
“Deal!”
Pria dengan wajah tampan tersebut mengangguk puas.
“Kau hanya perlu mengganggunya atau memberikan teror, buat mereka merasa tidak aman. Jika bisa buat mereka berselisih paham, kau mengerti Tuan Zidan Pranadipa?”
“Ya, saya mengerti.”
“Tutup mulutmu atau kau akan tahu akibatnya!”
“Baik.”
Pria dengan wajah tampan itu melemparkan selembar cek bernilai fantastis. “Lakukan dengan baik atau kau akan menyesal telah mengkhianatiku!”
Zidan gemetar melihat aura pria di hadapannya. Namun tidak ada pilihan lain, ini jalan kebebasannya. Dia muak berada di balik sel yang dingin, ini satu-satunya cara dirinya bisa menghirup udara bebas.
Setelahnya Zidan pergi bersama dengan ibu dan istrinya. Menumpangi sebuah taksi, senyum mereka semakin melebar melihat nilai uang yang diberikan.
“Lakukan tugasmu dengan baik, Mas. Jangan mengecewakan,” ucap Luna dengan senyum lebar. Dia masih saja tetap menjadi wanita yang lebih suka uang dibandingkan dengan suaminya sendiri.
“Diam, semua ini gara-gara kamu!” bentak Zidan kasar.
“Sudah deh, jangan bertengkar. Lebih baik kamu pikirkan cara membuat kekacauan. Kita sudah ditunjang banyak uang, jangan sampai gagal.”
“Kamu sama aja, Bu!” Zidan merenggut kesal, selama di penjara bisa dihitung jari berapa kali mereka mengunjunginya.
“Kita bisa membawa Nina berobat ke rumah sakit yang lebih baik. Ibu nggak sabar supaya Nina cepat sembuh.”
“Masih aja ngurusin anak gila itu,” gerutu Zidan malas.
Entah keluarga seperti apa mereka. Saat senang mereka kompak melakukan banyak hal, tetapi ketika salah satunya membuat kesalahan, mereka jadi saling membenci dan mencaci.
Bukan salah anak, semuanya tergantung dengan apa yang diajarkan orang tua. Ajeng berhasil membuat keluarganya sendiri berantakan hanya karena satu alasan, Kirana.
Sementara di sisi lain. Di dalam mobil yang masih terparkir di dekat restoran tadi.
“Bagaimana?”
Pria itu mengangguk. “Apa yang membuat mommy membenci istri Kendrick?”
“Kamu harus kembali pada keluarga Rusady. Mommy sedang mengusahakannya,” sahut wanita itu dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
“Mommy tidak akan bisa melawan daddy.”
“Bukan mommy yang akan melawannya, tapi anaknya sendiri,” sahutnya dengan bibir menyeringai.
“Maksud mommy Kendrick?”
“Ya.”
“Bersabarlah anakku, kau akan mendapatkan apa yang selama puluhan tahun ini tidak kau dapatkan.”
“Sure, Mom.”
...✿✿✿...
“Nggak perlu teriak, Kiran. Aku nggak tuli, aku bisa dengar suara kamu,” sahut Kendrick yang kemudian mendekat ke arah sofa.
“Istri cantikku ini mau apa hm? Ngomong aja.”
“Enggak mau apa-apa, cuma mau dipeluk aja. Boleh nggak?”
Kendrick tersenyum dan membawa sang istri ke dalam pelukan. Menciumi puncak kepalanya berkali-kali sambil bergumam kata sayang yang terdengar manis.
Tangan Kirana membelai dada bidang sang suami hingga turun ke arah sesuatu dibalik celana yang mulai mengembang.
“Jangan nakal,” desis Kendrick menahan tangannya.
“Cuma mau pegang lho,” sahut Kirana dengan wajah ditekuk.
“Nanti kalau bangun nggak bisa ehem-ehem.”
“Aku bisa membantu dengan cara lain,” sahut Kirana dengan senyum menggoda.
“Istriku mulai nakal ya.”
Dengan cepat tangan Kirana menyelinap dibalik piyama yang dipakai suaminya. Tangannya mengusap sesuatu yang makin lama makin besar, mengembang dan semakin terasa menegang.
“Bagaimana jika aku membantumu, Ken?” tanya Kirana, meniupkan udara ke cuping telinga sang suami.
“Ya, lakukanlah.”
Tanpa menunggu waktu lebih lama, Kirana langsung menunduk, mengulum benda yang sedari tadi tegak menantang hanya karena sapuan tangannya.
Dia menyadari bahwa hasrat suaminya terlalu tinggi hingga membuatnya merasa kasihan jika pria itu harus menahan diri terus menerus.
Percayalah, menahan gairah yang tak tersalurkan itu membuat sakit kepala, kemudian membuat emosi tak stabil.
Suara nyanyian cinta dari bibir Kendrick terus terdengar, kepalanya bahkan menunduk hanya untuk mengamati wajah sang istri yang begitu menggoda.
Bohong jika dia mengatakan tidak menginginkan hal nikmat tersebut, tetapi kadang kala dia tak bisa bersikap egois dengan hanya mementingkan diri sendiri, sementara sang istri sedang menjaga buah hatinya.
Gerakan Kirana semakin lama semakin cepat, membuat Kendrick menarik rambutnya dengan lumayan keras, tubuh pria itu menegang sebelum akhirnya memuntahkan benihnya sesaat setelah dia melepaskan mulutnya.
“Damned, kau benar-benar luar biasa, Kiran. Makasih, maaf jika aku menyakitimu,” ucap Kendrick setelah membersihkan diri.
“It's okay. Sekarang peluk, karena aku ingin tidur dalam dekapanmu.”
Kendrick mengangguk. Membawa sang istri ke dalam pelukan dengan menjadikan lengannya sebagai bantal.
“Good night, My Wife.”
Kirana hanya tersenyum saat merasakan pipinya terasa hangat oleh sebuah kecupan.
Malam semakin merangkak naik, membuat keduanya terlelap dengan tenang tanpa tahu bahwa esok pagi akan ada banyak kejadian yang harus dihadapi.
To Be Continue ....