
Kendrick pulang ke rumah dalam keadaan yang lumayan kacau. Pria itu benar-benar tidak menyangka bahwa ibu tirinya sejahat ini.
Sepanjang malam matanya tak bisa terpejam. Dia memikirkan apa motif yang membuat wanita tua itu merencanakan sesuatu yang buruk pada keluarga kecilnya.
Yemima hanya mengatakan apa yang diketahui, tetapi dia sendiri tidak tahu bahwa ada motif lain yang membuat Sisil melakukan hal itu. Jika hanya untuk menjodohkan mereka, itu sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi Sisil.
Kendrick yang tak bisa memejamkan mata memilih keluar ke balkon sambil membawa rokok. Menghirup udara malam yang segar, hembusan asap rokok perlahan keluar dari bibir dan hidungnya. Matanya mendongak menatap gelapnya langit, semilir angin menerpa tubuhnya yang bertelanjang dada.
Diam-diam sudut matanya dipenuhi cairan bening yang siap tumpah andai dia menunduk atau mengedipkan mata. Selama ini dia sudah terlalu berharap banyak pada Sisil. Meyakinkan diri bahwa wanita itu menyayanginya secara tulus meskipun dia hanya anak tiri. Namun, kenyataan yang didengar dari Yemima membuatnya ragu bahwa kasih sayang itu memang tulus.
Saat menunduk, air mata itu tumpah melewati pipinya. Dia terkekeh pelan, menertawakan dirinya yang terlalu naif. Tentu saja seharusnya dia bisa menebak dari awal bahwa tidak mungkin Sisil akan berada di pihaknya. Sementara karena dirinya, anak kandungnya harus tersingkir. Sejak awal seharusnya dia tahu bahwa Sisil melakukan ini untuk Andrean, bukan untuknya atau sekadar nama baik Rusady. Bukan ... semua itu hanya untuk membuat Andrean menggantikan posisinya.
Bibirnya menghela napas berulang kali, matanya terpejam sambil merasakan pilu. Namun, matanya terbuka saat dia merasakan pelukan hangat yang melingkar di perutnya. Jelas dia tahu siapa pelakunya.
“Kenapa bangun?” tanya Kendrick dengan suara serak.
Kirana semakin menempelkan kepalanya di punggung telanjang suaminya. Dia mengecup kulit itu lembut lalu menjawab, “Aku mencari suamiku. Dia nggak ada di tempat tidur dan membuatku takut dia akan meninggalkanku.”
Kendrick tersenyum dan mengusap tangan istrinya. “Mana mungkin aku meninggalkannya, aku sangat mencintainya melebihi diriku sendiri.”
“Aku juga mencintainya. Sangat banyak sekali,” jawab Kirana mengecup punggung itu lagi dengan bibirnya.
“Kembalilah ke kamar, di luar dingin. Kamu bisa masuk angin.”
“Aku nggak mungkin meninggalkan suamiku yang tengah meratap sendirian. Aku sudah berjanji akan menemaninya dalam keadaan apa pun.”
Kendrick tersenyum mendengarnya. Dia membalikkan tubuh dan menatap manik mata istrinya yang tampak berbinar penuh ketulusan. Ucapannya tampak jujur dan tanpa dibuat-buat.
“Aku istrimu, ceritakan apa saja yang mengganggu pikiranmu. Jadikan aku rumahmu, tempat berbagi kebahagiaan maupun kesedihan. Jangan jadikan aku wanita yang hanya tahu kuatnya saja, aku juga ingin kamu membagi kelemahan agar ada alasan juga aku menjadi kekuatan.” Kirana masih belajar untuk meredam ego dan mencari titik tengah dari setiap permasalahan dalam rumah tangga. Dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama yang membuat mereka salah paham.
Kunci utama dalam pernikahan adalah kejujuran dan kepercayaan. Itu adalah pondasi yang kuat di tengah gempuran masalah yang silih berganti.
Tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar, setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan.
“Apa ini undangan untuk sebuah malam panas yang bergelora?” tanya Kendrick mencium bibir sang istri.
“Belum boleh,” sahut Kirana dengan kepala menggeleng. “Tapi aku bisa membantunya dengan cara lain,” bisiknya sensual. Kirana memainkan jemarinya di dada sang suami, membentuk pola abstrak yang membuat tubuh pria itu bergetar beberapa kali menahan geli.
