Affair With CEO

Affair With CEO
Bahagia



Kirana langsung berlari menghampiri pria yang sangat dirindukan. Tangannya memeluk erat pria itu memastikan itu bukan ilusi sesaat. Dia takut ini hanya mimpi dan akan kembali ditinggalkan ketika sadar.


Tangis Kirana pecah di dada bidang pria yang telah mengambil hampir setengah kewarasannya. Dapat dirasakan ada sebuah tangan kekar yang mengusap punggungnya.


“Stay with me, don’t go anymore,” ucap Kirana lirih dengan suara bergetar.


Pria itu tak menjawab, dia hanya mengusap punggung wanitanya dengan lembut dan penuh kasih. Bibirnya mengecup puncak kepala wanita itu penuh kerinduan.


“Tetaplah bersamaku.”


“You are my everything, Kiran.”


“Berjanjilah.”


“I’m promise.”


“Kau membuatku seperti orang gila, Aska Kendrick Rusady!”


Kirana memukul dada suaminya. Pria yang telah menghilang berbulan-bulan lamanya dan telah dikabarkan tiada. Kini berdiri dengan keadaan yang sehat dan tak kekurangan satu apa pun.


“Maaf,” kata Kendrick lirih.


“Jangan pergi lagi.”


Kendrick mengangguk dan membawa Kirana kembali ke sofa di mana semua orang menatap mereka dengan mata yang berkabut.


Diah menatap Kendrick tak berkedip, meneliti penampilannya yang masih terlihat seperti biasa. Matanya telah basah oleh air mata yang tak bisa dicegah. Senang sekaligus bahagia melihat putranya kembali dalam keadaan yang baik.


“Kamu membuat kami semua khawatir. Bagaimana kabarmu, Ken?” tanya Diah dengan gemetar.


Tanpa aba-aba Kendrick langsung memeluk Diah, membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Ada perasaan bersalah dalam diri Kendrick, tetapi semuanya dilakukan karena sebuah sebab, bukan tanpa alasan.


“Maafkan aku, Ma. Maaf telah membuatmu khawatir.”


“Itu bukan masalah. Asal kamu baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih telah kembali, Ken.”


Kendrick dapat merasakan tubuh Diah yang bergetar, meskipun isak tangis tak lagi terdengar.


Tak lama kemudian Hanin datang membawa Ricky. Untuk beberapa saat dia mematung dan memastikan pengelihatannya tak bermasalah. Berkali-kali matanya mengerjap untuk memastikan yang dilihat benar-benar nyata.


“Kendrick,” ucap Hanin membuat semua mata menoleh. Pria paruh baya itu segera mengambil langkah seribu untuk mendekat dan berdiri berhadapan dengan putranya. “Akhirnya kamu pulang juga. Papa cemas sekali denganmu, tapi kami semua yakin bahwa kamu baik-baik saja.”


Kendrick memberikan senyum, dia merengkuh Hanin dan Diah ke dalam dekapannya. Untuk beberapa saat suasana menjadi begitu mengharukan.


Kendrick menatap Ricky, putranya bersama dengan Kirana yang sangat dirindukan. Baru beberapa bulan lamanya, tetapi bayi kecil itu kini sudah tumbuh menjadi balita yang begitu tampan juga menggemaskan.


“Putra papa,” ucapnya memeluk sang putra dan mengangkatnya tinggi-tinggi dengan senyum lega.


Kembalinya Kendrick berhasil membuat senyum dan kebahagiaan kembali di rumah itu. Sangat kontras dan berbanding terbalik dengan keadaan di luar sana yang telah kacau karena terbongkarnya skandal panas perselingkuhan Sisil dan Axel.


Mengalirlah cerita tentang bagaimana akhrinya Kendrick bisa selamat dari kecelakaan tersebut. Juga tentang campur tangan Rajendra yang selama ini membantunya.


Diam-diam Rajendra-lah orang yang selalu memberinya dukungan, meskipun harga dirinya terlalu tinggi untuk sekadar mengakui itu.


Semuanya terungkap dan sedikit ada penyesalan di hati Kendrick karena telah menuduh ayah kandungnya.


Sementara Diah, wanita itu tak berhenti mengumpat dan menyumpah atas perbuatan buruk dan kejam yang dilakukan Sisil. Bahkan wanita paruh baya itu tak segan menyebut Sisil sebagai iblis wanita.


...✿✿✿...


Suasana di rumah itu tampak begitu hangat dan hidup. Kendrick mencurahkan kerinduan pada ketiga anaknya dengan mendekap mereka erat. Padahal baru beberapa waktu saja, tetapi seperti sudah sangat lama.


Seusai makan malam mereka sengaja menghabiskan waktu di ruang keluarga dengan banyak cerita.


Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kirana pamit lebih dulu untuk mengantarkan anak-anaknya untuk kembali ke kamar.


Kendrick menatap empat sahabat baiknya dengan senyum tipis di wajah. Dia sangat beruntung memiliki mereka yang bisa diandalkan. Membantunya dan tak meninggalkan keluarganya meskipun tidak ada hubungan darah di antara mereka.


“Melihatmu seperti itu kok seram, ya,” celetuk Sean yang ditunjukkan untuk Kendrick.


“Sialan,” umpat Kendrick dengan ekspresi yang berubah datar.


“Jadi apa rencanamu setelah ini, Ken?” tanya Hanin serius.


“Rencana apa, Pa? Nggak ada rencana apa pun,” elaknya dengan menggelengkan kepala.


Tak lama Diah dan Hanin pamit kembali ke kamar untuk istirahat, meninggalkan para pria muda yang sepertinya masih ingin bicara banyak hal.


“Thanks untuk semuanya,” kata Kendrick membuat keempat pria itu menggeleng pelan.


Sean, Alfred, Indra dan Willy tampak menatap aneh.


“Kamu benar Kendrick, kan? Jika bukan, tolong keluarlah dan pergi dari tubuh sahabatku. Dia sudah cukup kehilangan akal, jangan membuatnya menjadi benar-benar menjadi gila.” Alfred meniup udara ke arah Kendrick dengan tatapan heran.


“Sialan,” pekik Kendrick sambil melempar bantal sofa ke arah sahabatnya.


“Dua induk sudah dibereskan. Bagaimana dengan anaknya?” tanya Sean serius.


“Biarkan polisi yang mengurusnya. Kupastikan mereka semua akan mendekap dalam sel tahanan seumur hidupnya.” Seringai di wajah Kendrick tampak menyeramkan. “Kalian menginap, kan?”


“No! Aku ada janji. Kau sudah kembali, kami nggak dibutuhkan lagi di sini,” kata Sean sambil tersenyum tipis.


“Benar, sudah waktunya kami pergi melepas rindu di atas ranjang dengan para wanita,” timpal Alfred ikut mengangguk.


“Kami nggak ikutan. Kami berdua akan pergi ke bar saja. Bukan begitu, Wil?”


Willy mengangguk saja. Benar, mereka memang kehilangan waktu sejak Kendrick menjalankan rencana gilanya.


“Brengsek! Pergi kalian,” usir Kendrick yang langsung dituruti keempat pria tampan itu tanpa bantahan.


Sepertinya mereka pun mengerti bahwa Kendrick juga perlu waktu untuk melepas rindu pada istrinya.


To Be Continue ....