Affair With CEO

Affair With CEO
Penyatuan kerinduan



Matahari semakin terik, cuaca begitu panas hingga tubuh rasanya seperti terbakar. Musim kemarau telah usai, awal november dimulai dengan musim penghujan.


Hampir setiap hari hujan mengguyur dan membasahi bumi. Pagi menjelang siang cuaca akan begitu terik dan panas, lalu setengah hari kemudian hujan lebat disertai petir dan angin yang lumayan kencang.


Siang itu Kirana ada di halaman rumah sambil ngobrol dengan Massayu dan Diah saat Kendrick pulang sendirian.


Saat ditanya mengapa dia pulang lebih awal, jawabannya hanya sederhana. Karena ingin dan sedang malas bekerja.


Orang kaya memang berbeda.


“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Ken?” tanya Kirana yang melihat suaminya tampak begitu bahagia bermain bersama dengan baby Ricky.


“Enggak apa-apa. Jangan curiga dan mikir yang enggak-enggak deh,” jawab Kendrick dan bangkit dari posisinya yang tengah berbaring.


“Siapa juga yang curiga, aku cuma tanya loh.” Kirana menatap suaminya tajam.


“Iya-iya, istriku ini sensitif sekali.”


Kirana mendekat lalu duduk di tepi ranjang, dia menatap baby Ricky yang mulai aktif. Bayi menggemaskan itu kini tampak berisi, kedua pipinya tampak gembul.


“Tampan sekali,” pujinya sambil menyentuh dagu bayinya.


“Jelas tampan, benihnya premium.”


Kirana memutar bola matanya malas. Dia menatap suaminya yang tampak mengedipkan mata menggoda.


“Oh, ya, bagaimana dengan orang-orang itu?” Yang dimaksud Kirana adalah orang-orang yang menjebaknya.


“Jangan dipikirkan.”


“Sudah, tapi tetap saja kepikiran.”


“Kamu hanya cukup percaya padaku dan semuanya akan baik-baik saja, oke? Aku nggak bisa membiarkanmu turut andil, ini bukan masalah sederhana, Kiran.” Kendrick bukannya tidak mau dibantu atau tidak bersyukur bahwa istrinya itu mau turun tangan. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, dia tidak mau istrinya terlibat dalam masalah pelik ini.


“Aku juga takut kamu terluka.”


Senyum Kendrick tampak begitu lebar, dia menarik istrinya ke dalam pelukan.


“Aku akan baik-baik saja.”


“Aku sangat takut kehilangan kamu, Ken.”


“Aku adalah suamimu dan selamanya akan menjadi suamimu. Apa yang telah disatukan oleh Tuhan nggak akan bisa dipisahkan oleh manusia yang hanya makhluk ciptaannya.”


Entah mengapa Kirana melihat bahwa suaminya itu menanggapi hal ini dengan begitu santai. Apa yang tidak diketahui?


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.”


“Ngomong-ngomong kamu sudah tahu siapa yang mengirim hadiah untuk Ricky?” tanya Kirana mengalihkan pembicaraan.


Kendrick terdiam, dia tidak langsung menjawab justru menggoda Kirana dengan menyentuh dan meremas dua gunung kembarnya.


Pria itu memeluknya erat hingga sang istri hanya bisa terkekeh karena rasa geli yang mendera.


Sebenarnya Kendrick tidak tahu pasti siapa yang mengirimkan hadiah itu. Namun, dia menduga bahwa itu adalah ulah seseorang yang diam-diam ikut bahagia mendengar kelahiran putranya.


Namun, terlalu gengsi untuk datang dan memberikannya sendiri.


“Hentikan, Ken!” pekik Kirana kesal.


“Tidak akan,” bisik Kendrick sensual.


Kendrick memanggul istrinya di bahu seperti membawa sekarung beras. Dia melangkah keluar lalu memanggil Wina untuk menjaga bayinya.


“Tidak!!!”


“Hujan-hujan begini musimnya berkembang biak, ayo buatkan adik untuk anak-anak.”


Brak!


Kendrick menutup pintu kamarnya dan mengurung istrinya di dalam kamar.


...✿✿✿...


Kirana terbangun saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Suaminya datang dengan nampan penuh berisi makanan.


