Affair With CEO

Affair With CEO
Fakta baru



Sesampainya di rumah Kirana segera melihat baby Ricky yang baru saja terlelap setelah mandi dan menyusu. Dia mendekat dan mencium pipi bayi mungil itu, aroma bedak bayi menyapa indera penciumannya.


Setelah memastikan kedua anaknya juga sudah membersihkan diri, Kirana masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Tangannya merogoh tas yang dibawa dan mengeluarkan amplop cokelat yang isinya membuatnya penasaran.


Perlahan dan hati-hati dia membuka amplop cokelat itu. Terdapat beberapa kertas berisi informasi dan beberapa lembar foto.


Foto saat Sisil bersama dengan Andrean, lalu Sisil bersama dengan Yemima dan yang terakhir bersama pria asing yang tidak terlalu dikenal. Namun, wajahnya tidak asing dan seperti mirip seseorang.


Kirana segera mencocokkan foto yang terakhir dengan foto Andrean. Ada kemiripan dari dua pria itu.


“Jangan-jangan itu ayah kandung Andrean,” monolog Kirana sambil terus mengamati kedua foto itu bergantian.


Jika disejajarkan kedua foto pria itu, tampak benar-benar mirip dan tidak ada perbedaan yang kentara selain usia. Andrean versi muda dan pria itu versi tua.


Di belakang foto Sisil bersama pria asing itu, ada nama yang tertulis di sana.


“Axel Mananta Putra,” ucap Kirana menyebut nama yang ada di sana.


Setelah melihat foto-foto itu dengan seksama, dia yakin bahwa Yemima bekerjasama dengan Sisil untuk memisahkan mereka dan menjadikan wanita itu menantunya.


Dia yakin karena Sisil pernah berkata bahwa yang pantas menjadi nyonya rumah hanya dia yang ditunjuk, bukan dia yang telah dinikahi.


Kirana menyembunyikan kertas-kertas itu saat pintu kamarnya diketuk dan Diah masuk membawa baby Ricky.


“Lagi apa? Mama bawa Ricky ke sini, mama mau ajak Rina sama Lina ke supermarket.”


“Ricky tidurkan saja di ranjang, Ma. Biar dia tidurnya pulas dulu, kalau malam begadang terus soalnya.” Kirana terkekeh pelan. Bayinya itu selalu terjaga saat tengah malam, untunglah dia jarang menangis hingga tak membuatnya terlalu kerepotan.


“Ya sudah. Mama tinggal dulu. Kamu mau nitip apa?” tanya Diah yang sudah berbalik badan dan berjalan ke arah pintu. Dia tidak mendekati Kirana karena tahu bahwa gelagat menantunya sedikit aneh, seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


“Nanti aku kirim pesan saja ke mama.”


Setelah kepergian Diah, Kirana menoleh ke arah ranjang. Bibirnya tertarik membentuk senyum simpul ketika menatap putranya yang tertidur dengan tenang.


Kirana kembali mengeluarkan kertas-kertas yang disembunyikan, lalu membaca setiap informasi yang tertera di sana dengan detail.


Kepalanya mengangguk seperti memahami sesuatu. Senyumnya tampak puas ketika selesai membaca semua kertas-kertas itu. Dia kagum dengan kemampuan siapa pun yang telah bekerja dengan keras mendapatkan segala informasi itu.


Benar-benar detektif yang bisa diandalkan. Mungkin dia akan merekomendasikan jasa pria itu pada orang-orang yang membutuhkan.


“Kau bahkan lebih hina dariku, Nyonya,” ucap Kirana pada foto Sisil bersama dengan pria bernama Axel Mananta Putra. “Kau hamil dengan suami orang dan meminta pria lain bertanggung jawab, tapi kau sendiri masih sering berhubungan dengan pria yang sama dari masa lalu. Apa sebutan yang pantas untukmu?”


Seharusnya sebelum wanita itu menghina, dia harus berkaca pada dirinya sendiri.


Bahkan meskipun Kirana lahir dari keluarga sederhana yang pernah gagal, dia bersyukur karena hidupnya bahagia. Sementara wanita tua itu hanya anak angkat di keluarga kaya. Kehadirannya hanya dijadikan alat pertukaran yang menguntungkan.


Asal usulnya jelas. Ayah ibunya ada. Sementara Sisil, dia bahkan tidak tahu siapa orang tuanya.


Andai dia tidak diadopsi oleh keluarga kaya, mungkin hidupnya tidak lebih baik dari Kirana.


“Mungkin jika aku bertemu lagi dengannya, aku akan memberikan hadiah kaca yang sangat besar agar dia bisa berkaca siapa dirinya,” ucap Kirana terkekeh.


...✿✿✿...


Yemima meronta, dia berteriak tidak terima saat mendengar perintah Kendrick yang diluar dugaan. Apalagi ekspresi dua pria yang memegang tubuhnya tampak dingin dan tak bereaksi seperti itu bukanlah hal besar.


Jika Yemima diminta telanjang di hadapan Kendrick saja, dia pasti akan melakukannya dengan senang hati tanpa dipaksa. Dengan sukarela dia akan melepaskan seluruh pakaiannya dan menari erotis untuk memancing pria itu menyentuh tubuhnya.


“Ayo lakukan!” ucap Kendrick tanpa ekspresi.


