinya kekuatan dan menyalurkan perasaan damai.
“Jangan banyak pikiran, itu nggak baik buat kandunganmu. Besok kita akan kembali ke Indonesia.”
“Jangan kabur dari masalah, Ken. Selesaikan dulu yang terjadi di sini.”
Kendrick menggeleng. “Tidak ada yang perlu diselesaikan lagi, Kiran. Semuanya udah selesai ketika kita keluar dari rumah. Biarkan mereka melakukan apa pun yang bisa memuaskan kemarahan.”
Sepanjang hari keduanya hanya menghabiskan waktu di kamar, bahkan mereka melewatkan makan siang. Sampai malam hari pun, keduanya terlihat terjaga.
Pagi menyapa dua insan yang masih dalam keadaan banyak pikiran. Yang satunya merasa bersalah, satunya lagi acuh tak acuh.
Kendrick mendengkus pelan, dia tidak lagi terkejut dengan apa yang dilakukan Rajendra. Pria itu memblokir seluruh rekening dan kartu kredit yang diberikan. Namun, dia masih terlihat santai karena memiliki uang sendiri walau tak sebanyak di rekening yang diberikan sang ayah.
Setelah sarapan, keduanya langsung pergi menuju bandara. Sudah dipastikan mereka akan benar-benar pulang ke tanah air hanya membawa kekecewaan.
...✿✿✿...
Setelah menempuh perjalanan udara selama 16 jam, akhirnya mereka tiba di Jakarta sekitar pukul empat pagi.
Sesampainya di rumah, hari masih petang. Semua orang masih tidur kecuali para asisten rumah yang sibuk beraktivitas dengan tugas masing-masing.
Mereka memilih istirahat lebih dulu. Lagipula ini hari Minggu, mereka memiliki banyak waktu untuk menyapa semua orang nanti.
Pukul sepuluh pagi, Kirana yang bangun lebih dulu segera mandi dan melepas rindu dengan kedua anaknya, juga Diah dan Rahma yang memilih tinggal di rumah.
Mereka tampak terkejut dengan kepulangan yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Diah ingin mengatakan sesuatu, tetapi Kirana menggeleng pelan. Dia tak mau membicarakan apa pun di depan sang ibu.
Setelah sarapan, dia menceritakan kabar bahagia tentang kehamilan. Namun tak mengatakan tentang usia kandungan yang sebenarnya.
“Jadi aku akan punya adik, Ma?” Lina dengan mata polosnya terlihat berbinar senang.
“Iya, jadi sekarang adek bakal jadi kakak.”
Kirana mengangguk dengan senyum lebar.
“Papa Ken di mana, Ma?” Rina angkat suara.
“Papa masih bobo, capek. Kenapa? Udah kangen, ya.”
Rina mengangguk. “Kangen mama sama papa.”
“Kalian nggak nakal, kan?”
“Enggak dong, Ma. Kami kan anak baik.”
“Iya, kan, Nek, Oma?” Lina menoleh ke arah dua paruh baya yang langsung mengangguk.
Waktu bergulir dengan begitu cepat. Tak terasa kerinduan itu sudah terobati ketika mereka kembali berkumpul bersama. Rina dan Lina sudah pergi bersama dengan Rahma untuk tidur siang, kini dia hanya duduk bersama dengan Diah dalam diam.
Wanita paruh baya itu seolah tahu apa yang dirasakan. Tangan lembutnya menggenggam tangannya, menyalurkan perasaan hangat dan kekuatan.
“Apa yang terjadi?” Pertanyaan pertama lolos ketika beberapa saat dalam keheningan.
“Aku nggak tahu, Tante. Semuanya terjadi begitu aja,” ucap Kirana dengan kepala tertunduk.
“Sudah dibilang, panggil aku mama seperti Kendrick. Tidak perlu sungkan, Kiran.”
“Maaf.”
“Apa yang dilakukan pria tua itu, Kiran? Apa Sisil bersikap baik padamu. Hati-hati dia itu siluman.”
Kirana tak menceritakan keseluruhan, hanya mengatakan tentang penolakan Rajendra dan tentang wanita yang dimaksud sebagai calon istri. Andai Diah mendengar seluruh ceritanya, sudah dipastikan wanita paruh baya itu akan mengangkat ponsel dan memaki Rajendra dengan seisi kebun binatang.
Diah memang tak memiliki kekuasaan, tetapi dia yang membesarkan Kendrick sejak bayi merah itu kehilangan sosok ibu. Ikatan batin yang terjalin di antara mereka kuat seperti ibu kandung, dia tidak akan rela jika ada yang menyakiti hati putranya.
Siapa pun itu, bahkan jika itu adalah ayahnya sendiri. Seorang pria yang mengaku sebagai ayah, tetapi menolak kehadiran bayi yang tak berdosa.
“Pria tua itu memang keras. Bukan hanya sikapnya yang dingin, hatinya bahkan sudah membeku sejak lama.”
“Aku nggak tahu harus apa, Ma. Aku merasa bersalah membuat hubungan Kendrick dan ayahnya semakin memburuk.”
“Tak perlu merasa bersalah, biarkan saja. Hubungan mereka bahkan tak pernah benar-benar baik, seperti ayah dan anak yang sesungguhnya.”
Kirana mengernyit heran. “Maksudnya gimana, Ma?”
“Alasan Rajendra menerima Kendrick hanya karena pria itu tak memiliki pewaris. Jika dia memiliki pewaris, anakku itu tak akan mungkin masuk dalam keluarga Rusady, meskipun Rajendra ayah kandungnya.” Diah berkata dengan sendu.
“Melihat perseteruan antara Kendrick dan Rajendra, aku yakin Sisil pasti akan bertepuk tangan. Wanita siluman itu memang menginginkan perpecahan sejak lama.”
“Aku harus apa, Ma? Mengapa semuanya jadi rumit seperti ini.”
“Tidak perlu melakukan apa pun. Jalani saja semuanya seperti air mengalir, tidak perlu kamu pikirkan sampai membuat tertekan. Itu tidak akan mengubah keadaan, justru hanya akan membuatmu sakit sendirian.”
“Kendrick sudah dewasa, dia pria bertanggung jawab. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan.”
“Jadilah wanita kuat yang bisa menguatkan. Aku yakin kalian bisa menghadapi semua bersama. Hanya waktu yang bisa melembutkan hati Rajendra. Jika waktu tak bisa melunakkan hatinya, maka biarkan waktu yang mengubahnya jadi lelembut jika Tuhan mencabut nyawanya lebih dulu.”
Kirana sontak tertawa mendengar ucapan Diah. Di saat seperti ini wanita paruh baya itu masih saja bisa melemparkan candaan.
“Pemarah sepertinya tak akan diberikan umur panjang.”
Jahat sekali ucapan Diah, tetapi ada benarnya. Biasanya orang pemarah hanya akan berakhir terkena tekanan darah tinggi dan stroke, atau terkena serangan jantung dan langsung menuju pemakaman.
To Be Continue ....