Kendrick mencium istrinya lagi. Menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman. Keduanya saling bertukar saliva dan saling menuntut.
Ciuman yang panas dan menggebu.
Mereka terus menyatukan bibir di bawah sinar rembulan yang terang. Andai bulan bisa bicara, dia pasti akan sangat iri melihat kemesraan dua insan manusia yang setiap hari selalu dimabuk asmara.
...✿✿✿...
Dia menggoyangkan tubuhnya, menghempaskan beban pikiran yang membuatnya ingin menghilang saja.
Pendingin ruangan sama sekali tak mampu mendinginkan kepalanya. Tubuhnya dibanjiri keringat karena gerakannya yang penuh semangat. Wanita itu kembali ke bar dan meminta bartender menuangkan minuman lagi.
Dua gelas diteguk dalam sekali waktu, membuat pusing di kepalanya semakin berat. Matanya semakin mengabur, dia tidak mampu melihat dengan jelas. Ditambah lampu di ruangan yang berkelap-kelip, membuatnya semakin pusing saja.
Wanita itu bergumam tidak jelas, benar-benar terlihat frustrasi.
Sementara di sudut lain, ada seorang pria yang juga tengah menghabiskan malamnya ditemani dua wanita yang duduk di pangkuannya.
Pria itu tampak menyentuh dan menelusuri tubuh dua wanitanya dengan tangan. “Kenapa tidak kau puaskan aku di sini,” ucapnya pada salah satu wanita itu yang langsung turun dari pangkuannya dan menunduk di antara kedua kakinya.
Pria itu merancau dan mendesah pelan saat satu wanita di bawah sana tengah memuaskan dirinya. Sementara satu wanita yang duduk di pangkuannya tengah menelusuri tubuh bagian atas dengan bibirnya.
Belum sempat mencapai puncaknya pria itu langsung bangkit setelah merapikan celananya. Lalu pergi ke toilet dan membasuh wajahnya, kepalanya mulai terasa berat karena sebelum datang ke klub, dia telah menghabiskan sebotol wine dengan kadar alkohol tinggi.
Kakinya melangkah kembali ke dalam ruangan, dia duduk di bar dan kembali meminta minuman pada bartender. Setelah meneguk beberapa gelas, dia turun ke lantai dansa dan menggerakkan tubuhnya. Membuka beberapa kancing kemeja yang dipakai hingga dadanya yang bidang menggoda para wanita.
Kedua manusia itu ingin melupakan masalahnya. Mereka kembali meneguk minuman sampai benar-benar mabuk dan tak lagi mampu menatap lawan bicaranya. Pria dan wanita yang sama-sama dalam keadaan mabuk itu terlihat meliukkan tubuhnya bersama. Terlihat dekat dan begitu mesra seperti sepasang kekasih.
...✿✿✿...
“Sial, apa yang kulakukan semalam.”
Yemima yang baru saja bangun terkejut dengan keadaannya yang polos. Dia menatap sekitar dan menyadari bahwa ini bukanlah kamar di apartemennya. Ini hotel.
Dia meneguk segelas air yang ada di atas nakas lalu kembali merebahkan tubuhnya sambil menutup mata. Kepalanya masih sangat pusing saat dia mencoba mengingat sesuatu.
Ini memang bukan pertama kalinya, jadi dia tidak terlalu bereaksi berlebihan. Lagipula kegiatan itu menyenangkan dan membuat ketagihan. Di luar negeri, kehidupan bebas seperti ini memang hal biasa. Bahkan setiap malam dia bisa berganti pria saat tengah mabuk.
Kehidupan barat memang tidak cocok dengan budaya timur, tetapi di manapun tempatnya pasti ada segelintir orang yang melakukan hal seperti itu.
Yemima mendengar suara pintu terbuka, dia masih menetralkan rasa pusing di kepala jadi memilih tetap diam.
“Kau sudah bangun?” tanya suara seorang pria yang tak asing di telinga.
Yemima membuka matanya perlahan dan menoleh, dia terkejut melihat siapa yang ada di depan matanya.
“Kau! Apa yang kau lakukan!”
To Be Continue ....