Alfred mencekal kedua tangan Yemima, mengunci kedua tangan wanita itu di belakang dengan erat seperti seorang tahanan, sementara Sean langsung merobek kaos yang dipakai wanita itu dengan kasar diiringi teriakan memekik yang keras.


Sean mengusap telinganya kasar dan menatap Yemima datar. “Aku tidak akan tergoda dengan tubuhmu, Yemi. Kau tenang saja, tidak perlu khawatir,” ujarnya dengan senyum simpul.


Tubuh Yemima sama dengan tubuh wanita-wanita yang pernah ditiduri. Jadi pemandangan tubuh polos bukanlah sesuatu yang luar biasa yang mudah membuat mereka tergoda.


Apalagi mereka bertiga adalah mantan pria brengsek yang telah menjalani kehidupan bebas di masa lalu. Mungkin dari ketiganya hanya Kendrick saja yang telah berhenti karena memiliki pasangan.


Sementara Alfred dan Sean masih menikmati masa-masa terakhir mereka sebagai pria brengsek, sebelum akhirnya suatu nanti menemukan pasangan yang bisa mengubah tabiat buruk itu.


“Ini kriminal, aku bisa melaporkan kalian pada polisi,” ucap Yemima dengan wajah merah padam menahan malu. Kini hanya ada pakaian dalam yang menutupi dua aset pentingnya.


“Silakan saja agar semua orang tahu bahwa tubuhmu bahkan sudah tidak berharga lagi,” jawab Kendrick terkekeh. Dengan cara baik-baik dia sudah bertanya, tetapi wanita itu tetap memilih tutup mulut. Maka jangan salahkan dirinya melakukan cara brengsek seperti ini.


Mereka bertiga memang bukan pria baik-baik dan ini bukan pertama kalinya mereka melihat seorang wanita telanjang. Kendrick yakin bahwa sebelum seluruh tubuh wanita itu polos, dia akan mengatakan yang sebenarnya.


Namun, untuk sekarang biar wanita itu tahu bahwa dia tidak sedang bermain-main. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak pernikahannya.


“Tolong jangan lakukan itu,” ucap Yemima memohon. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya yang putih. Tubuhnya gemetar menahan segala perasaan yang kini menyerbu. Jika dia membiarkan ketiga pria itu membuatnya telanjang, maka hilang sudah harga dirinya.


“Maka katakan kejujuran itu, Yemi.” bisik Alfred, “jangan memancing emosi Kendrick terus menerus atau kau akan mendapatkan lebih dari ini,” lanjutnya lagi semakin menakuti wanita itu.


“Lakukan Sean!” perintah Kendrick membuat Yemima meronta dan menangis.


Sean maju dan menyentuh bahu Yemima dengan gerakan sensual. Dia memainkan tali bra wanita itu sebelum menarik salah satunya hingga terlepas.


Yemima menangis, dia menggeleng dengan wajah memohon. Berharap tiga pria itu berbelas kasih pada dirinya. Namun, tidak ada yang mengasihaninya, jutsru Kendrick memberikan tatapan mencemooh dan hina.


Saat salah satu tali bra kembali terlepas, Yemima berteriak frustrasi, “Aunty Sisil yang menyuruhku. Dia yang merencanakan semua itu!”


Akhirnya bibir ketiga pria itu tertarik membentuk senyum kepuasan. Buka mulut juga ternyata.


“Kenapa tidak kau katakan dari tadi agar tidak ada kejadian memalukan seperti ini.” Sean mendengus pelan dan kini duduk di sebelah Kendrick. Dia menepuk bahu sahabatnya yang tampak terkejut.


“Katakan apa yang direncanakan mommy?” tanya Kendrick setelah mampu menenangkan diri. Dia tidak menyangka ini rencana wanita yang tampak sering membelanya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa ini adalah ulah wanita yang dihormati. “Apa daddy terlihat dalam rencana?”


Yemima menggeleng dan menceritakan semua rencana dan apa saja yang telah dilakukan Sisil.


Setelah ceritanya selesai, barulah Alfred melepaskannya. Yemima terduduk dan memeluk lututnya sendiri dengan tangis malu bercampur marah. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan.


Dia telah gagal membuat hubungan Kirana dan Kendrick bermasalah. Dia juga gagal mempengaruhi Kirana dengan kehamilan palsu, lalu saat ini Kendrick telah mengetahui semuanya.


Sudah tidak ada yang bisa diharapkan. Rencananya gagal, dia tidak lagi punya muka di hadapan tiga pria itu lagi.


Kendrick mendekati Yemima dan mengusap puncak kepalanya pelan. “Aku tidak ingin kau terlibat lebih jauh. Aku menyayangimu sebagai sahabat, Yemi. Kembalilah ke Jerman dan lupakan harapanmu untuk bersanding denganku. Aku telah menemukan kebahagiaan bersama anak dan istriku.”


Setelah mengatakan itu Kendrick pergi bersama dua sahabatnya. Urusannya telah selesai dan teka-teki ini mulai terbuka.


Benar saja selama ini dia tidak menemukan keterlibatan sang ayah. Ternyata pria tua itu memang tidak melakukan apa pun. Justru dia mendapati kenyataan lain yang menjungkirbalikkan perasaannya.


To Be Continue ....