
Begitu tiba di kamar Kendrick, pria itu langsung mengungkungnya dengan kedua tangan. Aroma pria itu melingkupinya dalam kabut gairah yang belum pernah dirasakan. Kirana juga bisa mendengar detak jantung yang bertalu-talu seperti genderang perang.
“Aku sudah mengingatkan diriku sendiri untuk tak melakukan ini sekarang, tapi sulit rasanya menolak. Bagiku, kau lebih memabukkan dari apa pun atau siapa pun yang pernah kukenal.”
Kirana merasakan tubuhnya kaku. “Melakukan apa?” sahutnya, suaranya sedikit bergetar.
“Bercinta denganmu,” jawab Kendrick, embusan napas pria itu membuat bulu kuduk berdiri. Dengan jari yang masih menahan dagu wanita itu, dia menunduk dan mendekatkan diri.
Mata Kirana terpejam saat merasakan bibir Kendrick menyentuh bibirnya. Sentuhan bibir pria itu singkat dan menggoda, tetapi mampu membangkitkan gairah liar yang membuat darahnya memanas.
Suara lenguhan tipis membuat pria itu semakin menuntut, lidahnya bermain dengan begitu rakus, mengabsen seluruh rongga mulutnya. Udara di sekitar menipis, napas mereka memburu, ini terlalu dahsyat hanya untuk sebuah penyatuan bibir. Cairan mengalir secara panas dan mendesak di antara mereka, kuat dan begitu dalam.
Tangan Kendrick menelusup di balik pakaian, menyentuh setiap inci tubuhnya hingga berakhir tepat di antara payudara yang sudah menegang.
“Aku menginginkanmu, Kirana,” bisik lembut tepat di telinga, diakhiri dengan sapuan bibir yang basah.
Kirana ingin menolak, tetapi akal sehatnya sudah tertutup oleh gairah yang luar biasa yang membuat kepalanya justru mengangguk pelan.
Kendrick mengulurkan tangan ke bagian punggung, dalam satu kali tarikan dress yang dikenakan meluncur cepat dan membuat tubuhnya terpampang indah, hanya ditutupi pakaian dalam yang saat ini masih menempel. Membuat pipinya merona malu, entah mengapa menghadapi pria ini justru membuat Kirana kehilangan rasa percaya diri.
Dia menatap pria itu dengan mata yang tak fokus. Senyum lembut itu membuatnya menarik sudut bibir tipis. Sambil menjerit kaget saat pria itu tiba-tiba mengangkatnya dan melempar tubuhnya ke arah ranjang.
“Ohh, Ken,” desisnya pelan, saat pria itu tanpa rasa justru tersenyum.
Napas Kendrick terasa sesak ketika menatap tubuh indah wanita di depannya. Bentuk payudara yang indah, dengan lekukan tubuh yang begitu menggoda. Membuatnya hilang kendali dan tanpa aba-aba segera menyerang wanita itu lagi.
Ketika kulit mereka saling bergesekan tanpa penutup, rasanya begitu hangat, tetapi juga panas membara.
Kirana menutup mata, malu. Namun berbeda dengan reaksi tubuh yang justru menginginkan pria dengan bentuk tubuh atletis itu segara berada di atas tubuhnya.
Ini gila, tetapi juga menyenangkan.
Kendrick merosot, dengan haus memuaskan diri pada sosok wanita yang memiliki aroma khas. Tanpa berpikir dia segera melakukan apa yang sedari tadi diinginkan. Menenggelamkan diri pada kewanitaan yang sudah mulai basah akibat gairah yang menyelimuti.
Menyentuhnya, menggesekkan jemari pada titik itu dengan gerakan cepat.
“Ken,” ucap Kirana, merintih, meminta, memohon dengan wajah sayu.
Sudah cukup dia benar-benar tak kuasa untuk berpaling, menatap pria yang saat ini tengah memuaskan diri di bawah sana.
Saat tubuh atletis itu kembali merangkak naik, dia sudah tak memiliki cela untuk kembali. Dengan bibir yang tersenyum puas, pria itu mulai menyusuri tubuh bagian atas. Menyesap dan menikmati setiap kelembutan dari dalam dirinya.
“Aku mencintaimu,” bisik pria itu dengan napas memburu.
Mereka berdua sudah tidak peduli tentang akal sehat, alasan tentang mereka tidak boleh melakukan ini.
Keduanya dilanda gairah kenikmatan yang tiada akhir, hingga suara-suara penuh cinta tersebut memenuhi seisi ruangan. Menyatukan dua insan yang tengah dilanda api asmara.
Keduanya menjatuhkan diri dalam kegelapan, meneguk setiap sensasi yang belum pernah dirasakan—sebelumnya.
...✿✿✿...
Begitu pagi menyingsing, Kendrick segera membawa Kirana ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum kedua anak-anaknya terbangun dan sadar akan keberadaan ibunya yang tak ada di kamar.
Namun, di dalam kamar mandi, pria itu justru kembali menyerangnya. Mereka kembali bercinta dengan waktu yang ada. Sebelum akhirnya mereka berdua terbaring di atas ranjang hanya dengan memakai kimono.
Wajah Kirana memerah, mengingat kejadian demi kejadian yang baru saja mereka lakukan. Namun berbeda dengan Kendrick yang justru selalu tersenyum hangat. Pria itu menariknya ke dalam pelukan dan menghujani kepalanya dengan banyak kecupan.
Tawa pelan itu terdengar bagaikan nyanyian burung di pagi hari.
“Aku harus kembali ke kamar,” ucap Kirana, mencoba melepaskan diri.
“Ini masih pukul tujuh, aku yakin mereka belum bangun,” jawab Kendrick, semakin mengeratkan pelukan.
“Ayolah, Ken ....” desis Kirana pelan.
“Mau lagi? Ayo aja, aku siap, kok.” Kendrick justru menggoda, membuka kimono yang dipakai hingga dada bidang itu nampak jelas.
“Berhenti menggoda! Minggir!” Kirana mendorong tubuh pria itu.
“Galak banget sih, giliran udah puas aku dicampakkan.”
Kirana hanya memutar bola mata malas. “Dasar buaya rakus, aku lelah tahu.” Tubuhnya bahkan seperti dipatahkan beberapa bagian, pria itu benar-benar gila, menghabisinya tanpa ampun.
Segera bangkit dan memakai pakaiannya kembali. Sebelum pergi, tak lupa sebuah kecupan basah diberikan pada bibir pria itu.
Sepeninggal wanita itu, Kendrick tersenyum cerah. Ini gila, wanita itu benar-benar membuatnya mabuk kepayang.
Dia berjanji, Kirana adalah wanita terakhir yang akan berada di atas ranjangnya.
To Be Continue ....