Sebelumnya saat memeriksakan baby Ricky, dia sempat berkonsultasi dengan dokter terkait hubungan suami istri. Setelah melihat jahitan di perutnya rapi dan tidak ada keluhan apa pun, dokter mengatakan tidak masalah untuk melakukannya. Namun, tetap harus diingat bahwa suaminya harus hati-hati.


Tubuhnya yang remuk dipaksa bangun, tangannya mengambil segelas air dan meneguknya sebagian. Dia menatap suaminya tajam lalu berkata, “Kenapa nggak bangunin aku!”


“Tidurmu sangat nyenyak. Kamu pasti begitu lelah, aku nggak mau menganggu.”


Tentu saja lelah, kamu menggempur habis-habisan dan tak memberikanku waktu istirahat.


Kirana pikir suaminya itu benar-benar begitu merindukan sebuah keintiman di atas ranjang hingga melupakan bahwa dia baru melahirkan.


“Anak-anak sudah tidur?”


“Sudah. Ricky ada di kamar, dia harus mulai belajar tidur di kamarnya sendiri.”


Kendrick menyerahkan sebuah tablet yang tersambung dengan CCTV di kamar baby Ricky untuk memantaunya.


“Aku nggak tega, Ken.”


“Ini untuk kebaikannya. Kita memantaunya dari sini, jika dia menangis kita bisa mendengarnya dan datang ke sana.”


Mereka memiliki pemikiran berbeda dalam tumbuh kembang baby Ricky. Kirana lebih dominasi pada perasaan tak tega.


“Dulu Rina dan Lina nggak gitu juga,” katanya pelan.


“Setiap tahun berubah, Kiran. Kita mengasuh anak-anak mengikuti zaman yang semakin berkembang.”


Kirana mengangguk, itu memang benar. Ilmu parenting memang harus diupgrade agar bisa tahu bahwa banyak metode yang bisa dilakukan untuk menemani tumbuh kembang si kecil.


“Datanglah ke sini dan ayo makan. Aku juga lapar,” kata Kendrick.


“Kamu belum makan?”


“Aku menunggumu.”


Seulas senyum hangat terbit di bibirnya. Kirana turun dari ranjang dengan tubuh polos lalu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, tak lama dia keluar dengan mengenakan kimono lalu menghampiri suaminya.


Mereka berdua makan dengan tenang. Sesekali ada gelak tawa dari bibirnya saat mendengar ucapan suaminya.


“Besok anak-anak mau datang,” kata Kendrick.


“Siapa?”


“Alfred, Sean, Willy dan Indra.”


“Oke, biar nanti aku suruh masak banyak. Tumben sekali.”


“Katanya mau lihat Ricky. Mereka itu kurang ajar sekali, bayi sudah hampir tiga bulan mereka baru melihatnya. Dasar teman-teman laknat,” omel Kendrick dengan gaya menyebalkan.


Bahkan setiap hari Indra yang selalu menemaninya belum sekali pun menengok Ricky. Padahal sudah sering kali dia datang ke rumah ini.


“Mungkin mereka baru ada waktu luang sekarang. Jangan kayak gitu lah. Setidaknya mereka sudah berniat baik,” kata Kirana memperingati.


“Awas saja kalau mereka nggak datang dengan membawa hadiah, aku akan mengusir mereka.”


Kirana hanya menggelengkan kepala. Dia segera membereskan meja dan membawa piring kotor ke dapur.


Sebelum kembali ke kamar Kirana sempat menghampiri kamar anak-anaknya untuk melihat.


“Lama sekali,” kata Kendrick.


“Mampir ke kamar anak-anak sebentar.”


Kendrick sudah melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya. Lalu menyeringai ke arah istrinya. “Bagaimana jika kita lakukan sekali lagi sebelum tidur,” katanya dengan tatapan yang begitu dalam.


Kirana mengerjapkan mata, dia menelan saliva susah payah karena tubuhnya benar-benar masih sangat lelah. Inti tubuhnya bahkan masih terasa perih.


“Ken ....” Suara Kirana goyah.


Terjadilah sesuatu yang memang harus terjadi. Kirana ingin menolak, tetapi tubuhnya berkhianat dengan menginginkan lebih.


Hasilnya suara percintaan itu memenuhi kamar. Suara indah dari bibir keduanya bagaikan melodi yang indah di tengah keheningan malam.


To Be Continue ....